Dusun Kragilan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, menginisiasi upaya pengelolaan sampah berbasis partisipatif melalui pembuatan keranjang sampah botol plastik dan pengadaan tungku sampah sebagai respons atas keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah di tingkat desa. Inisiatif ini mulai dijalankan pada 19 Januari 2025 sebagai bentuk perhatian bersama terhadap persoalan lingkungan yang selama ini dihadapi warga.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro TIM 1 Sub Tim 94 merancang dan melaksanakan program pemanfaatan nilai ekonomis sampah botol dan gelas plastik. Sampah plastik jenis tersebut dipilah dan dikumpulkan melalui keranjang khusus untuk kemudian dijual ke pengepul. Hasil penjualan direncanakan dapat dimanfaatkan sebagai kas RT atau RW, sehingga pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Program pengelolaan sampah plastik bernilai ekonomis ini merupakan program yang dirancang dan difasilitasi langsung oleh KKN Undip.

Sementara itu, pembuatan tungku sampah merupakan inisiatif warga Desa Kragilan yang muncul dari hasil rembug warga yang dilaksanakan pada harii Senin, 19 Januari 2026 . Gagasan tersebut lahir dari kebutuhan warga akan alternatif pengelolaan sampah rumah tangga di tengah ketiadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di desa. Dalam konteks ini, mahasiswa KKN Undip berperan sebagai fasilitator dengan membantu penyusunan desain dan perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) berdasarkan kebutuhan serta kesepakatan warga.

Dalam merespon persoalan pengelolaan sampah pada Desa Kragilan yang masih bersifat individu serta belum adanya kesepakatan bersama warga terkait bagaimana pola penanganan sampah, mahasiswa KKN Undip TIM 1 Sub Tim 94 dari Program Studi Perencanan Wilayah dan Kota (PWK) menginisiasi adanya program Rembug Warga Eco-Circle sebagai ruang dialog perencanaan partisipatif di Desa Kragilan. Adanya keterbatasan ruang diskusi membuat penyelesaian persoalan sampah masih diselesaikan secara individu rumah tangga dengan dibuang ke sungai atau dibakar, tanpa solusi kolektif yang terarah. Berangkat dari pendekatan perencanaan partisipatif yang menjadi fokus keilmuan PWK, Rembug Warga dinilai penting dalam mempertemukan kesepakatan kolektif dari berbagai sudut pandang, memvalidasi persoalan bersama, dan merumuskan alternatif solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Rembug Warga Eco-circle dilaksanakan melalui metode Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan Kadus, Ketua RT/RW, Ibu-ibu PKK, dan pemuda pemudi Desa Kragilan. Dalam kegiatan Rembug Warga mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang memaparkan rencana awal berbasis partisipatif yang telah disusun, lalu dilanjutkan dengan forum diskusi sebagai ruang dialog warga. Rembug Warga menjadi upaya dalam ruang perencanaan awal yang ingin melibatkan partisipasi warga secara aktif dalam menyelesaikan persolan bersama, sehingga program yang akan dilaksanakan tidak besifat sepihak. Dari Rembug Warga yang dilaksanakan ini muncul kesepakatan bersama, yaitu dengan penciptaan tempat sampah botol plastik yang memiliki nilai ekonomis jika dijual, pembuatan ecobrick, serta inisiati pembuatan tungku sampah dari warga dalam mengatasi keterbatasan  pengelolaan sampah. Gagasan ini merupakan inisiatif dari warga yang telah disepakati bersama dalam forum diskusi, sementara selanjutnya mahasiswa KKN Undip akan berperan sebagai fasilitator yang mengkoordinasikan proses keberlanjutan program serta mengajak warga agar terlibat langsung dalam pelaksanaan program sebagai bentuk dari pemberdayaan yang dilakukan.

Ketiadaan TPS di Desa Kragilan selama ini membuat warga mengandalkan alternatif mandiri dalam mengelola sampah, salah satunya dengan membakar sampah di lahan kosong. Namun, keterbatasan lahan dan kondisi musim hujan menyebabkan metode tersebut tidak selalu dapat dilakukan secara optimal. Kondisi ini kemudian berdampak pada munculnya sejumlah titik di sepanjang badan sungai yang menjadi perhatian bersama terkait penumpukan sampah.

Beberapa titik tersebut antara lain berada di tanggul penghubung Dusun Kragilan dengan Dusun Teluk, Dusun Kragilan dengan Dusun Balong, serta di sepanjang aliran Sungai Dengkeng dan Sungai Birin. Situasi tersebut dipahami sebagai konsekuensi dari keterbatasan pilihan pengelolaan sampah yang tersedia, terutama bagi warga yang tidak memiliki lahan memadai.

 

Melalui pendekatan partisipatif ini, mahasiswa KKN Undip TIM 1 Sub Tim 94 berharap program pemanfaatan sampah plastik bernilai ekonomi dapat berjalan berkelanjutan dan dikelola secara mandiri oleh warga. Penyerahan sarana berupa keranjang sampah botol dan gelas plastik serta hasil fasilitasi desain tungku sampah kepada warga Desa Kragilan direncanakan akan dilaksanakan pada 7 Februari 2026 sebagai penanda penguatan pengelolaan sampah berbasis kesepakatan bersama.

Editor: Handayat

Tag