Semarang – Di era digital yang serba cepat ini, anak-anak tumbuh di tengah banjir teknologi—dari gawai, aplikasi, hingga internet—yang akrab digunakan sejak usia dini. Namun, menjadi pengguna teknologi saja tidak cukup. Agar mereka mampu beradaptasi dan berkontribusi di masa depan, anak-anak perlu dibekali dengan pemahaman tentang cara kerja dan pola pikir di balik teknologi itu sendiri. Salah satu kuncinya terletak pada kemampuan berpikir komputasional: kemampuan menyusun langkah secara sistematis, mengenali pola, serta memecahkan masalah secara logis. Kemampuan ini dapat ditanamkan sejak dini melalui pengenalan konsep coding sederhana sebagai sarana melatih berpikir kritis dan terstruktur. Dari sinilah muncul gagasan untuk mulai memperkenalkan konsep tersebut di tingkat taman kanak-kanak—sebagai pondasi penting dalam menghadapi tantangan dunia digital ke depan.
Sayangnya, kemampuan-kemampuan ini belum banyak dilatih secara terarah pada anak usia dini. Aktivitas belajar yang mendukung pola pikir logis kerap kali dianggap terlalu rumit untuk anak-anak, padahal jika disampaikan dengan pendekatan yang tepat dan menyenangkan, mereka justru bisa memahami konsep dasar dengan baik.
Menjawab tantangan tersebut, salah satu mahasiswa KKN Universitas Diponegoro yakni Abdurrahman Rais dari prodi Matematika merancang Modul Coding Sederhana dan menyerahkannya kepada guru dan anak-anak di TK Negeri Gayamsari, Kelurahan Kaligawe, Kota Semarang pada tanggal 31 Juli 2025.

Modul ini disusun dengan pendekatan belajar sambil bermain, dan kontennya disesuaikan dengan karakteristik anak usia taman kanak-kanak. Materi yang diberikan belum mengarah ke penggunaan komputer, tetapi berfokus pada pengenalan pola, urutan instruksi, serta logika dasar. Semuanya dikemas melalui aktivitas interaktif seperti mewarnai, bermain peran, dan juga permainan pesan rahasia atau kriptografi sederhana. Tujuannya adalah untuk menstimulasi kemampuan pemecahan masalah serta berpikir kritis, sekaligus meningkatkan perkembangan kognitif anak melalui metode yang menyenangkan dan kreatif.
Pada hari pelaksanaan program, mahasiswa KKN secara langsung menyerahkan modul-modul tersebut kepada para guru TK Negeri Gayamsari. Penyerahan dilakukan di ruang kelas bersama dengan penjelasan singkat tentang cara penggunaan modul dalam proses belajar mengajar. Para guru juga diberikan contoh implementasi modul dalam kegiatan harian, sehingga tidak hanya menjadi dokumen bacaan, tetapi benar-benar bisa dipraktikkan di ruang kelas.
Modul ini tak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga dirancang sebagai panduan pembelajaran untuk para guru. Harapannya, materi dalam modul bisa digunakan secara berkelanjutan, bahkan setelah program KKN selesai.
Ibu Surahmi, selaku Kepala TK Negeri Gayamsari, menyambut baik inisiatif ini.
“Modul ini sangat relate untuk diajarkan sedari TK karena dapat membantu kanak-kanak berpikir kritis dan melatih problem solving. Di sisi lain, pada tahun 2025 ini, di TK Negeri Gayamsari memang direncanakan mulai mengenalkan materi coding untuk anak-anak, tentu dengan metode yang sederhana dan menyenangkan,” ujarnya.
Sebagai penyusun modul sekaligus penggagas, Rais percaya bahwa coding bukan hanya soal komputer, melainkan soal cara berpikir — bagaimana menyusun langkah, menyelesaikan masalah, dan berpikir secara terstruktur. Nilai-nilai seperti inilah yang bisa dibentuk sejak dini dan akan menjadi bekal penting bagi anak-anak, apapun jalur kehidupan yang mereka tempuh di masa depan.
“Anak-anak zaman sekarang sudah akrab dengan gawai, tapi belum tentu paham cara berpikir di balik teknologi itu. Modul ini harapannya jadi sarana awal yang menyenangkan untuk mengenalkan pola pikir logis tanpa membuat mereka merasa belajar hal yang sulit,” ujar Rais dalam kesempatan tersebut.









