JATENGKU.COM, Surabaya — Walaupun jarang tersorot di dunia saat ini, ada sebuah instansi yang menjanjikan untuk tampil lebih menawan, karena dari sanalah senyum sehat dan gigi yang kuat terbentuk indah oleh suatu peranan penting dalam dunia kesehatan gigi. Yap, tentu saja seorang tekniker gigi.
Mungkin memang banyak yang belum tahu tentang tekniker gigi ini, mereka adalah tenaga ahli yang bertugas merancang, membuat, dan memperbaiki alat-alat gigi tiruan seperti gigi palsu, kawat gigi, maupun pelindung gigi (mouthguard). Peranan seorang tekniker gigi jelas berbeda dengan dokter gigi, mereka lebih fokus di balik layar, dan hasil karyanya-lah yang mempengaruhi kepercayaan diri dan kenyamanan banyak orang.
Profesi Penting yang Masih Sering Terlupakan Masyarakat

Pekerjaan ini kerap berada di balik layar, namun kontribusinya sangat besar dalam dunia kesehatan gigi dan mulut. Sayangnya, sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum memahami siapa tekniker gigi, apa perannya, dan sejauh mana kompetensinya dalam mendukung layanan kesehatan.
Tekniker gigi—dikenal juga sebagai dental technician atau teknolog gigi—adalah tenaga profesional yang bertanggung jawab membuat, memperbaiki, dan menyesuaikan berbagai alat prostetik dan ortodontik. Mulai dari gigi tiruan, mahkota gigi, jembatan gigi, splint, hingga alat pelindung mulut. Semua perangkat yang membantu pasien mendapatkan fungsi pengunyahan, estetika, dan kenyamanan kembali, diproduksi melalui keterampilan tangan dan teknologi seorang tekniker gigi.
Namun, peran penting ini sering kali tenggelam oleh anggapan bahwa semua urusan gigi hanya ditangani oleh dokter gigi. Minimnya publikasi, kurangnya sosialisasi profesi, serta keterbatasan informasi di masyarakat membuat tekniker gigi jarang mendapat pengakuan yang setimpal. Tidak sedikit yang bahkan menyamakan tekniker gigi dengan tukang gigi, padahal keduanya memiliki landasan ilmu, legalitas, dan tanggung jawab yang berbeda jauh.
Kurangnya pemahaman ini memunculkan sejumlah dampak. Masyarakat masih rentan tertipu layanan ilegal yang mengatasnamakan tekniker gigi tetapi tanpa lisensi dan bukan bagian dari sistem layanan kesehatan. Akibatnya, banyak kasus pemasangan gigi tiruan bermasalah, kerusakan jaringan mulut, hingga infeksi yang muncul akibat perangkat yang tidak memenuhi standar medis. Padahal, tekniker gigi resmi bekerja berdasarkan resep dokter gigi dan mengikuti standar ketat agar perangkat yang dihasilkan aman dan layak digunakan pasien.
Dalam situasi ini, edukasi menjadi kunci. Masyarakat perlu mengenal lebih dekat profesi tekniker gigi agar dapat membedakan mana layanan yang resmi, mana yang merugikan. Selain itu, peningkatan pemahaman publik akan membuka ruang yang lebih besar untuk penghargaan terhadap profesi ini—mulai dari regulasi yang lebih kuat, kolaborasi lintas profesi, hingga kesempatan kerja yang lebih layak.
Tekniker gigi bukan sekadar pembuat alat, tetapi seniman sekaligus tenaga kesehatan yang memastikan kualitas hidup seseorang bisa kembali pulih melalui senyum yang fungsional dan estetis. Dengan memahami peran mereka, kita turut mendukung terciptanya layanan kesehatan gigi yang lebih aman, profesional, dan terpercaya.
Sebuah Pelajaran di Laboratorium Gigi
Dalam pengamatan yang saya lakukan di salah satu Dental Lab di Surabaya, suasana yang nyaman dapat segera saya rasakan, atmosfer yang penuh konsentrasi namun menghangatkan segera terasa di ruangan itu. Seorang tekniker gigi, sebut saja Kak Dinda, tengah sibuk memeriksa model gigi pasien yang terbuat dari gipsum. Dengan alat-alat kecil dan presisi tinggi, ia menyesuaikan bentuk dan warna gigi tiruan agar terlihat alami.
“Kita harus teliti nih,” ujarnya sambil tersenyum tipis. “Soalnya kalau ada sedikit perbedaan ukuran, pasien bisa ngga nyaman waktu pakai gigi tiruan ini.” lanjutnya. Dari pengamatan itu, saya melihat bahwa setiap tahap pada pekerjaan ini dilakukan dengan ketelitian yang luar biasa, dimulai dari membaca rekaman data cetakan gigi dari dokter gigi, membuat model kerja, mencetak prostesis, hingga pada tahap akhir yang berupa pemolesan agar tampak menyerupai gigi asli.
Pasien adalah Prioritas Utama
Meski sebagian besar waktu dihabiskan di laboratorium, tekniker gigi tetap memiliki peran dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Mereka akan bekerja sama dengan dokter gigi untuk memastikan alat yang dibuat sesuai dengan kebutuhan pasien. Pada situasi tertentu, tekniker gigi juga berkomunikasi langsung dengan pasien untuk menyesuaikan warna gigi tiruan atau memperbaiki alat yang rusak. Pada hasil pengamatan kala itu, saya melihat bahwa pelayanan tekniker gigi tidak hanya berorientasi pada hasil fisik, tetapi juga pada kenyamanan dan kepercayaan diri pasien, saat terdapat rasa kepuasan tersendiri ketika pasien tersenyum lebar setelah menggunakan gigi tiruan milik mereka.
Keterampilan dan Etika Profesional Tekniker Gigi
Profesi tekniker gigi menuntut ketelitian tinggi, kesabaran, dan tanggung jawab atas pekerjaannya. Mereka harus memahami terkait anatomi gigi, bahan kimia yang digunakan, hingga standar keselamatan kerja di laboratorium. Begitu pula etika profesional yang juga dijunjung tinggi, seperti menjaga kerahasiaan pasien, dan bekerja sesuai dengan prosedur medis.
Kesimpulan Hasil Pengamatan
Dari pengamatan di Dental Lab Surabaya, saya menyadari beberapa hal penting terkait tekniker gigi. Mulai dari pelajaran tentang akurasi pembuatan gigi, kemahiran dalam proses pembuatan gigi tiruan, bahkan tentang bagaimana mereka bisa mengembalikan senyum seseorang saat tampil menggunakan gigi barunya yang membuat lebih percaya diri di depan masa. Walaupun jarang sekali nampak di depan semua orang, peranan tekniker gigi ternyata sangat berpengaruh dalam kehidupan. Sebab, dengan adanya mereka bukan hanya sekadar mengembalikan gigi yang lebih baik, tetapi juga sebuah motivasi untuk bertahan lebih lama.
Penulis: Muthiah Sabilal Haq, Mahasiswi Universitas Airlangga











