JATENGKU.COM, Magelang — Di saat permintaan bibit cabai masih tinggi dan peluang usaha terbuka lebar, sebagian pelaku justru memilih mundur. Usaha yang terlihat menjanjikan itu ternyata menyimpan beban kerja berat yang tak semua orang sanggup jalani.

Fenomena ini diungkap Rohmat Nurrohim (53), pendiri CV Rizki Tani Jaya 07 Cabang Tegalrejo. Ia menjadi salah satu pelaku yang “angkat kaki” dari produksi bibit, bukan karena pasar sepi, melainkan karena tekanan di balik prosesnya.

“Pasarnya masih ada, bahkan bagus. Tapi prosesnya itu yang berat—makan waktu, butuh ketelatenan, dan tenaga kerja juga sulit,” ungkapnya.

Sejak bergabung pada 2020, CV Rizki Tani Jaya 07 Cabang Tegalrejo telah bermitra dengan 12 cabang lain, di antaranya yaitu Cabang Blabak, Bandongan, dan Windusari. Dua wilayah terakhir menjadi pusat pembibitan paling aktif.

Dalam masa jayanya, usaha ini mampu menjual 20 hingga 30 baki bibit cabai per hari. Harga jualnya berkisar Rp85.000 per baki isi 400 tanaman dan Rp75.000 untuk isi 360 tanaman. Distribusi pun menjangkau berbagai wilayah, mulai dari Pakis, Kaponan, Bogeman, Sorobayan hingga Kendal.

Namun di balik angka tersebut, realita di lapangan tidak semanis yang terlihat.

Rohmat menilai pembibitan membutuhkan perhatian ekstra sejak awal. Mulai dari penyemaian, perawatan intensif, hingga pengendalian penyakit yang harus dilakukan secara rutin.

“Sedikit lengah, bibit bisa kena virus. Harus dicek terus, bahkan disemprot tiap tiga hari kalau sudah ada tanda-tanda,” jelasnya.

Bibit yang dipasarkan juga tidak bisa asal jual. Setiap baki harus melalui proses sortir ketat, memisahkan tanaman sehat dari yang kerdil atau terindikasi penyakit, seperti munculnya titik-titik hitam pada daun.

Suasana di area distribusi bibit cabai yang menunjukkan ribuan bibit dalam baki yang siap disalurkan ke berbagai wilayah seperti Pakis dan Kaponan.

Selain itu, penggunaan tenaga kerja juga turut menambah beban biaya operasional. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan pelatihan terlebih dahulu bagi para pekerja agar memahami aspek teknis dalam proses pembibitan, sehingga pelaku usaha harus mengalokasikan biaya tambahan untuk pengembangan keterampilan tenaga kerja.

Kini, Rohmat masih tetap menjalankan usaha distribusi bibit cabai. Namun, ia tidak lagi melakukan penyemaian sendiri, melainkan mengambil pasokan dari pelaku usaha lain.

Perubahan strategi ini ternyata berdampak pada permintaan pasar. Ia mengakui, jumlah pesanan yang masuk tidak lagi sebesar saat dirinya masih memproduksi bibit secara mandiri.

“Sekarang tetap jalan, tapi memang permintaan menurun dibanding dulu waktu produksi sendiri. Mungkin karena konsumen sudah terbiasa dengan bibit dari produksi kita,” ujarnya.

Selain itu, tantangan juga datang dari faktor eksternal. Perbedaan kondisi cuaca di wilayah distribusi seperti Pakis dan Kaponan kerap memengaruhi kualitas bibit.

Di sisi lain, keterbatasan tenaga kerja menjadi persoalan krusial yang membuat usaha ini semakin berat dijalankan.

“Kalau dibandingkan dengan tanam sampai panen, hasilnya itu lebih cepat kelihatan. Kalau pembibitan, prosesnya lama dan harus telaten banget. Selain itu, kalau pakai tenaga kerja juga nambah biaya, karena pekerja nggak bisa langsung kerja—harus dilatih dulu soal teknisnya. Jadi mau nggak mau, biaya yang dikeluarkan juga jadi lebih besar,” tegasnya.

Menariknya, di tengah persaingan usaha, Rohmat tidak melihat pembibit lain sebagai ancaman. Bahkan pelaku usaha yang menerapkan sistem COD dianggap sebagai mitra yang saling mendukung.

“Saya anggap bukan pesaing, tapi teman usaha,” ujarnya.

Meski demikian, secara umum usaha bibit cabai di Magelang masih tergolong prospektif. Tingginya kebutuhan petani terhadap bibit berkualitas membuat pasar tetap hidup.

Fenomena ini menunjukkan satu hal: bukan pasar yang melemah, tetapi tidak semua pelaku siap menghadapi kerasnya proses di balik bisnis pembibitan.

Di tengah peluang yang masih terbuka, hanya mereka yang siap dengan waktu, tenaga, dan ketelatenan yang akan bertahan.

Penulis: Tim 2 PKP Agribisnis
Universitas Tidar

Editor: Handayat

Tag