Ketika Amanah Bank Syariah Diuji oleh Serangan ...

Ketika Amanah Bank Syariah Diuji oleh Serangan Siber

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, Jakarta — Ketika seluruh aktivitas mulai bergantung pada sistem digital, sentuhan jari sudah cukup untuk merubah kehidupan manusia. Semua ini tentu memberikan peluang besar bagi semua industri, termasuk industri keuangan bank syariah agar semakin dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Aktivitas keuangan masyarakat, seperti transfer, membayar tagihan, dan mengecek saldo sudah dapat dilakukan lewat layar ponsel. Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada ancaman baru bagi industri bank syariah yang tidak bisa dianggap sepele: serangan siber. Risiko ini bukan hanya bisa mengganggu layanan saja, tetapi juga menggerus kepercayaan nasabah yang menjadi fondasi utama perbankan syariah. Karena itu, keamanan siber kini bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan utama dalam menjaga keberlangsungan layanan perbankan.

Menurut data BSI bidik yang diambil dari sebuah riset, pengguna mobile banking yang terdiri atas superapp BYOND by BSI dan BSI Mobile telah mencapai lebih dari 10 juta pengguna per tahun 2026. Ini menunjukkan bahwa transformasi digital memang membawa banyak keuntungan bagi industri perbankan syariah. Bank jadi lebih efisien, layanan makin cepat, dan masyarakat pun bisa mengakses produk keuangan dengan lebih mudah. Dalam beberapa tahun terakhir, digitalisasi bahkan menjadi salah satu strategi penting agar bank syariah tetap relevan di tengah perubahan perilaku nasabah yang serba praktis dan serba instan. Namun ironisnya, semakin besar ketergantungan terhadap sistem digital, semakin besar pula peluang munculnya celah keamanan. Setiap aplikasi, server, dan jaringan yang terhubung ke internet berpotensi menjadi pintu masuk bagi pelaku kejahatan siber.

Ancaman siber hadir dalam berbagai bentuk yang sulit dikenali oleh nasabah. Bayangkan, ketika kamu menerima sebuah email ataupun chat yang tampak resmi dari sebuah bank dengan logo resmi dan tampilan yang sangat meyakinkan, terlihat sangat aman bukan? tetapi ketika jari kamu salah mengklik, maka dalam satu detik data pribadi kamu telah jatuh ke tangan pelaku kejahatan. Modus ini dikenal dengan istilah phishing yaitu salah satu ancaman yang peling sering terjadi. Selain itu, ada juga modus lain seperti ransomware, yaitu ketika akses data kamu terkunci dan pelaku meminta tebusan kepada kamu agar akses data tersebut dapat kembali normal. Tidak berhenti disitu, ada juga ancaman malware yang dapat mencuri informasi penting dan merusak sistem secara diam-diam. Berdasarkan laporan OJK, jumlah rekening yang terindikasi adanya aktivitas penipuan digital telah mencapai puluhan ribu sejak beroperasianya Indonesia Anti Scam Centre (IASC).

Bagi perbankan syariah, dampak serangan siber jauh lebih luas daripada sekadar kerugian finansial. Ada aspek kepercayaan yang langsung ikut dipertaruhkan. Bank syariah dibangun di atas prinsip amanah, transparansi, dan tanggung jawab kepada nasabah. Karena itu, ketika terjadi kebocoran data atau gangguan sistem, citra bank bisa langsung terdampak. Nasabah bisa mulai ragu menggunakan layanan digital jika merasa data pribadinya tidak aman. Padahal, kepercayaan adalah salah satu modal terbesar dalam dunia perbankan. Jika kepercayaan itu menurun, proses untuk pulih tidak bisa dilakukan secara instan. Butuh waktu, konsistensi, dan pembuktian bahwa sistem bank benar-benar aman.

Ironisnya, selain mengganggu reputasi, serangan siber juga berdampak langsung pada operasional harian bank. Layanan yang terhenti, transaksi yang tertunda, atau data yang rusak dapat menimbulkan kerugian besar, baik bagi lembaga keuangan maupun nasabah. Dalam beberapa kasus, bank juga harus mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit untuk pemulihan sistem, investigasi insiden, dan peningkatan keamanan setelah serangan terjadi. Artinya, keamanan siber bukan lagi beban tambahan yang bisa diabaikan, melainkan investasi penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis.

Karena itu, bank perlu melakukan pembaruan sistem dan audit keamanan secara rutin agar celah yang mungkin dimanfaatkan pelaku kejahatan bisa segera ditutup. Selain itu, perbankan syariah juga seharusnya sudah mulai membangun cyber resilience agar aktivitas perbankan tetap bisa berjalan normal saat gangguan ataupun serangan terjadi Dengan pendekatan seperti ini, bank tidak hanya bereaksi setelah serangan terjadi, tetapi juga lebih siap mencegah ancaman sejak awal.

Masalahnya, faktor manusia juga punya peran besar dalam keamanan siber. Banyak serangan berhasil bukan karena sistemnya lemah, tetapi karena pengguna kurang waspada. Banyak korban phishing yang berasal dari kelengahan saat mendapatkan kode OTP ataupun whatsapp, terbukti dengan data OJK sepanjang tahun 2024, kasus phishing ada sebanyak 85.414 kasus. Oleh karena itu, pegawai bank perlu mendapatkan pelatihan keamanan siber secara berkala agar lebih siap mengenali modus penipuan dan tahu cara meresponsnya. Nasabah pun perlu diedukasi agar tidak mudah percaya pada tautan mencurigakan, pesan palsu, atau permintaan data pribadi yang mengatasnamakan bank. Literasi digital menjadi kunci penting agar masyarakat tidak menjadi korban dari kejahatan siber yang terus berkembang. Dalam hal ini, kerja sama antara bank, regulator, penyedia teknologi, dan nasabah sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih aman.

Ancaman perampokan bersenjata bukan lagi sebagai gangguan paling berbahaya. Di era digital, cyber security terhadap perbankan justru mendatangkan tantangan nyata yang tidak bisa disepelekan. Bagi nasabah, amanah tidak hanya di ukur dari kepatuhan bank terhadap prinsip yang di emban. Amanah juga berarti memastikan bahwa setiap data dan transaksi nasabah harus dijaga dan terlindungi. Jika kepercayaan nasabah adalah bangunan nya, maka keamanan siber adalah pondasi utamanya.

Firman Setiawan

Penulis: Sabila Sapta Nabilla

Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan