JATENGKU.COM, SEMARANG – Semangat para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kelurahan Pedurungan Kidul, Semarang, kini membara dengan optimisme baru. Melalui program “Edukasi ‘Cerita Produk, Wajah Baru'”, para pelaku usaha lokal mendapatkan pendampingan intensif untuk meningkatkan nilai jual produk mereka.
Program yang diinisiasi oleh Bernardus Adya Widasmara selaku mahasiswa KKN-T 104 Universitas Diponegoro ini disambut dengan antusiasme tinggi dan dinilai sangat membantu dalam membuka wawasan baru seputar kemasan dan pemasaran.
Program ini lahir dari pengamatan sederhana namun krusial: banyak produk unggulan, terutama dari dapur rumah tangga di Pedurungan Kidul, memiliki kualitas rasa yang otentik namun seringkali “terpenjara” dalam kemasan yang seadanya. Akibatnya, produk-produk berkualitas ini kesulitan bersaing dan mendapatkan harga yang pantas di pasar yang lebih luas.

Mengusung konsep “Wajah Baru, Cerita Produk”, program ini berfokus pada dua strategi fundamental yang mudah diterapkan oleh para pelaku UMKM.
Rahasia Pertama: Memberi “Wajah” yang Menjual Lewat Kemasan
Para peserta diajak untuk memahami bahwa kemasan bukan lagi sekadar pembungkus, melainkan “wiraniaga bisu” yang bekerja 24 jam di rak toko maupun di linimasa media sosial. Dalam sesi ini, para pelaku UMKM belajar cara memilih bahan kemasan yang tepat mulai dari standing pouch yang modern, toples kaca yang memberi kesan premium, hingga kotak kertas yang ramah lingkungan tanpa harus mengeluarkan biaya mahal.
Lebih dari itu, ditekankan pula pentingnya informasi legalitas pada label. “P-IRT dan logo Halal bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan ‘tiket emas’ bagi produk UMKM untuk bisa masuk ke supermarket, toko oleh-oleh modern, dan marketplace,” jelas mahasiswa dalam pemaparannya.
Rahasia Kedua: Memberi “Suara” yang Menyentuh Lewat Cerita
Bagian paling menarik dari program ini adalah sesi “menggali cerita”. Para pelaku UMKM dipandu untuk menemukan narasi unik di balik produk mereka. Apakah itu resep warisan nenek? Apakah dibuat dari bahan baku pilihan dari petani lokal? Atau adakah kisah inspiratif di balik berdirinya usaha tersebut?
Salah satu contoh yang diangkat adalah kisah sukses Pisang Goreng Madu Bu Nanik, yang berhasil mengubah “kelemahan” produknya (tampilan yang terlihat gosong) menjadi ciri khas “Si Hitam Manis” yang legendaris. Kisah ini berhasil membuka mata para peserta bahwa keunikan dan kejujuran adalah aset pemasaran yang sangat kuat.
Antusiasme peserta yang tinggi menunjukkan bahwa program seperti ini sangat dibutuhkan. Para pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan ilmu praktis, tetapi juga suntikan motivasi dan keyakinan bahwa produk lokal mereka mampu bersaing.
Tujuan saya bukan hanya memberi teori, tapi juga memantik api semangat dan memberikan kail, bukan ikannya. saya harap setelah program ini selesai, para pelaku UMKM di Pedurungan Kidul bisa secara mandiri memberikan ‘wajah baru’ dan ‘suara’ yang kuat pada produk kebanggaan mereka.
Dengan bekal pengetahuan baru ini, produk-produk dari Pedurungan Kidul kini siap bertransformasi, tidak hanya lezat di lidah, tetapi juga memikat di mata dan menyentuh di hati.










