JATENGKU.COM, Wonosobo — Mahasiswa Universitas PGRI Semarang melaksanakan kegiatan Sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMK Negeri 1 Wonosobo sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (10/4/2026) pukul 07.00–09.00 WIB di ruang 114 ini diikuti oleh siswa kelas XI BR (Bisnis Retail). Sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya intensitas cuaca ekstrem di wilayah Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Wonosobo, seperti hujan deras, angin kencang, serta petir yang berpotensi memicu bencana seperti banjir, pohon tumbang, hingga kerusakan fasilitas umum.
Sebagai wilayah yang memiliki kondisi geografis dan iklim yang dinamis, Wonosobo tetap memiliki potensi risiko bencana meskipun beberapa kawasan berada di dataran relatif aman. Oleh karena itu, kesiapsiagaan sejak dini menjadi hal yang sangat penting, terutama di lingkungan sekolah yang menjadi tempat berkumpulnya banyak individu dalam satu waktu.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh mahasiswa magang kependidikan Universitas PGRI Semarang, yaitu Izatun Nisa, Marchelinda Permata Husada, Syarifa Ainun Soewito, Haidar Zaky Aflah, dan Noer Alif Aryatama. Pelaksanaan kegiatan juga didukung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah sebagai bentuk kolaborasi dalam mendukung program sekolah aman bencana.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan sosialisasi tidak hanya berfokus pada penyampaian materi secara teoritis, tetapi juga menekankan pada aspek praktik dan pengalaman langsung. Siswa terlebih dahulu diberikan pemahaman mengenai konsep dasar SPAB, yaitu sebuah program yang bertujuan menciptakan satuan pendidikan yang aman, siaga, dan tangguh dalam menghadapi bencana.
Materi yang disampaikan meliputi pengenalan berbagai jenis bencana yang berpotensi terjadi di lingkungan sekitar, seperti gempa bumi, angin puting beliung, dan banjir. Selain itu, siswa juga dibekali dengan pengetahuan mengenai tanda-tanda awal terjadinya bencana serta langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu bersikap tanggap dan tepat dalam menghadapi situasi darurat,” ujar Noer Alif Aryatama selaku salah satu mahasiswa pelaksana kegiatan.

Untuk meningkatkan pemahaman siswa, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan peta evakuasi sederhana. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari lima hingga enam orang. Dalam kelompok tersebut, mereka diminta untuk mengidentifikasi jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, serta mengenali area yang berpotensi berbahaya di lingkungan sekolah.
Kegiatan ini tidak hanya melatih kemampuan berpikir kritis siswa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya perencanaan evakuasi yang matang. Setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, sehingga terjadi proses saling bertukar ide dan pemahaman antar siswa.
Selain itu, kegiatan juga dilengkapi dengan simulasi gempa bumi yang dilakukan secara langsung. Dalam simulasi tersebut, siswa diajarkan teknik perlindungan diri “drop, cover, and hold on”, yaitu merunduk, berlindung di bawah meja, dan berpegangan hingga guncangan berhenti. Setelah itu, siswa diarahkan untuk melakukan evakuasi secara tertib menuju titik kumpul yang telah ditentukan sebelumnya.

Salah satu siswa peserta, mengaku bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman yang sangat bermanfaat baginya. “Saya jadi tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa. Dulu saya mungkin akan panik, tapi sekarang jadi lebih siap,” ungkapnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh siswa lainnya, yang merasa bahwa kegiatan ini membuatnya lebih memahami pentingnya kesiapsiagaan. “Ternyata banyak hal yang harus diperhatikan saat bencana. Kegiatan ini seru karena ada praktiknya juga,” ujarnya.
Pihak sekolah menyambut baik kegiatan sosialisasi ini karena dinilai memberikan dampak positif bagi siswa. Salah satu guru pendamping menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. “Program SPAB sangat penting untuk membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekolah. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan,” tuturnya.
Antusiasme siswa terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, serta berpartisipasi dalam setiap sesi yang diberikan. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang interaktif dan berbasis pengalaman mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara signifikan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi situasi darurat. Selain itu, siswa juga diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mampu menyebarkan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sebagai penutup, implementasi program SPAB oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang di SMK Negeri 1 Wonosobo menjadi salah satu langkah nyata dalam mewujudkan sekolah yang aman dan tangguh terhadap bencana. Ke depan, program ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran maupun program sekolah lainnya guna membentuk generasi yang lebih siap menghadapi berbagai tantangan, termasuk risiko bencana.








