JATENGKU.COM, SRAGEN — Dikenal sebagai salah satu sentra batik di Kabupaten Sragen, Desa Pungsari memiliki kekayaan tradisi dan keterampilan membatik yang menjadi identitas desa. Selama 19 hari, mulai 18 Juli hingga 6 Agustus 2025, Tim KKN IDBU 94 Universitas Diponegoro hadir untuk mendukung kemajuan desa melalui empat program unggulan yang mencakup pelatihan keterampilan, inovasi teknologi ramah lingkungan, hingga strategi pemasaran digital.

1. Workshop Pemanfaatan Limbah Kain Perca Menjadi Kerajinan Bernilai Jual

Sebagai desa batik, produksi kain sering menyisakan limbah kain perca. Program ini memanfaatkan limbah tersebut menjadi kerajinan bernilai jual, salah satunya bros batik, untuk membuka peluang pendapatan tambahan bagi ibu-ibu PKK.

Berlokasi di Taman Batik Pungsari, workshop melibatkan puluhan ibu PKK yang dilatih membuat bros dari kain perca batik, mulai dari pemilihan bahan hingga perakitan. Hasilnya, setiap peserta mampu menghasilkan produk yang siap dijual.

Peserta yang belum terbiasa membuat kerajinan memerlukan pendampingan lebih intensif. Tim mengatasinya dengan membagi kelompok kecil dan menyediakan contoh jadi sebagai referensi.

2. Pemasangan Alat Penerangan Berbasis Panel Surya di Taman Batik

Taman Batik Pungsari menjadi ikon desa yang kerap digunakan untuk aktivitas masyarakat. Untuk mendukung kenyamanan dan keamanan, dipasang lampu penerangan berbasis panel surya yang hemat energi.

‎ ‎ ‎ ‎
Alat Penerangan Berbasis Panel Surya KKN-T 94 Undip.

Tim KKN memasang dua unit lampu panel surya di titik strategis Taman Batik. Lampu ini memanfaatkan energi matahari sehingga ramah lingkungan dan efisien dalam biaya operasional.

Cuaca mendung sempat menghambat pengujian awal. Tim mengatasi hal ini dengan melakukan pengecekan lanjutan pada hari berikutnya untuk memastikan kinerja optimal.

3. Pembuatan Alat Filtrasi Limbah Cair Produksi Batik

Proses produksi batik menghasilkan limbah cair yang dapat mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Program ini menghadirkan alat filtrasi sederhana untuk mengubah air limbah batik yang keruh menjadi lebih jernih.

Alat Filtrasi Limbah Batik Cair KKN-T 94 Undip.

Alat dibuat dari pipa PVC, pasir silika, arang aktif, dan kerikil. Uji coba di salah satu rumah produksi batik menunjukkan hasil signifikan. Panduan penggunaan disosialisasikan kepada Ketua Paguyuban Batik untuk diterapkan secara berkelanjutan.

Menyesuaikan ukuran alat dengan kapasitas limbah menjadi kendala utama. Tim mengatasinya dengan memberikan panduan teknis modifikasi ukuran.

4. Peningkatan Branding dan Pemasaran Batik Printing Pungsari
Sebagai upaya mengangkat citra Batik Printing Pungsari di ranah digital, program ini menghasilkan berbagai materi promosi yang siap digunakan oleh para produsen.

Luaran meliputi Bank Konten berisi ±30 ide konten TikTok, publikasi artikel profil produsen di media, pembuatan katalog produk digital salah satu produsen batik tulis, booklet yang berisikan wawasan tentang dunia ekspor, kuesioner sebagai database mengenai produsen batik yang ada di desa, dan infografis edukatif tentang batik Pungsari. Seluruh materi diserahkan kepada produsen ataupun pihak terkait sebagai panduan promosi jangka panjang. untuk lebih lengkapnya, bisa diakses pada link https://linktr.ee/desabatikpungsari.

Meski promosi TikTok menjadi prioritas, keterampilan produksi konten sebagian produsen masih terbatas sehingga hasilnya kurang maksimal. Tim mengatasinya dengan memberikan panduan teknis dan contoh konten yang mudah diaplikasikan.

Selain itu, mengingat Desa Pungsari terkenal dengan potensi batiknya yang begitu besar, seperti Batik jenis Handprint yang relevan dengan kebutuhan ekspansi pasar yang semakin terbuka dan kompetitif. Tim melakukan penyesuaian terhadap program kerja untuk membranding Desa Pungsari sebagai desa wisata karena batik yang dimilikinya, tanpa meninggalkan kekayaan intelektual yang sudah ada sejak zaman leluhur, yaitu batik tulis.

Melalui empat program unggulan ini, Tim KKN IDBU 94 UNDIP berhasil menghadirkan inovasi yang menggabungkan aspek ramah lingkungan dengan penguatan pemasaran digital. Seluruh kegiatan tidak hanya mendukung keberlanjutan industri batik di Desa Pungsari, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra batik terkemuka di Kabupaten Sragen.

Editor: Handayat