JATENGKU.COM, SEMARANGMahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 139 Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama Balai Penyuluh Pertanian (BPP) menyelenggarakan program “EcoGrow: Urban Farming Hortikultura Berbasis Aquaponik” di Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, pada Sabtu (19/7/2025). EcoGrow sendiri merupakan program unggulan dari kelompok 4.

Mahasiswa Kelompok 4 KKNT-139 UNDIP berfoto bersama perwakilan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Ngaliyan.

Kelurahan Mangkang Kulon menghadapi tantangan dalam pemanfaatan lahan yang terbatas untuk kegiatan pertanian produktif. Sebagian besar warga tinggal di kawasan padat penduduk, serta posisi geografisnya yang berada di pesisir sering terjadi banjir rob yang merendam sebagian wilayah.

Di sisi lain, potensi pemanfaatan sistem aquaponik sebagai solusi pertanian terpadu yang efisien dan hemat lahan belum dimaksimalkan. Kurangnya pengetahuan, pelatihan, serta keterjangkauan alat dan bahan pendukung membuat sistem aquaponik belum dikenal luas oleh masyarakat.

Tujuan dari diadakannya program EcoGrow: Urban Farming Hortikultura Berbasis Aquaponik ini sendiri yakni untuk memberikan edukasi terhadap pemanfaatan sistem aquaponik sebagai alternatif pertanian berkelanjutan di lahan terbatas, kemudian kami dari Kelompok 4 tim KKN-T 139 Undip ingin memberikan praktik secara langsung mengenai pemanfaatan teknologi yang tepat dalam sistem pertanian yang ramah lingkungan.

Selain itu di luar memberikan praktik secara langsung, kami ingin mengajak masyarakat untuk memanfaatkan limbah plastik dari galon bekas untuk menjadi media tanaman hortikultura. Di sisi lain, pemanfaatan limbah plastik pun tentunya membantu mengurangi sampah dan memudahkan masyarakat yang ingin memulai urban farming hortikultura berbasis aquaponik

Aquaponik sendiri merupakan sistem budidaya yang menggabungkan akuakultur (budidaya ikan) dan hidroponik (budidaya tanaman tanpa tanah) dalam satu siklus yang saling menguntungkan. Sistem aquaponik menawarkan berbagai manfaat, meliputi efisiensi penggunaan air dan nutrisi, kualitas hasil panen yang lebih baik, produksi yang lebih berkelanjutan, serta dampak lingkungan yang lebih positif.

Hidroponik merupakan salah satu metode budidaya tanaman yang tidak memerlukan tanah sebagai media tanam, melainkan menggunakan air yang telah diperkaya dengan larutan nutrisi esensial yang dibutuhkan oleh tanaman.

Metode ini sangat cocok diterapkan di wilayah dengan lahan terbatas atau kualitas tanah yang kurang mendukung pertanian konvensional, seperti yang terjadi di Kelurahan Mangkang Kulon. Dalam sistem hidroponik, akar tanaman langsung menyerap nutrisi dari larutan yang disirkulasikan, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat dan efisien.

Tanaman-tanaman hortikultura yang umumnya dibudidayakan secara hidroponik seperti selada, bayam, kangkung, sawi, dan pakcoy sangat cocok diterapkan dalam sistem ini karena mampu menyerap nutrisi dari air limbah hasil budidaya ikan.

Sementara itu, jenis ikan yang biasa digunakan dalam sistem aquaponik antara lain ikan lele, nila, patin, dan jenis ikan Air Tawar lainnya yang mudah dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Air dari kolam ikan dalam sistem aquaponik, seperti kolam lele, secara alami mengandung nutrisi karena berasal dari limbah metabolisme ikan, termasuk sisa pakan dan feses. Feses ikan ini mengandung unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang sangat dibutuhkan tanaman untuk tumbuh.

Dalam sistem aquaponik, air dari kolam yang kaya nutrisi tersebut dialirkan ke media tanam, di mana akar tanaman menyerap zat-zat berguna tersebut sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhan tanaman. Proses ini menciptakan siklus yang saling menguntungkan yaitu ikan menghasilkan limbah organik dan tanaman menyerap nutrisinya. Untuk menjaga kualitas air agar tetap optimal bagi pertumbuhan ikan dan tanaman, sistem perlu dikelola secara rutin.

Umumnya, air dalam kolam perlu diganti setiap dua hari sekali atau saat air terlihat sangat keruh. Proses penggantian ini dilakukan menggunakan selang pembuangan untuk mengalirkan sebagian air lama, kemudian diisi kembali dengan air bersih secukupnya.

Penerapan sistem aquaponik di wilayah Mangkang Kulon memberikan berbagai keuntungan bagi lingkungan dan masyarakat. Penggabungan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem, aquaponik memungkinkan warga untuk berkebun sekaligus memelihara ikan di lahan sempit secara efisien. Limbah dari ikan dimanfaatkan sebagai nutrisi bagi tanaman, sehingga dapat meminimalisir pencemaran dan mengurangi limbah organik.

Selain itu, keberadaan tanaman dalam sistem ini mendukung penghijauan lingkungan padat penduduk dan membantu menciptakan udara yang lebih sejuk. Aquaponik juga berperan dalam optimalisasi pangan lokal, karena menghasilkan sumber pangan ganda antara sayur dan ikan yang sehat dan mudah diakses dari lingkungan rumah sendiri.

Dengan penuh semangat, mahasiswa KKNT-139 UNDIP bersama warga Kelurahan Mangkang Kulon melakukan kegiatan penanaman bibit tanaman obat kangkung dengan sistem aquaponik.

Kegiatan sosialisasi dan pelatihan sistem hidroponik dan aquaponik yang diselenggarakan oleh mahasiswa KKNT tim 139 Undip di Kelurahan Mangkang Kulon berlangsung dengan lancar dan antusiasme tinggi. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 90 peserta yang terdiri dari mahasiswa KKN serta perwakilan masyarakat dari masing-masing RT dan RW di Mangkang Kulon.

Acara dimulai pukul 09.30 hingga 12.00 WIB dan diawali dengan sambutan oleh Lurah, Ketua LPMK, DPL, dan Koordinator Desa. Setelah sambutan, dilanjutkan dengan sesi penyampaian materi serta tanya jawab tentang hidroponik dan aquaponik yang disampaikan oleh Addien Daya Salsabila dan Wijang Suryo Prastowo selaku perwakilan kelompok KKN. Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi praktik langsung, dan ditutup dengan kesan pesan peserta serta sesi foto bersama.

Pada sesi praktik, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dan masing-masing mendapatkan starter kit aquaponik sebanyak dua paket. Peralatan dan bahan yang digunakan antara lain galon bekas, selang, netpot, kain flannel, rockwool, bibit ikan lele ukuran 7–10 cm, bibit kangkung yang telah disemai selama 10 hari, pelet, dan air. Praktik dimulai dengan mengisi galon hingga ¾ bagian, lalu memasukkan lima ekor ikan lele ke dalam galon.

Selanjutnya, kain flannel dimasukkan ke sela-sela netpot yang telah diberi bibit kangkung, kemudian netpot tersebut diletakkan pada galon sesuai pola yang telah ditentukan. Disarankan menggunakan air sumur atau air hujan untuk hasil optimal, dan pemberian pakan dilakukan dua kali sehari yaitu pagi antara pukul 08.30–10.00 dan sore pukul 15.00–16.00.

Alat dan bahan yang digunakan dalam sistem aquaponik ini dipilih dari material yang mudah diperoleh dan terjangkau. Galon bekas sebagai wadah utama berfungsi sebagai kolam mini, dilengkapi dengan selang untuk sirkulasi air, netpot untuk menampung media tanam, serta rockwool sebagai media tumbuh bibit tanaman.

Kain flannel digunakan sebagai sumbu kapiler untuk mengalirkan air bernutrisi ke akar tanaman. Ikan diberi pakan berupa pelet dua kali sehari, sementara tanaman mendapat nutrisi secara alami dari limbah ikan. Disarankan menggunakan air sumur atau hujan agar bebas klorin. Dengan alat sederhana ini, sistem aquaponik bisa menjadi solusi inovatif dan praktis untuk urban farming.

Melalui kegiatan EcoGrow, mahasiswa KKN-T 139 UNDIP berharap sistem aquaponik dapat menjadi alternatif pertanian masa depan bagi masyarakat Mangkang Kulon yang tinggal di wilayah padat dan di beberapa titik terkena banjir rob dari air laut.

Program ini tak hanya menjadi bentuk edukasi dan praktik langsung, tetapi juga mengajak masyarakat untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang bernilai. Dengan memanfaatkan limbah plastik seperti galon bekas, masyarakat dapat ikut berkontribusi dalam menjaga lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga secara mandiri dan berkelanjutan.

Editor: Handayat