Desa Wringingintung, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan sosialisasi dan penerapan teknologi biopori yang diinisiasi oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Tim 64 Universitas Diponegoro. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik serta mengurangi permasalahan lingkungan yang ditimbulkan akibat penumpukan sampah di lahan terbuka, saluran air, dan sekitar permukiman warga.
Permasalahan sampah organik di Desa Wringingintung selama ini masih menjadi tantangan, ditandai dengan kebiasaan pembuangan sampah di lahan kosong, pinggir jalan, dan selokan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat. Menjawab permasalahan tersebut, mahasiswa KKN-R 64 memperkenalkan teknologi biopori sebagai solusi sederhana, murah, dan berkelanjutan.
Sosialisasi dilakukan dengan memberikan pemaparan mengenai konsep dasar biopori, fungsi dan manfaatnya, serta tahapan teknis pembuatan dan perawatannya. Biopori dijelaskan sebagai lubang resapan vertikal yang berfungsi meningkatkan daya serap tanah terhadap air sekaligus sebagai media penguraian sampah organik menjadi kompos alami. Melalui metode ini, sampah organik rumah tangga tidak lagi menjadi limbah, melainkan sumber daya yang bernilai guna bagi tanah dan lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, Hafizh Perdana Putra, mahasiswa Teknik Mesin yang tergabung dalam Tim KKN-R 64 Universitas Diponegoro, berperan aktif dalam penyampaian aspek teknis pembuatan biopori. Dengan latar belakang keilmuan teknik, Hafizh menjelaskan prinsip kerja biopori dari sudut pandang mekanika fluida dan rekayasa sederhana, khususnya terkait peningkatan laju infiltrasi air ke dalam tanah, kestabilan struktur lubang, serta pemilihan material yang aman dan tahan lama. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami biopori tidak hanya sebagai praktik lingkungan, tetapi juga sebagai teknologi tepat guna yang aplikatif.

Selain pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan lubang biopori bersama warga. Mahasiswa KKN mendemonstrasikan langkah-langkah pembuatan, mulai dari penentuan lokasi, pengeboran tanah, pemasangan pipa pelapis, hingga pengisian sampah organik. Antusiasme warga terlihat dari partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung serta diskusi interaktif terkait penerapan biopori di lingkungan rumah masing-masing.
Melalui kegiatan ini, Mahasiswa KKN-R 64 Universitas Diponegoro berharap penerapan biopori dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan pengelolaan sampah organik yang lebih baik di Desa Wringingintung. Sinergi antara pendekatan edukatif dan teknis diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk menerapkan solusi ramah lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan, guna mewujudkan lingkungan desa yang bersih, sehat, dan lestari.











