JATENGKU.COM, Surabaya — Kesehatan gigi dan mulut sering kali diabaikan oleh masyarakat, yang baru mencari perawatan medis setelah muncul masalah serius, yang ditangani oleh dokter gigi. Meskipun demikian, kesuksesan perawatan restoratif, seperti pemasangan prostodontik (termasuk mahkota, jembatan, dan gigi tiruan), bergantung pada profesi teknisi gigi yang bekerja di belakang layar.
Teknisi gigi merupakan, tenaga kesehatan yang bertanggung jawab mentransformasikan instruksi klinis dokter menjadi alat prostodontik yang presisi, fungsional, dan memiliki nilai estetika tinggi. Kontribusi tak langsung ini sangat vital bagi keseluruhan layanan kesehatan gigi.
Peran teknisi gigi kini semakin diakui, terbukti dengan penempatannya dalam rumpun keteknisian medis sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014. Dalam kapasitasnya sebagai tenaga kesehatan yang fokus pada manufaktur, teknisi gigi bertugas memproses berbagai material dan menjalankan peralatan laboratorium sesuai arahan klinis yang diberikan.
Berdasarkan temuan dari studi lapangan yang dilakukan di sebuah laboratorium gigi di Surabaya, terungkap bahwa produksi gigi tiruan memerlukan kerja sama yang sangat erat, antara teknisi dan dokter gigi. Secara khusus, artikel ini akan mengupas tuntas mengenai penggunaan alat laboratorium, standar ketelitian yang esensial dalam tahap produksi, serta keahlian teknisi dalam memanfaatkan teknologi terkini.
Faktor Penentu Kualitas dan Kontribusi Profesi
Observasi lebih lanjut menggaris bawahi bahwa kualitas produk gigi tiruan sangat bergantung pada tiga pilar utama: komunikasi dua arah yang efektif antar profesi, kemampuan manual teknisi dalam memanipulasi bahan dan prosedur kerja, serta kesiapan mereka untuk mengadopsi inovasi teknologi.
Walaupun teknisi gigi tidak berinteraksi langsung dengan pasien, pekerjaan mereka memiliki dampak besar terhadap keberhasilan perawatan prostodontik dan meningkatkan kenyamanan pasien. Oleh karena itu, melalui pembahasan ini, diharapkan kesadaran publik terhadap kontribusi fundamental teknisi gigi dalam mendukung pelayanan kesehatan gigi di Indonesia dapat ditingkatkan.
Peran Teknisi Gigi dalam Pelayanan Kesehatan Gigi
Teknisi gigi bertanggung jawab membuat berbagai jenis prostesis seperti gigi tiruan penuh, gigi tiruan sebagian, mahkota, jembatan, hingga alat ortodonti. Setiap produk yang dihasilkan didasarkan pada bahan cetak yang dikirimkan oleh dokter gigi serta instruksi perawatan yang menyertainya. Keberhasilan perawatan prostodonti sangat bergantung pada akurasi hasil kerja teknisi.
Beberapa kompetensi utama teknisi gigi meliputi:
- membaca instruksi kerja dari dokter gigi,
- memahami anatomi gigi dan rahang,
- mengolah bahan laboratorium seperti gips, akrilik, dan resin,
- mengoperasikan alat laboratorium.
Proses Pembuatan Gigi Tiruan: Ketelitian sebagai Fondasi
Pembuatan gigi tiruan terdiri dari sejumlah tahapan yang memerlukan presisi tinggi, antara lain:
a. Analisis cetakan dan pembuatan model
Teknisi gigi harus mampu membaca cetakan dari dokter gigi, menilai kualitasnya, dan melakukan penuangan gips dengan benar. Kesalahan kecil pada tahap ini dapat berpengaruh besar pada kenyamanan pasien.
b. Pengolahan basis gigi tiruan
Proses seperti waxing, flasking, packing akrilik, hingga curing memerlukan ketelitian dalam menjaga bentuk, ketebalan, dan keseimbangan oklusi.
c. Penataan gigi
Teknisi harus memahami estetika, simetri wajah, dan karakteristik gigi alami agar gigi tiruan terlihat natural.
d. Finishing dan polishing
Tahap akhir bertujuan menghasilkan permukaan halus, nyaman dipakai, dan estetis.
Seluruh tahapan memerlukan kombinasi keterampilan tangan (hand skill), pemahaman material, serta ketelitian dalam detail.
Kolaborasi antara Teknisi Gigi dan Dokter Gigi
Selama studi lapangan, terlihat bahwa komunikasi merupakan faktor krusial dalam menghasilkan prostesis yang benar. Kolaborasi mencakup:
• dokter memberikan instruksi klinis yang jelas,
• teknisi mengonfirmasi detail seperti warna gigi, bentuk, dan koreksi oklusi,
• diskusi untuk mengatasi cetakan yang kurang baik,
• evaluasi bersama sebelum gigi tiruan diserahkan kepada pasien.
Dengan komunikasi yang efektif, kesalahan dapat diminimalisir dan hasil yang diberikan kepada pasien menjadi lebih optimal.
Penggunaan Alat dan Teknologi dalam Laboratorium Gigi
Laboratorium gigi menggunakan berbagai alat, antara lain:
• vibrator gips
• bunsen dan blowtorch
• articulator
• model trimmer
• alat flasking dan curing unit
• alat finishing dan polishing
Beberapa laboratorium modern telah mengadopsi teknologi seperti CAD/CAM dan printer 3D. Teknisi gigi harus dapat beradaptasi dengan peralihan dari teknik manual ke teknologi digital untuk meningkatkan presisi dan efisiensi.
Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa profesi teknisi gigi merupakan pilar penting dalam sistem pelayanan kesehatan gigi yang sering kali kurang mendapatkan perhatian. Keberhasilan pembuatan gigi tiruan tidak hanya bergantung pada kemampuan dokter gigi, tetapi juga sangat ditentukan oleh ketelitian, keahlian teknis, dan kolaborasi erat antara teknisi dan dokter gigi. Perkembangan teknologi yang terus berlangsung menuntut teknisi gigi untuk selalu beradaptasi dan meningkatkan kompetensi agar dapat menghasilkan prostesis yang semakin presisi dan nyaman digunakan pasien.
Penulis: Aqilah Ghaliizda Hajianto, Mahasiswa Universitas Airlangga











