Semarang, 30 Agustus 2025 — Dalam rangka memperingati 80 tahun Indonesia merdeka, Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) Universitas Diponegoro bekerja sama dengan Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) Nasional menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “80 Tahun Indonesia Merdeka: Ke Mana Arah dan Masa Depan Ekonomi Bangsa?”. Acara yang digelar melalui Zoom Meeting ini diikuti 64 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum.
Acara dibuka oleh Prof. Dr. Harjum Muharram, S.E., M.E., Wakil Dekan I FEB UNDIP. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran negara dalam menguasai sumber daya strategis untuk kemakmuran rakyat, sesuai prinsip Islam. Ia juga menegaskan bahwa perubahan ekonomi hanya dapat dicapai bila individu dan masyarakat berusaha aktif memperbaiki kondisi mereka.
Sementara itu, Presidium Nasional FoSSEI, Mumtaz Humam Alfian Zulva, menyoroti dinamika sosial-ekonomi Indonesia menjelang usia 80 tahun kemerdekaan, termasuk ketidakstabilan sosial akibat demonstrasi terakhir. Ia memperkenalkan peran FoSSEI dalam literasi ekonomi syariah dan menekankan pentingnya menjadikan ekonomi syariah sebagai pilar kesejahteraan nasional.
Sebagai pembicara pertama, Esther Sri Astuti, Ph.D. (Direktur Eksekutif INDEF) mengulas kondisi ekonomi Indonesia. Meski BPS melaporkan pertumbuhan 5,12% pada kuartal II 2025, ia menyoroti indikator lain yang justru menunjukkan pelemahan: konsumsi rumah tangga menurun, investasi asing melemah, dan PHK meningkat. Ia mengingatkan bahwa kualitas pertumbuhan jauh lebih penting daripada sekadar angka, serta menekankan perlunya pembangunan SDM, iklim investasi kondusif, dan regulasi yang efektif.
Pembicara kedua, Achmad Iqbal (Deputi Direktur Kemitraan dan Akselerasi Usaha Syariah KNEKS), menekankan komitmen pemerintah menjadikan ekonomi syariah sebagai pilar ketahanan nasional. Ia menyoroti kontribusi signifikan aset keuangan syariah, peran UMKM halal, serta pentingnya sertifikasi halal yang terjangkau. Ia juga menekankan peran generasi muda sebagai agen literasi, inovasi, dan kewirausahaan.
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Pertanyaan peserta menyinggung hilirisasi investasi, posisi ekonomi syariah sebagai etika atau sistem, tantangan sertifikasi halal bagi UMKM, hingga integrasi prinsip syariah dalam sektor pertambangan. Narasumber menekankan pentingnya kebijakan yang berpihak pada rakyat, regulasi yang ramah lingkungan, serta sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi.
Webinar ini ditutup dengan refleksi bahwa tantangan terbesar Indonesia di usia 80 tahun kemerdekaan adalah mewujudkan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Baik melalui strategi ekonomi nasional maupun penguatan ekonomi syariah, seluruh elemen bangsa perlu berkolaborasi untuk menuju Indonesia Emas 2045.












