JATENGKU.COM, SragenMahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Muhammad Rasyid Arkaan dari Program Studi Teknik Elektro 2022 melaksanakan salah satu program kerja di Desa Sumberejo, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, menjadi lokasi pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa yang berfokus pada pemanfaatan teknologi tepat guna di sektor perikanan dan pertanian. Melalui program kerja bertajuk “Digitalisasi Akuaponik melalui Sistem Smart Feeding”, mahasiswa menghadirkan inovasi berupa sistem pemberian pakan ikan otomatis berbasis mikrokontroler yang terintegrasi dengan konsep akuaponik.

Akuaponik sendiri merupakan metode budidaya yang menggabungkan perikanan (akuakultur) dan pertanian (hidroponik) dalam satu sistem sirkulasi air. Limbah organik dari kolam ikan dimanfaatkan sebagai nutrisi bagi tanaman, sementara tanaman membantu menyaring air sehingga tetap layak untuk ikan. Sistem ini dinilai cocok diterapkan di desa karena hemat air, efisien lahan, dan ramah lingkungan.

Namun, dalam praktiknya, warga sering menghadapi kendala pada jadwal pemberian pakan ikan. Pemberian pakan manual sering kali tidak teratur karena aktivitas harian masyarakat. Hal tersebut berdampak pada pertumbuhan ikan yang kurang optimal serta meningkatnya pemborosan pakan.

Mahasiswa KKN UNDIP Lakukan Digitalisasi Akuaponik Melalui Sistem Smart Feeding di Desa Sumberejo, Sragen

Mahasiswa KKN UNDIP Lakukan Digitalisasi Akuaponik Melalui Sistem Smart Feeding di Desa Sumberejo, Sragen

Menjawab permasalahan tersebut, mahasiswa KKN merancang alat Smart Feeding, yaitu alat pemberi pakan ikan otomatis berbasis mikrokontroler yang dapat diatur waktu pemberiannya. Alat ini menggunakan wadah pakan, motor penggerak, dan sistem pengaturan waktu yang sudah diprogram. Pada jam tertentu, alat akan membuka katup pakan secara otomatis sehingga ikan mendapatkan pakan secara konsisten setiap hari.

Selain itu, sistem juga dilengkapi dengan indikator status dan pengaturan sederhana sehingga warga dapat mengoperasikannya tanpa harus memahami teknologi secara mendalam. Mahasiswa juga memberikan pelatihan langsung kepada kelompok pemuda dan warga setempat terkait cara penggunaan, pengisian ulang pakan, serta perawatan alat.

Ketua tim KKN menyampaikan bahwa tujuan utama program ini bukan hanya menghadirkan alat, tetapi juga meningkatkan literasi teknologi masyarakat desa.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menerima alat, tetapi juga memahami cara kerja dan manfaatnya. Dengan begitu, program ini bisa berkelanjutan setelah KKN selesai,” ujarnya.

Program ini mendapat respon positif dari warga. Beberapa warga mengaku terbantu karena tidak lagi harus memberi pakan ikan secara manual setiap pagi dan sore. Selain itu, pertumbuhan ikan menjadi lebih merata karena jadwal pemberian pakan lebih teratur.

Salah satu warga menyampaikan, “Biasanya kami sering lupa atau terlambat memberi pakan karena bekerja di sawah. Sekarang ikan tetap diberi makan tepat waktu meskipun kami sedang di ladang.”

Mahasiswa juga mengintegrasikan sistem akuaponik dengan penanaman sayuran seperti kangkung dan selada di atas kolam. Air dari kolam dialirkan ke media tanam menggunakan pompa sirkulasi. Tanaman memanfaatkan nutrisi dari kotoran ikan, sementara air yang kembali ke kolam menjadi lebih bersih. Dengan demikian, warga tidak hanya memperoleh hasil panen ikan, tetapi juga sayuran konsumsi rumah tangga.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa melakukan beberapa tahapan, mulai dari survei lokasi, perancangan alat, perakitan, uji coba, hingga sosialisasi kepada masyarakat. Uji coba dilakukan selama beberapa hari untuk memastikan jumlah pakan yang keluar sesuai kebutuhan ikan agar tidak menyebabkan pencemaran air.

Salah satu anggota mahasiswa KKN menuturkan, “Kami melakukan beberapa kali kalibrasi agar pakan yang keluar tidak berlebihan. Jika terlalu banyak, kualitas air akan menurun dan ikan bisa stres. Jadi kami sesuaikan dengan jumlah ikan di kolam.”

Program ini juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak desa. Mereka diajak mengenal konsep pertanian modern dan teknologi sederhana. Anak-anak terlihat antusias melihat alat otomatis bekerja serta memahami hubungan antara ikan dan tanaman dalam sistem akuaponik.

Ke depan, mahasiswa berharap sistem ini dapat dikembangkan lebih lanjut, misalnya dengan sensor ketinggian air, monitoring suhu, maupun pengendalian melalui ponsel. Dengan pengembangan tersebut, sistem akuaponik desa berpotensi menjadi percontohan budidaya modern berbasis teknologi di tingkat desa.

Melalui program Digitalisasi Akuaponik melalui Sistem Smart Feeding, mahasiswa KKN tidak hanya memberikan inovasi teknologi, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber pangan lokal. Kolaborasi antara mahasiswa dan warga diharapkan menjadi langkah awal transformasi desa menuju pertanian cerdas dan berkelanjutan.

Editor: Handayat

Tag