JATENGKU.COM, Batang — Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) menghadirkan inovasi pembuatan pupuk organik cair berbasis limbah bonggol jagung dengan strategi pemasaran modern melalui media daring maupun luring di Desa Keniten, Kecamatan Pecalungan, Kabupaten Batang, akhir pekan lalu. Program ini ditujukan untuk meningkatkan nilai ekonomi limbah pertanian sekaligus memberikan manfaat bagi petani lokal.
Desa Keniten sendiri merupakan wilayah agraris yang dikenal dengan aktivitas pertanian jagung sejak lama. Sejak berdiri, masyarakat desa ini menjadikan lahan pertanian sebagai sumber hidup utama, sehingga inovasi produk pertanian dinilai sangat potensial bagi peningkatan kesejahteraan warga.
Program KKN di Desa Keniten ini mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah desa yang dipimpin oleh Pj Kepala Desa, Pak Tomo, dan Sekretaris Desa, Bapak Tarman, serta perangkat desa lainnya yang mendampingi secara langsung jalannya kegiatan tersebut.
Inovasi yang digagas mahasiswa Undip ini memanfaatkan limbah bonggol jagung yang selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Limbah bonggol jagung selanjutnya diolah menjadi pupuk organik cair melalui proses fermentasi ramah lingkungan. Produk pupuk ini didesain untuk meningkatkan kesuburan tanah dan menjadi alternatif pupuk bagi petani di sekitar desa.
Menurut tim mahasiswa KKN, produk pupuk organik cair ini selain lebih murah, juga dapat membantu mengurangi limbah yang terbuang sia-sia setiap musim panen jagung.
Untuk memperluas jangkauan pemasaran, mahasiswa KKN menerapkan strategi promosi yang menggabungkan metode modern dan tradisional. Secara luring, brosur fisik dibuat dan dibagikan kepada kelompok tani dan warga desa sebagai media edukasi tentang cara pembuatan dan penggunaan pupuk organik cair.
Di saat yang bersamaan, promosi secara digital juga digencarkan oleh tim melalui pembuatan brosur digital yang dibagikan lewat grup komunikasi desa serta media sosial seperti Instagram, memastikan informasi produk dapat menjangkau khalayak lebih luas, termasuk di luar wilayah Kabupaten Batang.
Selain itu, produk pupuk organik cair ini juga dipasarkan melalui platform marketplace, sehingga pelaku pertanian serta konsumen umum dari daerah lain pun bisa melakukan pembelian secara mudah dan cepat melalui toko digital.
Tidak hanya promosi berbasis media, metode mouth to mouth atau dari mulut ke mulut tetap dimaksimalkan. Warga desa diajak saling merekomendasikan produk ini kepada teman, keluarga, atau rekan petani lainnya, yang dinilai efektif dalam membangun kepercayaan sejak awal.
Pj Kepala Desa, Bapak Tomo, menyampaikan apresiasi atas inovasi serta saran kepada mahasiswa KKN Undip. “Produk pupuk organik cair ini berpotensi untuk bisa menjadi pupuk yang diproduksi langsung di Desa Keniten, namun harus melalui tahapan uji lab sebelumnya,” ujarnya.
Program ini juga menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah desa mampu menghasilkan inovasi yang aplikatif dan berdampak luas, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.











