“Mengapa kamu pergi tanpa kabar?”

Kalimat ini sederhana, tetapi menjadi pemantik luka yang dalam karena sejatinya bukan kalimat itu yang menyakitkan, melainkan kepergian seseorang tanpa penjelasan yang membuatnya bermakna pedih bagi siapa pun yang pernah ditinggalkan, termasuk Cinta dalam film legendaris Rangga dan Cinta. Dalam kisah yang telah melekat di benak banyak penonton Indonesia itu, Rangga menghilang tiba-tiba setelah meninggalkan sepucuk surat perpisahan tanpa kabar selama bertahun-tahun. Tindakan itu, dalam bahasa masa kini, dikenal sebagai ghosting, yang memiliki makna menghilang begitu saja dari hubungan tanpa komunikasi, alasan, dan pamitan. Namun, dibalik kisah yang tampak romantis itu, tersembunyi fenomena psikologis dan biologis yang jauh lebih kompleks.

Neurosains modern menunjukkan bahwa rasa sakit akibat ghosting bukan sekadar perasaan emosional, melainkan reaksi biologis nyata di otak yang serupa dengan nyeri fisik. Temuan mengejutkan datang dari Mischkowski et al. (2019) yang membuktikan bahwa paracetamol (acetaminophen), yaitu obat yang biasa digunakan untuk menurunkan demam dan nyeri ternyata juga dapat mengurangi rasa sakit sosial. Dalam eksperimen tersebut, partisipan yang mengonsumsi parasetamol setiap hari selama tiga minggu melaporkan penurunan tingkat sakit hati akibat penolakan sosial. Hasil fMRI juga menunjukkan penurunan aktivitas di anterior cingulate cortex (ACC) dan insula, area yang sama-sama aktif saat seseorang merasa ditolak. Maka, mungkin jika Cinta meminum parasetamol setelah menerima surat perpisahan Rangga, sebagian kecil luka emosionalnya bisa diredakan setidaknya secara neurobiologis. Tentu saja, parasetamol tidak bisa menyembuhkan kehilangan emosional sepenuhnya. Namun, riset ini memperlihatkan bahwa rasa sakit karena ghosting nyata adanya dan otak manusia meresponsnya dengan mekanisme biologis yang sama seperti saat tubuh terluka.

Cinta yang tak terselesaikan dapat meninggalkan jejak biologis di otak layaknya kecanduan yang tak kunjung pulih. Penelitian yang dilakukan oleh Fisher et al. (2016) menemukan bahwa otak orang yang baru saja diputus cinta menunjukkan aktivitas tinggi pada area yang sama dengan kecanduan kokain. Inilah sebabnya mengapa orang yang di-ghosting kerap ketagihan untuk memeriksa pesan, stalking media sosial, atau menunggu kabar yang tak kunjung datang. Otak mereka, seperti otak pecandu, mencari reward yang pernah diberikan pasangan. Sesuatu yang dulu menjadi sumber dopamin kini berubah menjadi sumber kekosongan neurokimia. Rangga adalah stimulus dopamin bagi Cinta. Puisi, obrolan, dan kedekatan mereka membangun sistem penghargaan emosional yang intens. Ketika Rangga menghilang, dopamin yang biasanya dilepaskan setiap kali mereka bertemu tiba-tiba berhenti. Itulah sebabnya, meskipun bertahun-tahun berlalu, Cinta tetap membawa sisa-sisa luka itu karena Rangga adalah kecanduan yang belum sembuh bagi otaknya.

Rasa sakit akibat ghosting berbeda dari putus cinta biasa. Penelitian oleh Berkay & Jenkins (2025) menunjukkan bahwa ketidakpastian sosial mengaktifkan dorsomedial prefrontal cortex lebih kuat daripada kepastian negatif. Otak akan bekerja keras menebak-nebak alasan hilangnya seseorang sehingga memicu aktivitas berlebihan yang menghasilkan pikiran berulang yang sulit dihentikan (Yoon et al., 2023). Inilah yang terjadi pada Cinta yang terjebak antara harapan dan kenyataan serta antara ingin melupakan dan ingin memahami. Dari sudut pandang neurosains, ini adalah hasil dari masalah kognitif antara amigdala (pusat pengendali emosi) dan dorsomedial prefrontal cortex (pusat pengolah logika). Otak emosional terus menuntut kejelasan, sementara otak rasional tahu bahwa Rangga telah pergi. Ketiadaan penjelasan justru membuat rasa sakit itu lebih lama karena otak tidak mendapatkan closure untuk mematikan sistem alarm emosionalnya.

Ghosting bukan sekadar perilaku semena-mena dalam hubungan, melainkan fenomena neuropsikologis yang berdampak negatif pada sistem emosi dan kimiawi otak manusia. Kisah Rangga dan Cinta memperlihatkan bagaimana hubungan yang tiba-tiba ditinggalkan tanpa penjelasan dapat memicu reaksi otak yang mirip dengan nyeri fisik, penurunan dopamin, dan pemikiran berulang. Namun, di satu sisi, kisah itu juga menunjukkan bahwa manusia bisa pulih dari trauma psikologis melalui penjelasan dan waktu. Cinta akhirnya bisa memaafkan Rangga setelah bertahun-tahun. Hal ini bukan karena lukanya yang sudah hilang, melainkan karena otaknya akhirnya memahami bahwa tidak semua kehilangan memerlukan alasan sehingga cukup diterima saja supaya bisa tumbuh lebih baik. Oleh karena itu, mengatasi sakit hati akibat ghosting dapat dimulai dengan menerima kenyataan, mengekspresikan emosi dengan sehat, membatasi kontak, serta membangun kembali harga diri melalui dukungan sosial dan aktivitas positif.

 

Referensi

  1. Mischkowski, D., Crocker, J., & Way, B. M. (2019). A Social Analgesic? Acetaminophen (Paracetamol) Reduces Positive Empathy. Frontiers in psychology, 10, 538. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.00538.
  2. Fisher, H. E., Xu, X., Aron, A., & Brown, L. L. (2016). Intense, Passionate, Romantic Love: A Natural Addiction? How the Fields That Investigate Romance and Substance Abuse Can Inform Each Other. Frontiers in psychology, 7, 687. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2016.00687.
  3. Berkay, D., & Jenkins, A. (2025). Uncertainty, Not Mental Content, Drives Dorsomedial Prefrontal Engagement during Inferences about Others. The Journal of Neuroscience, 45. https://doi.org/10.1523/jneurosci.1920-23.2025.
  4. Yoon, L., Keenan, K., Hipwell, A., Forbes, E., & Guyer, A. (2023). Hooked on a thought: Associations between rumination and neural responses to social rejection in adolescent girls. Developmental Cognitive Neuroscience, 64. https://doi.org/10.1016/j.dcn.2023.101320.

Penulis: Haya Nafisa Mumtaza, Mahasiswa Universitas Airlangga

Editor: Handayat