JATENGKU.COM, Surabaya — “Walau bising alat berat sudah mereda, kesadaran akan keselamatan tetap berjalan mengarahkan setiap langkah dan keputusan di area proyek.”

Apa Itu HSE? Bukan Sekadar Aturan, Tapi Disiplin Kerja

Ketika kita berbicara tentang proyek konstruksi, yang terbayang mungkin adalah tumpukan material, deru mesin berat, dan target waktu yang ketat. Namun, di balik ambisi menyelesaikan sebuah bangunan, ada satu elemen krusial yang sering luput dari perhatian, yaitu Health, Safety, and Environment (HSE).

HSE bukan sekadar daftar peraturan yang harus dipatuhi. Ia adalah sebuah sistem holistik yang memastikan setiap pekerjaan dilakukan dengan aman, sehat, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dalam dunia konstruksi, di mana risiko bahaya begitu tinggi, HSE hadir sebagai kompas yang mengendalikan bahaya, mulai dari wajibnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), prosedur kerja terperinci, hingga pengawasan rutin dan pelatihan mendalam.

Intinya, HSE mendorong pekerja untuk memahami risiko, bukan hanya menghindarinya. Tujuannya adalah membangun kebiasaan yang disiplin, mengubah keselamatan dari sekadar kewajiban formal menjadi bagian integral dari budaya kerja. Dengan penerapan HSE yang mumpuni, sebuah proyek tidak hanya akan selesai tepat waktu, tetapi yang jauh lebih penting, ia akan menjamin setiap insan yang terlibat kembali ke rumah dengan selamat.

Asrama Unair: Bukti Nyata Keselamatan di Lapangan

Proyek pembangunan Asrama Baru Universitas Airlangga (Unair) adalah sebuah laboratorium nyata untuk mengamati bagaimana prinsip HSE ini bekerja di lapangan.

Saat ini, fase konstruksi telah mendekati tahap akhir—suara palu godam dan mesin berat nyaris tak terdengar. Suasana kerja pun berganti menjadi ritme yang lebih tenang, berfokus pada penataan material dan penyelesaian detail interior. Meski demikian, atmosfer kerja di area proyek tetap menunjukkan disiplin keselamatan yang konsisten.

Sejak melangkah masuk, pengunjung disambut oleh papan informasi proyek yang bukan hanya memajang visual bangunan, tetapi juga berfungsi sebagai gerbang pengingat bahwa setiap orang di dalamnya adalah bagian dari sistem keselamatan yang harus dihormati.

Keselamatan yang Konsisten

Di tengah rutinitas akhir yang tampak sederhana, penerapan HSE tetap berjalan detail. Bapak Yaturi Setianto, Petugas HSE dari PT. Nindya Karya, terlihat teliti melakukan pengecekan material baru yang tiba, mencatatnya dalam sistem pendataan. Ketelitian ini mengajarkan satu hal: Keselamatan tidak berhenti ketika risiko besar berkurang. Justru, pada tahap penyelesaian, detail kecil menjadi sangat penting untuk memastikan tidak ada insiden yang merusak hasil akhir kerja keras.

Komunikasi Santai, Aturan Tetap Jelas

Hal paling menarik yang terlihat di lapangan adalah interaksi antarpekerja dan petugas HSE. Tidak ada suasana tegang atau terlalu formal. Arahan diberikan secara sederhana dan komunikatif, namun tetap tegas pada standar aturan. Pekerja merespons instruksi dengan cepat, menunjukkan bahwa keselamatan tidak lagi terasa seperti “aturan yang ditempel,” melainkan telah meresap menjadi bagian dari pola pikir mereka.

Budaya keamanan di proyek ini terasa seperti kebiasaan baik yang dibangun perlahan—bukan karena dipaksa, tetapi karena sudah dipahami dan disadari nilainya. Hal ini membuktikan bahwa budaya keselamatan dapat tumbuh subur melalui konsistensi, komunikasi terbuka, dan praktik nyata yang berkelanjutan, bukan hanya sekadar seremoni formal.

Kesimpulan: Gedung Kokoh, Pekerja Selamat

Melihat langsung penerapan HSE di proyek Asrama Baru Unair memberikan pelajaran yang sangat berharga: keselamatan bukanlah sekadar prosedur teknis, melainkan sebuah ekosistem kerja yang dibangun melalui disiplin, komunikasi, dan kesadaran kolektif.

Ketika bangunan ini berdiri kokoh dan nantinya ramai dihuni oleh mahasiswa, mungkin tak banyak yang akan menyadari proses disiplin panjang di baliknya. Namun, bagi yang pernah melihatnya dari dekat, jelas bahwa gedung ini bukan hanya sekadar konstruksi fisik. Ia adalah wujud nyata dari budaya kerja aman yang berhasil diukir.

Ketika sebuah proyek konstruksi berjalan tidak hanya untuk menyelesaikan bangunan, tetapi juga untuk menjaga manusia yang bekerja di dalamnya, maka nilai keselamatan telah bertransformasi: dari sekadar aturan menjadi etika, dari instruksi menjadi kebiasaan.

Karena pada akhirnya, bangunan itu penting, tetapi memastikan setiap orang pulang dengan selamat jauh lebih penting.

Penulis: Mutiara Az-Zahra Putri Santoso, mahasiswa Universitas Airlangga Fakultas Vokasi Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Editor: Handayat