Di tengah perubahan musim yang tak menentu, rumah sakit kembali menjadi tempat bertemunya berbagai kecemasan manusia. Setiap sudut ruang tunggu memiliki kisah yang berbeda—tentang rasa tidak nyaman, kondisi kulit yang tiba-tiba memburuk, hingga kekhawatiran yang muncul tanpa tanda. Musim yang sulit ditebak ini membuat banyak orang datang mencari kejelasan, dan poliklinik kulit pun menjadi saksi dari derasnya keluhan masyarakat.
Di balik antrian yang tampak seperti rutinitas pelayanan, terdapat sebuah realitas yang jarang diperhatikan: betapa besarnya peran empati dalam proses penyembuhan. Pada hari itu, seorang dokter kulit menjalankan tugasnya dengan ketenangan yang hampir kontras dengan ramai dan gelisahnya ruangan. Pasien datang satu per satu, membawa keresahan yang berbeda, namun seluruhnya ditanggapi dengan kesabaran dan perhatian penuh. Dokter tersebut tidak hanya menjawab keluhan, tetapi juga memvalidasi perasaan para pasien—sebuah sikap yang seringkali menjadi penenang pertama sebelum terapi diberikan (Rahayuningsih, 2023). Menurut Bylund dan Makoul (2002), validasi emosional ini mencapai level 4-5 empati, di mana dokter tidak hanya mengonfirmasi perasaan pasien tetapi juga berbagi pengalaman, sehingga membangun therapeutic alliance yang kuat (Bylund and Makoul, 2002)
Penjelasan yang disampaikan kepada pasien tidak hanya bersifat klinis, tetapi juga disertai kesadaran bahwa sebagian keluhan muncul dari kecemasan. Di sinilah terlihat bahwa komunikasi efektif bukan hanya soal ketepatan informasi, melainkan tentang bagaimana seseorang merasa didengarkan. Ketika seorang pasien menunjukkan ketakutan akan kondisi kulitnya, dokter merespons dengan nada lembut yang mengurangi beban pikiran. Ketika pasien lain kebingungan karena gejala yang berubah-ubah, dokter memberikan uraian logis yang mampu mengembalikan rasa kontrol pada diri pasien.
Di tengah kesibukan itu, tampak pula para koas atau dokter muda yang mengamati dengan penuh ketelitian. Mereka berdiri di sudut ruangan, mencatat, memperhatikan, dan menyimak setiap langkah yang dilakukan dokter senior. Tidak ada jarak yang kaku; sebaliknya, mereka dipersilakan mendekat, mengamati proses pemeriksaan, dan menerima penjelasan tambahan. Dengan cara itu, proses belajar kedokteran terlihat bukan sebagai kegiatan terpisah, melainkan bagian organik dari pelayanan kesehatan sehari-hari. Dokter memberikan ruang bagi generasi penerus untuk memahami bahwa kedokteran tidak hanya bertumpu pada ilmu, tetapi juga pada cara memperlakukan manusia, sebagaimana dibuktikan oleh metode Narrative Medicine yang meningkatkan empati mahasiswa kedokteran hingga 15% melalui observasi klinis (Jurnal UMSU, 2025).
Di sela berbagai aktivitas klinis, dokter tersebut masih sempat menyampaikan pesan dan nasihat kepada mahasiswa kedokteran yang hadir. Bukan tentang kompetensi teknis semata, tetapi tentang pentingnya menjaga ketulusan hati dalam setiap tindakan. Dalam dunia medis, logika memang menjadi fondasi pengambilan keputusan—diagnosis harus tepat, terapi harus sesuai, dan setiap tindakan membutuhkan dasar ilmiah. Namun logika tanpa empati dapat mengubah hubungan dokter-pasien menjadi hubungan transaksional yang kering. Ketika ketulusan hadir, hubungan itu berubah menjadi ruang pemulihan emosional yang sangat dibutuhkan pasien.
Dari sudut pandang pemikiran kritis, peristiwa sederhana di ruang poliklinik itu menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak pernah murni bersifat teknis. Terdapat unsur interpersonal yang tak dapat digantikan oleh pengetahuan semata. Dalam banyak kasus, pasien yang datang bukan hanya membutuhkan obat, tetapi juga pemahaman, penjelasan yang menenangkan, dan keyakinan bahwa kondisinya ditangani dengan hati-hati. Di sinilah terlihat hubungan erat antara logika dan empati: keduanya tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi. Logika memberikan arah tindakan, sementara empati menjaga agar tindakan tersebut tetap berlandaskan kemanusiaan.
Ketika seorang dokter memberikan perhatian sepenuhnya kepada pasien, perubahan yang terjadi bukan hanya pada aspek klinis, tetapi juga psikologis. Pasien merasa dihargai, dipahami, dan diterima. Perasaan ini dapat menurunkan tingkat stres, memperbaiki kepatuhan terhadap terapi, dan membantu proses penyembuhan secara keseluruhan. Sebaliknya, pelayanan yang terburu-buru atau kurang tulus berpotensi menciptakan jarak emosional yang membuat pasien ragu, takut, atau bahkan enggan melanjutkan perawatan.
Ruang poliklinik itu menjadi pengingat bahwa tugas seorang dokter bukan hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga merawat ketenangan batin pasien. Kombinasi antara ketepatan ilmiah dan ketulusan hati merupakan fondasi pelayanan medis yang ideal. Di ruang yang sederhana tersebut, tampak jelas bahwa kedokteran adalah profesi yang menuntut kecermatan berpikir sekaligus kepekaan nurani.
Pengalaman di ruang poliklinik kulit itu menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan terbaik lahir dari keseimbangan antara logika dan kemanusiaan. Dunia medis tidak hanya membutuhkan dokter yang terampil, tetapi juga dokter yang mampu melihat pasien sebagai manusia dengan perasaan, kekhawatiran, dan harapan. Ketika empati hadir berdampingan dengan ilmu pengetahuan, proses penyembuhan tidak lagi sekadar tindakan medis, tetapi menjadi perjalanan yang menghargai martabat manusia secara utuh.
Penulis: Pashabeta Puspita Khoirunnisa – Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga – NIM: 111251054
Daftar Pustaka
Rahayuningsih, L.A.S. (2023) ‘Pengaruh empati, kepuasan pasien’, [Online]. Available at: https://ojs.udb.ac.id/infokes/article/view/3130 (Accessed: 5 December 2025).
Bylund, C.L. and Makoul, G. (2002) Empathic communication in physician-patient encounters. [s.l.]: Carma L. Bylund & Gregory Makoul.
Jurnal UMSU (2025) ‘Metode Narrative Medicine yang Efektif sebagai Pembelajaran Empati pada Mahasiswa Kedokteran: Sebuah Tinjauan Sistematis’, [Online]. Available at: https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/JIH/article/view/22541 (Accessed: 5 December 2025).








