JATENGKU.COM, DEMAK – Setiap hari, pesisir Desa Betahwalang disibukkan oleh deru mesin perahu yang kembali dari laut. Para nelayan membawa pulang harta karun utama desa ini: rajungan. Meskipun volume tangkapannya berfluktuasi mengikuti musim, komoditas yang dijuluki “emas biru” ini menjadi tumpuan hidup yang dapat diandalkan sepanjang tahun, dengan potensi produksi harian mencapai 1 hingga 2 ton.
Di balik potensi besar tersebut, tersimpan kisah perjuangan, kearifan lokal, dan mimpi yang menanti untuk diwujudkan. Potret kehidupan nelayan ini tergambar jelas dari hasil riset, survei, dan wawancara mendalam yang dilakukan oleh Tim 95 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro selama periode pengabdian mereka di Desa Betahwalang, yang berhasil mengungkap berbagai lapisan harapan dan tantangan.
Kearifan Lokal di Balik Harga Rajungan
Di dermaga, kualitas rajungan dengan mudah dibedakan. Syaifudin, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Jolo Sutro, menjelaskan bahwa metode penangkapan sangat menentukan harga jual. Nelayan yang menggunakan “bubu” atau jebak, harus berangkat tengah malam dan pulang sore hari dengan operasional yang lebih rumit. Namun, hasilnya sepadan. “Rajungan hasil bubu lebih gemuk, masih hidup, dan berkualitas tinggi,” ujarnya. Harga jualnya pun bisa mencapai Rp 97.000 hingga Rp 105.000 per kilogram.
Sebaliknya, nelayan “pukat” yang beroperasi di siang hari dengan lebih praktis, biasanya membawa pulang rajungan yang sudah mati dan lebih kurus. Kualitas yang lebih rendah ini tercermin dari harganya yang hanya sekitar Rp 60.000 hingga Rp 75.000 per kilogram. Perbedaan harga ini menjadi insentif alami bagi nelayan untuk memilih metode yang lebih berkelanjutan.

Mimpi Pabrik Pengolahan yang Pernah Patah
Meskipun hasil laut melimpah, keuntungan terbesar belum sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat Betahwalang. Daging rajungan mentah dikirim ke Demak, sementara cangkangnya bisa diolah menjadi bahan kosmetik atau pakan ikan di tempat lain. Keinginan untuk mendirikan mini plant pengolahan rajungan di desa sendiri sangatlah kuat. Hal ini didasari oleh tantangan yang kerap dihadapi saat menjual ke pengepul di luar daerah. “Masyarakat Betahwalang menginginkan mini plant lokal agar lebih dekat… karena saat menjual ke luar daerah, harga yang diterima seringkali tidak sesuai harapan. Adanya potongan harga atau kriteria ukuran rajungan yang ketat menjadi tantangan tersendiri,” ungkap salah satu warga.
Harapan ini pernah hampir terwujud. Sebuah rencana pembangunan mini plant bahkan sempat disetujui, namun pada akhirnya gagal terealisasi. Kini, masyarakat, terutama para perempuan yang berpotensi besar untuk diberdayakan dalam proses pengolahan, berharap mimpi yang pernah patah itu dapat diperjuangkan kembali.
Mangrove: Perisai Pesisir, Bukan Peningkat Penghasilan
Sejak 2016, Desa Betahwalang memang gencar melakukan program konservasi mangrove dengan target 20 hektar. Inisiatif ini digerakkan oleh para petani tambak lokal yang berkolaborasi erat dengan NGO internasional, Wetlands International, melalui program Building with Nature. Sementara itu, instansi pemerintah seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) serta Bappeda turut memantau perkembangan program tersebut.
Namun, wawancara dengan nelayan mengungkapkan sebuah fakta penting. “Mangrove yang berada di pinggir tidak berpengaruh terhadap penghasilan nelayan. Dampak yang dirasakan hanya terkait abrasi pantai,” tegas Syaifudin.
Kesaksian ini meluruskan anggapan umum. Bagi masyarakat Betahwalang, fungsi utama sabuk hijau mangrove bukanlah untuk meningkatkan hasil tangkapan rajungan, melainkan sebagai benteng pertahanan vital. Dengan terjadinya abrasi seluas 3-4 hektar pada tahun ini, keberadaan mangrove menjadi perisai yang melindungi pemukiman dan ekosistem darat dari gerusan ombak laut.

Tantangan yang Masih Menghadang

Perjuangan nelayan Betahwalang tidak berhenti pada satu aspek. Di bidang konservasi, upaya untuk mendapatkan subsidi bahan bakar untuk operasional pernah diajukan, namun belum membuahkan hasil. Kelompok nelayan juga merasa distribusi bantuan yang diterima belum merata, dimana ada kelompok yang jarang aktif justru kerap menerima bantuan besar, sementara janji bantuan mesin untuk salah satu kelompok nelayan paling aktif di desa pun tidak kunjung direalisasikan.
Di sisi lain, potensi produk olahan mangrove seperti “bidodo” juga belum tergarap maksimal karena terkendala strategi pemasaran dan branding, meskipun kemampuan produksi sudah dimiliki warga.
Dengan tatapan mata yang jernih, masyarakat Betahwalang memahami betul tantangan dan potensi yang mereka miliki. Mereka tidak hanya menunggu bantuan, tetapi terus berjuang dengan kearifan yang mereka punya, berharap “emas biru” dari laut mereka suatu saat nanti bisa diolah di tanah mereka sendiri.
Penulis: Reswara Fawwaz Achmad











