JATENGKU.COM, SURAKARTA — Saya adalah mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia semester tiga UIN Raden Mas Said Surakarta. Sebuah pengalaman pahit pernah menimpa saya, yaitu menjadi korban bully secara tidak langsung, hanya karena warna jas almamater hijau yang saya kenakan. Sebuah tragedi kecil yang memperlihatkan betapa dangkalnya cara sebagian generasi bangsa ini menilai sesuatu. Dari kejadian kecil itu, ada satu pertanyaan yang terus menggema: sejak kapan warna jas menentukan nilai seseorang?

Miris rasanya, di tengah gegap gempita kemajuan pendidikan, masih ada generasi bangsa yang menilai substansi hanya dari tampilan luar. Ejekan itu datang dari anak-anak sekolah yang enteng menyamakan almameter hijau UIN Surakarta ini dengan seragam ojek online atau menyebutnya green screen. Lebih konyol, tatapan sinis dan komentar nyinyir kerap datang dari masyarakat umum, seolah-olah sehelai jas mampu menentukan kualitas otak pemakainya. Padahal, UIN Raden Mas Said Surakarta adalah kampus berprestasi yang menolak dinilai dari warna kain.

Institusi ini menunjukkan ambisi globalnya dengan aktif berpartisipasi dalam pemeringkatan terkemuka seperti QS World University Rankings dan Times Higher Education (THE). UIN Surakarta juga menduduki Peringkat ke-110 dari 435 universitas Islam terbaik dunia (UniRank 2025), Peringkat ke-20 PTKIN versi Webometrics 2024, dan Peringkat ke-96 dari 2.239 perguruan tinggi di Indonesia versi AD Scientific Index. Bukan hanya itu, UIN Raden Mas Said Surakarta sukses meraih Juara 1 Arjuna Awards (Februari 2025) dan membukukan dua Rekor MURI, termasuk Rekor Transaksi Bersama ETF Syariah Terbanyak (1.680 peserta) serta Rekor PTKIN dengan Pendaftar Baru Mancanegara Terbanyak.

Ejekan tidak hanya datang dari luar, tapi justru tumbuh subur dari dalam. Sebagian mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta justru bangga ikut-ikutan minder. Alih-alih mengangkat kebanggaannya sendiri, mereka sibuk menyanjung almamater universitas tetangga, seolah warna hijau yang kita kenakan hanyalah noda memalukan. Mereka membandingkan, merasa rendah diri hanya karena identitas berbeda, lalu dengan cepat menanggalkan simbolnya demi selembar pengakuan murahan. Mental yang membuat kita merasa rendah di hadapan simbol lain yang tampak lebih “modern”, lebih “bergengsi”, atau lebih “keren”. Padahal, semua universitas punya nilai dan sejarahnya masing-masing. Perguruan tinggi di negeri ini rupanya tidak lagi dinilai dari mutu ilmu, melainkan dari nuansa warna kain yang melekat di tubuh mahasiswanya. Luar biasa, betapa dangkalnya.

Saya bahkan sering mendengar celetukan dari teman sendiri, “Gah, ijo banget, isin didelok wong-wong.” Dalam bahasa Indonesia artinya, “Tidak mau ah, malu dilihat orang-orang.” Kalimat sederhana itu mungkin terdengar remeh, tetapi justru mencerminkan betapa dalamnya rasa minder yang sudah menggerogoti. Almamater yang seharusnya dikenakan dengan bangga justru diperlakukan seperti aib yang harus ditutup rapat-rapat. Masalah rasa malu terhadap almamater sejatinya berakar pada krisis identitas mahasiswa di era digital.

Komentar konyol seperti “menyolok dan green screen” atau kilah “almamater kan cuma kain” adalah bentuk kemalasan berpikir yang pengecut dan tidak layak diberi toleransi. Warna hijau itu adalah makna, simbol, dan ideologi lambang ketenangan dan harmoni. Sehingga jika pemiliknya gagal membaca esensi tersebut, mereka wajar saja ditertawakan orang lain. Ironisnya, ketika kita ikut-ikutan mencibir, bukankah itu sama saja menertawakan harga diri kolektif yang kita sandang? Secara material memang sehelai kain, namun secara hakikat, almamater adalah artefak suci yang menjahit harapan orang tua dan mimpi besar mahasiswa. Benda mati yang diberi nyawa oleh keringat, doa, dan sejarah panjang berdirinya kampus. Singkatnya, almamater adalah simbol identitas kolektif yang tak ternilai harganya, jauh melampaui anggapan picik bahwa ia sekadar jahitan benang murahan.

Benedict Anderson, melalui bukunya yang berjudul Imagined Communities, menyatakan bahwa inti dari komunitas yang dibayangkan adalah kemampuan jutaan individu untuk percaya pada ikatan persatuan dan kolektivitas tanpa harus didasarkan pada interaksi tatap muka, melainkan pada keyakinan bersama. Dalam konteks yang lebih kecil, jas almamater bekerja dengan mekanisme serupa. Almamater hijau bukan hanya pakaian, namun juga medium kolektif, yang ketika dikenakan, memaksa pemakainya dan pengamat untuk membayangkan sebuah solidaritas yaitu rasa “kita” yang seperjuangan, terlepas dari kenyataan bahwa mereka mungkin asing, menegaskan bahwa identitas bersama dapat diciptakan hanya melalui pembayangan simbol.

Lucunya, sebagian lembaga pendidikan tinggi justru ikut membiarkan citra semacam ini tumbuh. Selama branding universitas lebih banyak dipoles lewat baliho dan lomba seremonial ketimbang kualitas riset dan publikasi, wajar jika warna kain lebih dikenal publik daripada gagasan yang lahir dari ruang kuliahnya. Namun, UIN Raden Mas Said Surakarta membuktikan dirinya fokus pada substansi, tidak hanya dari institusi, tetapi juga dari sumber daya manusia.

Sebanyak 69 dosen telah lulus Sertifikasi Dosen Profesional pada Januari 2025, dan dosen kami secara individu berprestasi seperti Guru Besar Prof. Rahmawan Arifin yang menerima penghargaan “Tokoh Penggerak Literasi Inklusi Keuangan Solo Raya 2024” dari OJK, serta Dosen FEBI Arif Nugroho, M.Pd., yang dinobatkan sebagai peneliti terbaik versi Sinta. Kualitas ini diperkuat oleh dosen yang menyelesaikan gelar doktoral dari University of Western Australia dan menghasilkan karya ilmiah internasional. Sementara di tingkat mahasiswa, prestasi juga merata: UKM Musik GAS-21 meraih Medali Emas (Gold Medal) kategori Folklore di KICC 2025, lima mahasiswa menyabet Medali Perak Social Science di Bali International Science Fair (BISF 2025), hingga capaian di bidang olahraga yaitu medali Taekwondo dan POMPROV Jateng. Serta kepemimpinan terpilihnya salah itu mahasiswa sebagai The Most Outstanding Participant pada Dai Millennial.

Namun, persoalan minder yang hanya berfokus pada simbol sejatinya adalah gejala permukaan dari krisis identitas mahasiswa di era modern. Mahasiswa hari ini hidup di tengah budaya pembanding yang brutal, di mana validasi sosial diukur dari estetika digital, viralitas di media sosial, dan pencitraan semata. Mereka didorong untuk bangga bukan karena kedalaman gagasan yang mereka hasilkan, melainkan karena tingginya gengsi yang mereka kenakan. Sayangnya, perhatian kita telah bergeser. Inilah generasi yang lebih sibuk menghafal efek cantik ponsel elit daripada memperjuangkan nilai kemanusiaan. Generasi yang lebih cepat menilai dari warna almamater daripada integritas isi pikiran.

Padahal, tugas mahasiswa bukan hanya mengejar IPK, apalagi citra. Mahasiswa adalah pewaris tugas intelektual mengkritik, membangun, dan memberi makna baru bagi tanda-tanda zaman. Menjadi mahasiswa UIN Raden Mas said Surakarta dengan almamater hijau, mestinya bukan beban sosial tapi kebanggaan ideologis, karena di baliknya ada sejarah panjang perjuangan ilmu yang berakar pada nilai Islam, humanisme, dan keberanian berpikir kritis.

Pendidikan dipandang sebagai jalan menuju martabat, di mana ilmu adalah senjata terampuh untuk mengubah dunia, dan dalam konteks itu, almamater adalah panji yang wajib kita banggakan. Merujuk pada pandangan Ki Hajar Dewantara dan Nelson Mandela, almamater bukan sekadar pakaian formal, melainkan simbol identitas kolektif yang menumbuhkan sense of belonging dan bertindak sebagai penanda yang menyatukan barisan “tentara” ilmu. Oleh karena itu, malu atau meremehkan almamater bukanlah sekadar urusan selera, melainkan sikap mundur sebelum perang dimulai. Kesadaran akan simbolisme ritual ini sangat krusial jika panji saja kita anggap remeh, artinya kita belum siap menyandang “senjata” ilmu yang diamanatkan, padahal identitas kolektif ini adalah modal utama untuk segera bergerak, bukan berdiam diri dalam kecemasan.

Bukankah mahasiswa seharusnya menjadi agen perubahan yang berani berdiri paling depan menghadapi stigma? Ironis sekali kalau mereka yang katanya calon intelektual justru ciut nyali gara-gara warna kain. Masa iya pejuang masa depan tumbang hanya karena almamaternya hijau ngejreng? Kalau minder hanya karena perbedaan shade warna, lantas di mana letak kritis dan intelektualnya? Padahal, melawan ejekan tidak butuh orasi lantang atau aksi heroik. Cukup kenakan almamater green screen itu dengan percaya diri, isi dengan prestasi, dan biarkan karya nyata yang bicara. Sebab, ejekan paling nyaring pun akan terdengar kerdil ketika berhadapan dengan pencapaian.

Warna hijau almamater UIN Raden Mas Said Surakarta bukanlah aib, melainkan cerminan kedewasaan, pertumbuhan, dan perjuangan otentik yang membedakan kita dari kampus lain yang mungkin lahir dari kemewahan. Daripada terus menjadi komedian murahan yang menertawakan diri sendiri, kita harus berdiri tegak melawan stigma dangkal tersebut, sebab nilai sejati seseorang tidak pernah ditentukan oleh label warna di pundak, melainkan oleh cara kita berpikir, bertindak, dan menumbuhkan ilmu, iman, serta kemanusiaan. Ketika generasi ini berhasil memberi makna yang tak terbantahkan di baliknya, hijau ini akan menjadi pernyataan kehormatan bahwa menjadi mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta adalah kebanggaan yang pantas diperjuangkan.

Ditulis oleh Aulia Sall Sabilla Wibowo, mahasiswi semester tiga Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia, fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.

Editor: Handayat