JATENGKU.COM, Klaten – Masalah pengelolaan sampah di tingkat desa seringkali terbentur pada efisiensi armada dan sistem monitoring yang kurang terpadu. Memahami urgensi tersebut, Rama Rizkiyarso, mahasiswa Arsitektur dari KKN Reguler Tim 1 Kelompok 95 Universitas Diponegoro (Undip), menginisiasi program infrastruktur sampah melalui pembuatan Denah Sirkulasi Pengambilan Sampah dan Pemetaan Bank Donasi Plastik di Desa Ngandong, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten.
Fokus utama dari program ini bukanlah pengadaan fisik, melainkan penyediaan blueprint strategis yang meliputi denah sirkulasi pengangkutan sampah dan pemetaan titik bank donasi plastik guna mendukung kemandirian desa di masa mendatang.

Langkah strategis ini dilaksanakan secara terstruktur melalui tiga tahapan utama:
- Fase Observasi dan Survey (6 – 26 Januari 2026): Rama melakukan identifikasi lapangan secara menyeluruh dengan menyusuri setiap wilayah di Desa Ngandong. Fokus utama survey adalah memetakan titik kepadatan sampah dan menganalisis rute jalan yang dapat dilalui oleh armada pengangkut sampah (Tossa).
- Fase Perancangan dan Digitalisasi (27 – 29 Januari 2026): Data lapangan diolah menjadi denah teknis yang mencakup sirkulasi pengambilan sampah, titik persebaran sampah eksisting, serta titik strategis penempatan bank donasi sampah plastik.
- Finalisasi dan Penyerahan (4 Februari 2026): Hasil rancangan diserahkan secara resmi kepada perangkat Desa Ngandong sebagai pedoman operasional jangka panjang bagi pengelola TPS3R dan pemuda desa.
Inovasi Sistem: Efisiensi Rute dan Inklusivitas
Program ini memfokuskan pemetaan pada empat wilayah utama dan sekitarnya, yakni Dukuh Bometen, Banyuurip, Tegal Ngandong, serta kawasan Bulurejo, Ngoreyan, dan Jenon.
1. Denah Sirkulasi “Sekali Jalan”
Untuk mencegah beban berlebih (overload) pada armada Tossa dan meminimalisir biaya operasional, perancangan rute pengambilan sampah memungkinkan petugas menyelesaikan seluruh area dalam satu kali perjalanan. Menariknya, denah ini dirancang dengan pendekatan visual yang intuitif agar mudah dipahami oleh seluruh pengelola TPS3R, termasuk staf yang memiliki keterbatasan literasi (buta aksara).
2. Monitoring Titik Persebaran Sampah
Peta ini berfungsi sebagai alat kontrol bagi pemerintah desa untuk melakukan peninjauan berkala. Dengan titik koordinat yang jelas, pembersihan area yang rawan penumpukan sampah dapat dilakukan lebih cepat dan terukur.
3. Plotting Bank Donasi Plastik untuk Kemandirian Ekonomi
Plotting titik-titik strategis untuk penempatan “Bank Donasi Sampah Plastik” di area dengan traffic tinggi, pusat pertokoan, dan lokasi acara desa. Peta ini disiapkan agar pemuda desa memiliki landasan kuat saat mengajukan pengadaan fisik melalui Dana Desa. Dengan adanya titik-titik ini, diharapkan sampah plastik botol dapat terpusat, mengurangi polusi, dan menjadi sumber kas mandiri bagi organisasi pemuda.
Meskipun program ini berfokus pada ranah pemetaan dan perencanaan, manfaatnya dirasakan langsung sebagai landasan pembangunan desa ke depan. Salah satu perwakilan pemuda desa menyatakan:
“Adanya perencanaan bank sampah ini bakal sangat membantu agar ke depannya pemuda punya kas mandiri dan mengurangi meminta donasi ke warga.”
Sekretaris Desa Ngandong juga memberikan apresiasi terhadap dokumen perencanaan yang dihasilkan:
“Sangat membantu untuk keperluan monitoring kebersihan desa secara berkala.”

Meskipun program ini berfokus pada ranah pemetaan dan perencanaan, manfaatnya dirasakan langsung sebagai landasan pembangunan desa ke depan. Arsitektur dalam konteks ini tidak hanya berbicara tentang merancang bangunan, tetapi juga menata sistem sirkulasi yang efektif agar kawasan mampu mendukung pergerakan armada secara optimal, meningkatkan efisiensi operasional, serta menciptakan lingkungan desa yang lebih tertata dan responsif terhadap kebutuhan warganya.











