JATENGKU.COM, BOYOLALI – Di tengah arus modernisasi yang kian kencang, eksistensi sejarah lokal sering kali tersisih ke sudut-sudut ingatan para tetua desa. Tanpa adanya dokumentasi yang sistematis, narasi kolektif mengenai asal-usul sebuah daerah berisiko hilang ditelan zaman. Dalam upaya memperkuat identitas wilayah dan daya tarik desa, Josephira, seorang mahasiswa dari jurusan Sastra Inggris Universitas Diponegoro (Undip), melaksanakan program pengabdian masyarakat yang bertajuk “Optimalisasi Narasi Kolektif dan Sejarah Lokal Desa melalui Dokumentasi Literasi Bilingual sebagai Sarana Branding Desa Teras”.
Program ini merupakan inisiatif literasi yang bertujuan untuk mendokumentasikan asal-usul, legenda, dan sejarah lokal Desa Teras ke dalam bentuk fisik yang informatif. Josephira, sebagai penggagas, menyusun narasi sejarah tersebut dalam dua bahasa (Bilingual), yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dengan latar belakang keilmuan Sastra Inggris, Josephira melihat peluang untuk membawa narasi lokal ini ke tingkat yang lebih tinggi. Bahasa Inggris dipilih bukan untuk gaya-gayaan, melainkan sebagai alat branding global. Di masa depan, ketika Desa Teras ingin mengembangkan sektor ekowisata atau edukasi budaya, materi literasi ini sudah tersedia dan siap dikonsumsi oleh audiens internasional.
Langkah ini diambil karena banyaknya sejarah lisan (narasi kolektif) di masyarakat yang belum terdokumentasi dengan baik secara tertulis. Dengan menyajikannya dalam format bilingual, Desa Teras tidak hanya memiliki arsip sejarah untuk warga lokal, tetapi juga memiliki materi promosi atau branding yang dapat diakses oleh khalayak luas, termasuk wisatawan mancanegara atau peneliti di masa depan.
Proses diawali dengan pengumpulan data melalui riset narasi kolektif masyarakat dari berbagai dokumen tertulis. Alih-alih hanya membuat buku tebal yang mungkin jarang dibaca, Josephira memilih format poster infografis yang menyerupai surat kabar klasik (Broadsheet). Poster ini diberi judul “Asal-Usul dan Sejarah Desa Teras, Historical Edition: A Journey from Legend to Modernity”.
Dalam acara pemaparan, Josephira mempresentasikan detail program di hadapan perangkat desa dan rekan-rekan mahasiswa KKN lainnya. Acara ditutup dengan penyerahan poster sejarah desa secara langsung kepada Bapak Santoso sebagai aset literasi Desa Teras. Penyerahan hasil dokumentasi ini dilakukan secara simbolis kepada perwakilan perangkat desa dengan didampingi oleh Bapak Santoso, selaku Kepala Desa Teras. Kegiatan pemaparan program dan penyerahan dokumentasi dilaksanakan secara formal di Kantor Kepala Desa Teras, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali pada tanggal 29 Januari 2026.

“Dokumentasi sejarah ini diharapkan menjadi langkah awal agar generasi muda Desa Teras tidak lupa akan akar budayanya, sekaligus menjadi nilai tambah dalam branding desa di era digital,” ujar Josephira dalam presentasinya.
Bapak Santoso menyambut baik inisiatif ini, mengingat pentingnya literasi sejarah yang selama ini hanya tersampaikan lewat mulut ke mulut. Beliau menilai bahwa dokumentasi ini adalah aset berharga bagi kantor desa. Kehadiran perangkat desa lainnya dalam sesi pemaparan juga menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara akademisi dan praktisi di lapangan. Diskusi yang terjadi selama pemaparan memperlihatkan antusiasme warga dalam melihat potensi desa mereka melalui kacamata yang lebih luas.
Melalui program ini, Josephira telah berhasil membuktikan bahwa ilmu humaniora, khususnya Sastra Inggris, memiliki aplikasi praktis yang sangat luas dalam pembangunan desa. Program ini menutup celah antara masa lalu yang legendaris dan masa depan yang digital. Harapannya, inisiatif ini tidak berhenti sampai di sini. Poster sejarah tersebut diharapkan menjadi pemicu bagi munculnya inisiatif-inisiatif serupa, seperti pembuatan video dokumenter desa atau pengembangan wisata sejarah berbasis masyarakat.







