JATENGKU.COM, Klaten — Pasca terjadinya bencana gempa, masyarakat Desa Jogoprayan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, masih dihadapkan pada berbagai permasalahan lanjutan, salah satunya terkait keselamatan penggunaan listrik rumah tangga. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, sebagian besar warga belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai kondisi instalasi listrik pasca gempa, terutama terkait potensi kerusakan tersembunyi seperti kabel terkelupas, sambungan longgar, hingga pergeseran posisi stop kontak dan panel listrik. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko korsleting, kebakaran, serta kecelakaan listrik yang membahayakan keselamatan penghuni rumah.

Rendahnya literasi keselamatan listrik menyebabkan banyak warga tetap menggunakan instalasi yang terdampak tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Beberapa rumah masih menyalakan peralatan elektronik meskipun terdapat retakan pada dinding yang berdekatan dengan jalur kabel, serta panel listrik yang tidak lagi terpasang dengan kokoh. Praktik tersebut menunjukkan bahwa ancaman pasca bencana tidak hanya berasal dari kerusakan fisik bangunan, tetapi juga dari sistem kelistrikan yang tidak terlihat secara kasat mata namun memiliki risiko tinggi.

Menanggapi kondisi tersebut, dilaksanakan Program Edukasi & Implementasi Keselamatan Listrik sebagai Upaya Mitigasi Bencana Rumah Tangga (SIGAP-LISTRIK). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam mengenali bahaya listrik pasca bencana serta memberikan pemahaman praktis terkait langkah-langkah penanganan instalasi listrik yang aman. Melalui sosialisasi langsung, warga diberikan edukasi mengenai tanda-tanda kerusakan instalasi listrik, fungsi MCB dan grounding, serta pentingnya mematikan sumber listrik sebelum melakukan pemeriksaan atau perbaikan.

Selain edukasi teori, SIGAP-LISTRIK juga mengedepankan pendekatan implementatif dengan melakukan simulasi inspeksi instalasi listrik sederhana di beberapa rumah warga. Masyarakat diajak untuk mengidentifikasi kabel yang tidak layak, sambungan yang tidak standar, serta potensi titik rawan korsleting. Kegiatan ini bertujuan agar warga tidak hanya memahami konsep keselamatan listrik, tetapi juga mampu melakukan langkah mitigasi awal secara mandiri sebelum mendapatkan bantuan teknisi profesional.

Melalui program SIGAP-LISTRIK, masyarakat Desa Jogoprayan mulai menyadari bahwa keselamatan listrik merupakan bagian penting dari mitigasi bencana rumah tangga. Edukasi ini diharapkan dapat menurunkan risiko kebakaran dan kecelakaan listrik pasca gempa, serta membentuk perilaku masyarakat yang lebih waspada dan peduli terhadap kondisi instalasi listrik di lingkungan tempat tinggal mereka. Program ini menjadi langkah awal dalam membangun budaya keselamatan listrik sebagai bagian dari ketahanan masyarakat terhadap bencana.

Penulis: Sebastian Henggar Hartanto Adi, Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro
DPL: Ichlasul Ayyub, S.S., M.Si.

Editor: Handayat

Tag