JATENGKU.COM, PEKALONGAN — Di sebuah sudut desa yang tenang, tepatnya di Desa Rembun, aroma tempe hangat yang keluar dari dapur Mas Anam selalu menjadi penanda aktivitas yang tidak pernah padam. Usaha tempe rumahan miliknya, yang dijalankan secara turun-temurun, kini mulai menapaki jalur baru: dunia digital. Transformasi sederhana namun penting ini muncul dari pendampingan yang dilakukan oleh Mahasiswa KKN-T IDBU Universitas Diponegoro Tim 15 Kelompok 6.
Proses pendampingan dilakukan secara bertahap mulai dari awal Juli 2025. Dimulai dengan sesi sosialisasi dan diskusi ringan mengenai pentingnya identitas usaha dan peluang pemasaran berbasis teknologi, program ini kemudian berkembang menjadi langkah nyata. Logo usaha dirancang untuk memperkuat branding, kemasan diperbarui agar lebih menarik dan informatif, banner usaha dicetak, titik lokasi usaha didaftarkan di Google Maps, hingga diperkenalkannya sistem pembukuan digital yang mudah diterapkan.
Puncak kegiatan berlangsung pada 20 Juli 2025, saat berbagai luaran diserahkan langsung kepada Mas Anam. Bagi sebagian orang, logo dan Google Maps mungkin terdengar sederhana. Namun bagi pelaku usaha kecil di desa, hal-hal ini menjadi pintu masuk menuju perubahan jangka panjang.
“Kami mencoba memahami usaha Mas Anam dari dalam—apa yang ia butuhkan, apa yang bisa dikembangkan tanpa mengubah jati diri usahanya. Yang kami lakukan bukan membangun sesuatu yang baru, tapi memperkuat apa yang sudah ada agar lebih siap bersaing di luar desa,” ujar Yeremia, salah satu mahasiswa anggota tim pendamping.

Menurut Kelompok 6, tantangan terbesar bukan pada aspek teknis, melainkan bagaimana membangun kepercayaan antara pelaku usaha dan mahasiswa. Pendekatan yang dilakukan pun dibuat sesederhana mungkin, agar terasa ringan, praktis, dan tidak mengintimidasi.
Mas Anam sendiri menyambut pendampingan ini dengan sikap terbuka. Meski awalnya mengaku ragu, ia kemudian merasa terbantu karena pendekatan yang dilakukan bersifat dialogis, bukan menggurui.
“Saya sempat mikir, ini anak-anak kuliah mau ngajari apa ya ke saya yang sudah tiap hari bikin tempe. Tapi ternyata yang mereka bawa justru hal-hal yang saya butuh tapi belum sempat saya pelajari. Saya merasa terbantu sekali,” ungkap Mas Anam.

Dengan logo baru, kemasan yang lebih representatif, dan informasi lokasi yang kini bisa diakses siapa pun lewat ponsel, produk Tempe Anam mulai membangun citra baru—tanpa kehilangan cita rasa lama. Tambahan sistem pencatatan keuangan digital juga membuat Mas Anam mulai terbiasa mencatat alur usaha, sesuatu yang sebelumnya hanya dilakukan secara ingatan.
Program ini merupakan bagian dari implementasi tema besar KKN-T IDBU Tim 15 Universitas Diponegoro tahun 2025, yakni:
“Pengembangan UMKM Melalui Teknologi Digital dan Kebudayaan sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan Menuju Desa Kreatif di Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan.”
Dalam pelaksanaannya, Tim 15 Kelompok 6 menjalankan kegiatan ini di bawah bimbingan para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu Riris Tiani, S.S., M.Hum., Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum., dan Dr. Nailul Fauziyah, S.Psi.,M.Psi., Psikolog. Pendekatan yang dilakukan bersifat partisipatif dan kolaboratif, memadukan keterampilan kreatif, komunikasi masyarakat, dan penguatan kapasitas usaha mikro secara bertahap.
Kisah Anam Tempe menjadi satu dari sekian bukti bahwa dengan pendampingan yang tepat, usaha kecil di desa tidak hanya bisa bertahan, tapi juga tumbuh dan menjangkau lebih luas. Bahwa kemajuan tidak harus menghapus nilai lokal, tapi justru bisa menguatkannya.
Dari sebuah dapur sederhana di Desa Rembun, tempe kini bukan sekadar makanan rumahan—ia menjadi simbol perubahan: tenang, bertahap, dan penuh harapan.










