JATENGKU.COM, SEMARANG — Dalam upaya mewujudkan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan serta mendukung mitigasi bencana banjir dan kekeringan, para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) dari program “Rabuk DTA dan Waduk Diponegoro: Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan untuk Mitigasi Bencana Banjir dan Kekeringan Berbasis DAS Mikro serta Mendukung Ketahanan Pangan” melaksanakan kegiatan pembuatan lubang resapan biopori di dua kecamatan di Kota Semarang, yakni Kecamatan Tembalang dan Kecamatan Banyumanik.

Kegiatan ini menjangkau 12 kelurahan dengan fokus utama pada pengurangan genangan air dan peningkatan daya resap tanah sebagai bagian dari sistem pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) mikro secara partisipatif dan berkelanjutan.

Apa Itu Biopori?

Lubang resapan biopori merupakan teknologi sederhana berupa lubang vertikal ke dalam tanah dengan diameter sekitar 10–30 cm dan kedalaman 80–100 cm. Lubang ini dibuat di sekitar area pekarangan, taman, atau saluran air, kemudian diisi dengan sampah organik. Teknologi ini pertama kali dikembangkan oleh Prof. Dr. Ir. Kamir Raziudin Brata dari Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai solusi alternatif pengelolaan air hujan dan sampah organik rumah tangga.

Fungsi utama biopori adalah mempercepat peresapan air ke dalam tanah sehingga mengurangi limpasan air yang dapat menyebabkan genangan bahkan banjir. Selain itu, biopori juga membantu meningkatkan kesuburan tanah karena proses dekomposisi sampah organik di dalam lubang menghasilkan kompos yang bermanfaat bagi tanaman.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Mahasiswa

Kegiatan pembuatan biopori oleh mahasiswa KKNT ini memiliki beberapa tujuan utama, yaitu:

1. Mengurangi Genangan dan Risiko Banjir Lokal

Dengan meningkatkan jumlah titik resapan di kawasan padat permukiman, air hujan dapat langsung meresap ke tanah tanpa menimbulkan genangan yang berpotensi merusak infrastruktur lingkungan dan menyebabkan penyakit.

2. Menanggulangi Kekeringan dan Menjaga Ketersediaan Air Tanah

Dengan meningkatkan daya resap tanah, cadangan air tanah akan terisi kembali secara alami. Hal ini penting untuk menjaga ketersediaan air saat musim kemarau.

3. Mendukung Ketahanan Pangan dan Lingkungan

Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori akan terurai menjadi kompos alami. Kompos ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertanian rumah tangga dan penghijauan lingkungan sekitar.

4. Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Kegiatan ini tidak hanya dilakukan secara teknis, tetapi juga melibatkan warga dalam proses pembuatan dan perawatan biopori. Diharapkan masyarakat dapat meneruskan kegiatan ini secara mandiri setelah program berakhir.

5. Kolaborasi Menuju Pengelolaan Air yang Berkelanjutan

Dengan pendekatan berbasis DAS mikro, mahasiswa KKNT menekankan pentingnya keterpaduan antara lingkungan fisik, sosial, dan kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya air. Pembuatan biopori di tingkat rumah tangga merupakan langkah awal yang strategis untuk memperkuat ketahanan lingkungan terhadap perubahan iklim serta mendukung keberlanjutan sumber daya air.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah kelurahan, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi dan model percontohan bagi wilayah lain dalam mengatasi tantangan bencana hidrometeorologi secara berkelanjutan dan berbasis komunitas.

Editor: Handayat