JATENGKU.COM, SEMARANG — Tumpuan sifatnya berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya. Bagi RW 01 Kelurahan Tambangan, Taman Setambran menjadi sumber harapan masyarakatnya. Pojok peristirahatan yang letaknya di sebelah Balai RW 01 ini muncul dari inisiatif kelompok masyarakat di sana.

Dari keinginan untuk mempercantik ruang yang umumnya menjadi titik temu, Taman Setambran kini menjadi destinasi favorit banyak orang. Mulai dari merasakan segarnya percikan air di kolam keceh sampai rindangnya pepohonan yang menyelimuti, Setambran adalah pelipur lara untuk orang yang mengunjunginya.

Keberadaan Taman Setambran masih sangat awet hingga kini. Sejumlah anak kecil kian berlalu-lalang tiap minggunya untuk menghabiskan waktu di sana. Seringkali, pengunjung pergi ke luar demi memenuhi rasa laparnya. Di sekitar Taman Setambran, terdapat berbagai macam UMKM yang marak didatangi pengunjung.

Sebagaimana keunikan Setambran, UMKM ini juga menonjolkan kekhasannya masing-masing. Sesuatu yang istimewa tidak boleh diabadikan dengan cara yang biasa. Oleh karena itu, dibuatlah program kerja booklet ‘Jajan di Setambran’ sebagai suatu cara untuk mengabadikan dan mempromosikan UMKM sekitar Setambran lewat katalog.

Maria Gratia Rosarina, mahasiswa KKN-T UNDIP Tim 85 Kelompok 1, mendokumentasikan masing-masing UMKM lewat tulisannya. Dengan menggunakan perspektif emik, Maria menelusuri bagaimana setiap UMKM bertumbuh dari cerita pendirinya. Di balik setiap makanan yang disajikan, terdapat jerih payah yang terukir di atasnya. Hidangan dalam UMKM adalah sekelebat kreasi dan inovasi dari masyarakat lokal.

Locavore dengan penekanan pada ‘lokal’ mengedepankan mereka yang berperan besar dalam eksistensi berbagai makanan. Pangan bukan lagi sekadar produk, melainkan juga bagian besar dari jati diri masyarakat yang memproduksi maupun yang mengonsumsi. Mengutip ucapan dari Robin Fox, ‘you eat what you are.’ Sebagai mahluk sosial yang membutuhkan makanan, apa yang dimakan manusia adalah simbol terkuat atas identitasnya. Demikian juga UMKM yang berada di sekitar Taman Setambran, representasi untuk pangan khas Tambangan.

Mahasiswa KKN-T UNDIP melaksanakan wawancara untuk pembuatan katalog.

Selama kurang lebih tiga minggu, Maria berkelana di wilayah Taman Setambran RW 01 Tambangan untuk mewawancarai berbagai pemilik UMKM. Tidak jarang sosoknya berjumpa dengan pengunjung yang mampir membeli jajanan di UMKM yang ia wawancarai. Terdapat dua jenis UMKM pangan di sekitar Taman Setambran: warung makan dan toko kelontong. Jenis yang berbeda ini tidak membatasi asosiasinya terhadap pangan khas Setambran.

Persis di depan Taman Setambran, terdapat Toko Raya yang dikelola oleh Ibu Wida. Terkadang, anak perempuannya turut membantu melayani pembeli yang berdatangan. Toko kelontong ini menyediakan berbagai jenis barang bagi siapapun yang membutuhkan. Makanan, minuman, sampai kebutuhan sehari-hari, seluruhnya ada di toko ini. Di samping Toko Raya, terdapat Warung Khanza yang seringkali ramai didatangi anak-anak.

Produk yang laris terjual adalah es yang segar diminum di siang hari. Warung ini juga menjual makanan seperti kentang goreng dan corndog. Toko kelontong selanjutnya letaknya di pojok yang berlawanan dari Toko Raya. Toko ini dijaga oleh Mbah Denah yang siap menyambut pembelinya dengan senyuman penuh kasih.

Mbah Denah menjual banyak jajanan sebagaimana toko kelontong biasanya. Selain dari jajan dan minuman yang dipajang, Mbah Denah juga membuka katering yang ramai dipesan masyarakat setempat.

Dua ikon warung makan Taman Setambran adalah Warung Gendar Pecel dan Warung Mie Ayam. Warung Gendar Pecel ‘Toko Dita’ sesuai namanya menawarkan sajian Gendar Pecel. Di samping sayuran segar yang penuh gizi dan manfaat, warung ini juga menyediakan gorengan untuk dimakan bersama. Sajian lezat tersebut dibanderol dengan harga Rp6000, jika menambah gorengan hanya perlu tambahan Rp1000.

Setelah Gendar Pecel, terdapat Warung Mie Ayam Mak Pah letaknya sedikit jauh dari Taman Setambran. Meski demikian, jaraknya masih dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Apabila memesan mie ayam di sini, pembeli dapat makan sambil menikmati indahnya hamparan hijau pohon dan lapangan di sampingnya.

Angin sepoi-sepoi yang bertiup menambah kenikmatan mie ayam yang dibuat sendiri oleh Mak Pah. Harganya pun masih sangat terjangkau, yakni Rp7000 untuk mie ayam biasa dan Rp10.000 untuk mie ayam goreng.

Penyerahan booklet ke pengurus Taman Setambran.

Keseluruhan cerita lengkap mengenai masing-masing UMKM pangan dapat dibaca lebih lanjut dalam katalog UMKM yang dibuat Maria. Katalog ini memiliki judul ‘Jajan di Taman Setambran!’ tersedia di pos penjualan tiket Taman Setambran. Katalog bisa dibaca pengunjung untuk mengetahui seluk-beluk dari UMKM yang terletak di sekitarnya. Di samping itu, katalog ini mencakup informasi terkait Taman Setambran: awal pendiriannya, harga tiket masuk, dan paket yang ditawarkan.

Katalog ini muncul dari inisiatif Maria untuk membantu pengunjung lebih mengenal UMKM di sekitar Taman Setambran. Sesuai dengan tema locavore, katalog membantu ketahanan pangan lewat pangan yang diproduksi langsung oleh masyarakat lokal. Dengan adanya katalog ini, eksistensi UMKM pangan dapat lebih diketahui oleh orang-orang yang mengunjungi Taman Setambran.

Penulis: Maria Gratia Rosarina
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL):
1. Dr.techn. Asep Muhamad Samsudin, S.T.,M.T.
2. Prof. Dr.Ing. Ir. Suherman, S.T., M.T

Editor: Handayat