JATENGKU.COM, SEMARANG — Workshop yang diadakan di Ruang Sidang Senat FISIP ini menjadi wadah penting bagi dosen, peneliti, dan mahasiswaUNDIP untuk meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan karya ilmiah yang diakui secara global. Para peneliti FISIP UNDIP berkesempatan mempresentasikan draf manuskrip mereka yang mencakup berbagai isu strategis, termasuk gender, BRICS, demokrasi elektoral, politik luar negeri Indonesia, serta komunikasi politik di era media sosial.
Dekan FISIP UNDIP, Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin., menyampaikan bahwa workshop ini merupakan realisasi dari ide Wakil Rektor IV dan tim KBK, serta menjadi kontribusi nyata dalam memperkuat kapasitas akademik. Beliau berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat signifikan bagi institusi dan menghasilkan publikasi-publikasi yang mampu mengangkat nama UNDIP di kancah internasional.
Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama, Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D., memberikan motivasi kepada para peserta dengan menyebut karya tulis ilmiah sebagai bagian dari “untold story” akademisi. Menurutnya, melalui tulisan, cerita akademik tidak hanya terdokumentasi, tetapi juga berkontribusi pada percakapan ilmiah global, yang merupakan esensi dari academic culture yang ingin dikembangkan di UNDIP.
Dalam sesi utama, Prof. Ward Berenschot memberikan ulasan mendalam terhadap artikel-artikel peserta. Ia menekankan empat aspek krusial dalam penulisan untuk publikasi internasional: kesiapan riset, ketersediaan anggaran, keunikan tema, dan kegigihan akademisi dalam menghadapi penolakan.
“Indonesia memiliki potensi penelitian yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana menuliskan temuan-temuan itu agar bisa diapresiasi global. Jangan menyerah ketika artikel ditolak, karena itu adalah bagian dari perjalanan akademik menuju kualitas internasional,” ujar Prof. Berenschot.
Lebih lanjut, Prof. Ward Berenschot memberikan beberapa saran agar karya peneliti lebih mudah diterima di jurnal internasional bereputasi. Pertama, ia menekankan pentingnya memperluas cakupan topik agar lebih kompleks, misalnya dengan menambahkan dua atau lebih studi kasus untuk menarik perhatian editor.
Kedua, ia mengingatkan bahwa penggunaan metode tunggal, seperti hanya mengandalkan wawancara mendalam, dapat membuat data menjadi kurang kaya. Data yang dangkal berpotensi ditolak oleh editor jurnal bereputasi. Oleh karena itu, peneliti disarankan untuk mengombinasikan berbagai metode, seperti wawancara dengan etnografi lapangan, agar data dan analisis lebih komprehensif.
Ketiga, ia menekankan pentingnya framing dalam diskusi akademik. Peneliti harus mampu membandingkan kasus yang diteliti di Indonesia dengan kasus serupa di luar negeri. “Dengan menyoroti perbedaan dan persamaan dengan konteks internasional, diskusi akan menjadi lebih kaya sekaligus relevan bagi pembaca global,” jelasnya.
Workshop ini menegaskan komitmen FISIP UNDIP dalam mendorong riset berkualitas dan mempersiapkan akademisi muda untuk berkontribusi dalam percakapan ilmiah internasional. Hal ini sejalan dengan visi UNDIP untuk memperkuat posisinya sebagai universitas riset bereputasi global.







