JATENGKU.COM, Surabaya — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan data korban bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, sumatra Barat, dan sumatra Utara. Hingga saat ini, total korban meninggal dunia tercatat mencapai 1.016 orang.
Informasi tersebut disampaikan BNPB dalam konferensi pers pada Minggu (14/12/2025). Sebanyak 28.708 rumah terdampak, dan tercatat sebanyak 21.579 warga mengungsi akibat banjir dan tanah longsor di sumatra Utara
sumatra merupakan sebuah pulau yang memiliki keberagaman bentang alam, mulai dari perbukitan, pegunungan, hingga dataran rendah yang dilalui oleh sungai-sungai besar sehingga ketika musim hujan , diwilayah ini memiliki curah hujan yang dapat meningkat drastis karena pengaruh cuaca ekstrem , fenomena atmosfer seperti monsoon , dan terbentuknya pusat tekanan rendah di sekitar wilayah perairan barat sumatra.
Menurut BNPB, banjir dan longsor ini dipicu Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka. Dua siklon itu mereka sebut menyebabkan hujan lebat dan angin kencang di kawasan Sumut. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta melaporkan dua sistem cuaca signifikan yang memicu terjadinya cuaca ekstrem di wilayah Sumatra Utara pada 25 November 2025, yakni Siklon Tropis KOTO yang berkembang di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B yang terpantau di Selat Malaka.
Selain faktor alam, kerusakan lingkungan menjadi salah satu penyebab yang tidak bisa diabaikan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak daerah peresapan air di sumatra mengalami pengalihan penutupan lahan. Penebangan hutan secara besar-besaran, aktivitas pertambangan, dan alih fungsi lahan peresapan air untuk perkebunan sawit yang dapat mengurangi kemampuan tanah menyerap air.
Kelompok advokasi lingkungan Walhi meyakini banjir dan longsor ini tak bisa dilepaskan dari “kerusakan hutan” akibat penebangan hutan yang masif dan menyoroti pertambangan emas yang dioperasikan oleh PT Agincourt Resources karena perusahaan ini memegang konsesi berdurasi 30 tahun tambang Martabe seluas 130.253 hektare yang diterbitkan pemerintah pada 1997.
Hutan yang seharusnya menjadi penyangga air hujan kini berubah menjadi lahan kritis. Akibatnya, ketika hujan lebat turun, hutan tidak mampu lagi melakukan penyerapan, alhasil air langsung mengalir ke sungai tanpa terserap ke dalam tanah, sehingga sungai tidak mampu menampung air dan banjir menjadi tak terhindarkan. Di wilayah perbukitan, kondisi ini bahkan memicu longsor yang memperparah situasi.
Banjir bandang dan longsor tidak hanya menyebabkan korban jiwa, kerusakan lingkungan dan pemukiman, dan trauma , tetapi juga berdampak pada kerusakan infrastruktur berupa putusnya akses listrik dan jaringan komunikasi di sejumlah wilayah yangnterdampak bencana. Kerusakan infrastruktur yang penting ini akan mempersulit proses evakuasi, distribusi logistik, hingga koordinasi antara pemerintah, relawan, dan tim penyelamat. sehingga, Situasi ini membuat banyak warga sulit dijangkau untuk penyaluran bantuan.
Pemerintah daerah dan instansi terkait perlu melakukan pemulihan secara cepat, tepat dan terencana. termasuk memperbaiki jaringan listrik, memperkuat sistem komunikasi darurat, serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat seperti ketersediaan makanan, air bersih, obat-obatan, dan tempat tinggal yang layak dan terpenuhi selama masa tanggap darurat..
Untuk mencegah bencana banjir bandang dan longsor ini terjadi lagi, pemerintah harus membuat kebijakan yang dapat mengantisipasi terjadinya bencana seperti rahabilitasi hutan dan lahan kritis agar meningkatkan fungsi ekologis kawasan resapan air , poenguatan sistem peringatan bencana agar masyarakat dapat mengetahui potensi bahaya lebih cepat, dan membangun kesiapsiagaan masyarakat termasuk pelatihan evakuasi, simulasi bencana, dan membentuk komunitas siaga karena keterlibatan masyarakat sangat penting dalam mitigasi dan penanggulangan bencana.
Banjir dan longsor yang terjadi di sumatra pada November 2025 menunjukkan betapa rentannya wilayah tersebut terhadap cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan yang terus memburuk. Intensitas hujan yang tinggi akibat pengaruh sistem cuaca seperti siklon tropis, ditambah kondisi ekologis yang semakin terdegradasi, menciptakan situasi di mana alam tidak lagi mampu menahan volume air yang besar. Penebangan hutan, kerusakan daerah aliran sungai (DAS), serta aktivitas pertambangan dan alih fungsi lahan yang tidak terkontrol telah melemahkan daya tahan lingkungan secara signifikan.
Penulis: Hanifa Dania Umaira mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga










