JATENGKU.COM, SEMARANGMahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menghadirkan inovasi kuliner unik dengan menggelar pelatihan bertema “Inovasi Keripik Bonggol Pisang Bernilai Gizi dan Ekonomi” di Balai RW 05, Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur pada 23 September 2025. Kegiatan ini menyasar ibu-ibu PKK dari RW 05, RW 12, dan RW 13, yang antusias mengikuti seluruh rangkaian acara.

Selama ini bonggol pisang sering dipandang sebagai limbah tanpa manfaat. Padahal, dengan sedikit kreativitas, bagian batang pisang tersebut dapat diolah menjadi camilan sehat sekaligus bernilai jual. Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga terlibat langsung mulai dari proses membersihkan bonggol pisang, mengiris, mengolah, menggoreng, hingga mengemas produk akhir.

Hasil praktik bersama menghasilkan dua varian rasa keripik, yaitu original dan balado. Menariknya, varian original justru lebih disukai karena cita rasa alami bonggol pisang dinilai gurih, renyah, dan enak meski tanpa tambahan bumbu. Hal ini menunjukkan bahwa bonggol pisang memiliki potensi kuliner khas yang layak dikembangkan.

Ibu-ibu PKK Desa Leyangan tampak antusias terlibat langsung dalam proses pengolahan keripik bonggol pisang, mulai dari mengiris hingga menggoreng. Pelatihan ini membuktikan bahwa bonggol pisang memiliki potensi kuliner gurih, renyah, dan layak dikembangkan.

Sejumlah penelitian mendukung potensi gizi bonggol pisang. Selain kaya serat, karbohidrat, dan mineral yang baik bagi pencernaan, bonggol pisang juga mengandung flavonoid dan fenol yang berperan sebagai antioksidan alami, membantu menjaga kadar gula darah, serta menurunkan kolesterol (Jurnal Gizi UNW, 2022; ResearchGate, 2023).

Antusiasme warga semakin terlihat ketika beberapa ibu PKK menyampaikan kesan mereka. “Inovasi ini sangat keren, karena bonggol pisang yang biasanya hanya dibuang atau dianggap sampah ternyata bisa jadi keripik yang enak dan bermanfaat. Kami jadi lebih semangat mencoba di rumah,” ungkap salah satu peserta dengan penuh senyum.

Mahasiswa KKN UPGRIS berharap pelatihan ini dapat menjadi langkah awal bagi ibu-ibu PKK Desa Leyangan untuk mengembangkan produk lokal sebagai usaha mandiri maupun usaha kelompok. Jika dikemas menarik dengan variasi rasa, keripik bonggol pisang berpeluang menjadi camilan sehat khas desa yang mampu bersaing di pasaran.

“Dari limbah menjadi berkah, bonggol pisang membuktikan bahwa setiap potensi lokal bisa bernilai jika dikelola dengan kreatif dan berkelanjutan,” ujar salah satu mahasiswa KKN UPGRIS usai kegiatan.

Editor: Handayat