Semarang – Minggu, 13 Juli 2025 menjadi hari yang penuh makna bagi warga RT 03, RW 06, Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang. Suasana sejak pagi terasa berbeda karena warga bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 118 Kelompok 4 Universitas Diponegoro menggelar rangkaian program sehari penuh dengan tema besar “Pencegahan Penyakit Sindrom Metabolik.” Tema ini dipilih karena sindrom metabolic yang ditandai dengan gangguan metabolisme seperti obesitas, hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggisemakin banyak dialami masyarakat perkotaan akibat pola hidup tidak sehat.

Untuk mendukung tema tersebut, mahasiswa KKN-T 118 merancang program terintegrasi yang menggabungkan aspek kesehatan, edukasi, hingga pemberdayaan ekonomi warga. Ada empat kegiatan utama yang dilaksanakan secara berkesinambungan dalam satu hari penuh, yakni penanaman tanaman obat keluarga (TOGA), edukasi manfaat tanaman herbal, workshop herbal tea, serta edukasi pendaftaran Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) bagi pelaku UMKM. Seluruh kegiatan tersusun rapi agar warga tidak hanya mendapatkan wawasan, tetapi juga pengalaman praktik yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak pagi pukul 07.00, kegiatan dibuka dengan penanaman TOGA yang dipimpin oleh Viona Vatima (Farmasi). Warga bersama mahasiswa menanam berbagai jenis tanaman herbal seperti kunyit, jahe, sereh, jeruk purut, kumis kucing, dan temu kunci di pekarangan RW 06. Penanaman ini bukan sekadar kegiatan penghijauan, tetapi juga upaya menghadirkan “apotek hidup” yang bisa dimanfaatkan warga sebagai langkah pencegahan penyakit sindrom metabolik. Kebersamaan tampak jelas saat warga saling membantu menyiapkan lahan, menanam bibit, hingga menyiram tanaman. Anak-anak pun ikut serta, sehingga kegiatan ini sekaligus menjadi sarana edukasi generasi muda tentang pentingnya menjaga lingkungan dan kesehatan.

Memasuki siang hari, kegiatan berlanjut dengan edukasi sejarah dan manfaat tanaman TOGA yang dipandu oleh Yusuf Evanda Natsir (Sejarah). Dengan media infografis permanen dan leaflet yang dibagikan, Yusuf menjelaskan bagaimana tanaman herbal telah digunakan sejak masa lampau untuk menjaga kesehatan. Ia menekankan bahwa khasiat tanaman seperti jahe, kunyit, dan sereh tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi juga terbukti bermanfaat dalam kehidupan modern. Edukasi ini membuka wawasan masyarakat bahwa TOGA dapat menjadi alternatif alami dalam mencegah penyakit, khususnya sindrom metabolik, sekaligus melestarikan warisan pengetahuan tradisional.

Suasana semakin semarak ketika Workshop Herbal Tea yang dipandu oleh Novia Salsabila (Teknologi Pangan) dimulai. Dalam sesi ini, jahe dijadikan bahan utama karena dikenal mampu meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki metabolisme. Ibu-ibu PKK RW 06 tampak antusias mencoba langsung cara membuat minuman herbal hangat dengan tambahan rempah sederhana yang mudah ditemukan di rumah. Bahkan, mereka ikut berdiskusi mengenai variasi resep dan cara penyajian. Antusiasme semakin terlihat ketika setiap peserta mendapat kesempatan mencicipi minuman yang mereka buat sendiri, sekaligus membawa pulang tea bag herbal sebagai oleh-oleh.

Menjelang sore, rangkaian kegiatan ditutup dengan edukasi pendaftaran HAKI untuk UMKM yang dipandu oleh Rifadh (Hukum). Materi ini memberikan pemahaman kepada pedagang kecil dan ibu-ibu pemilik usaha rumahan tentang pentingnya melindungi produk mereka agar tidak mudah ditiru orang lain. Edukasi ini disambut baik karena sebagian besar warga memiliki usaha kecil yang berpotensi dikembangkan. Dengan adanya pemahaman mengenai HAKI, diharapkan UMKM lokal bisa lebih percaya diri dan memiliki nilai tambah dalam persaingan pasar.

Rangkaian kegiatan sehari penuh ini mencerminkan sinergi lintas disiplin ilmu dalam kelompok 4 KKN-T 118. Viona dari farmasi, Yusuf dari sejarah, Novia dari teknologi pangan, dan Rifadh dari hukum, masing-masing menghadirkan kontribusi sesuai bidangnya. Hasilnya, masyarakat tidak hanya mendapatkan manfaat berupa penghijauan lingkungan, tetapi juga ilmu kesehatan, keterampilan mengolah tanaman herbal, serta wawasan hukum untuk memperkuat usaha lokal.

Warga RW 06, khususnya ibu-ibu PKK, menyambut kegiatan ini dengan antusias. Mereka merasa kegiatan KKN-T 118 memberikan manfaat nyata yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari sekadar acara formalitas, program ini menumbuhkan kebersamaan antarwarga sekaligus memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya hidup sehat.

Dengan mengangkat tema pencegahan sindrom metabolik, mahasiswa KKN-T 118 berharap program ini menjadi langkah awal membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan sejak dini, memperkuat solidaritas sosial, sekaligus mengembangkan potensi ekonomi berbasis lokal yang berkelanjutan.

Penulis: Yusuf Evanda Natsir

Editor: Handayat