JATENGKU.COM, KLATEN — Desa Gatak di Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, kini mulai menunjukkan wajah baru dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal. Melalui program inovatif dari Tim 44 IDBU KKN Tematik Universitas Diponegoro 2025, transformasi digital UMKM menjadi kenyataan lewat integrasi Google Maps dan pembuatan Peta Produk Desa.
Inisiatif ini tidak hanya memudahkan promosi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetapi juga memperkuat daya saing pelaku usaha di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. Dengan kolaborasi antara pemerintah desa, pelaku UMKM, dan mahasiswa, Desa Gatak membuktikan bahwa digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan kunci membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi warganya.
Google Maps: Jembatan Digital Menuju Pasar yang Lebih Luas
Google Maps telah terbukti menjadi platform promosi gratis yang sangat efektif bagi pelaku UMKM. Platform ini tidak hanya berfungsi sebagai peta digital biasa, tetapi menawarkan informasi komprehensif seperti lokasi, jalur tercepat, nama usaha, jam operasional, foto produk, hingga ulasan pelanggan.
Ketika seseorang mencari “warung capcay enak” atau “penjual belut terdekat”, Google Maps akan menampilkan daftar tempat dan titik lokasi secara langsung, memudahkan navigasi sekaligus membantu konsumen dalam memilih destinasi kuliner.

Program pendaftaran UMKM Desa Gatak ke Google Maps telah berhasil mengangkat profil beberapa usaha unggulan. CIO Belut merupakan usaha yang mengkhususkan diri pada berbagai olahan belut mulai dari belut mentah segar, keripik belut, sambal belut pedas, hingga belut goreng siap santap.

Keunikan produknya memiliki potensi besar untuk menarik pelanggan dari luar daerah. Sementara itu, Capcay Bu Marsini adalah warung makan sederhana yang populer dengan cita rasa khas rumahan. Masakannya yang sarat rasa dan suasana akrab membuat pelanggan merasa seperti makan di rumah sendiri.
Peta Produk Desa Gatak: Inovasi untuk Dongkrak Ekonomi Lokal
Kantor Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, kini punya penampilan baru yang cukup mencuri perhatian. Di salah satu dinding ruang pelayanan, terpasang sebuah peta berukuran besar yang penuh dengan titik-titik warna-warni. Bukan sekadar hiasan, peta ini adalah hasil kerja keras mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro yang memetakan seluruh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa tersebut.

Program bertajuk Peta Produk Desa Gatak (Pemetaan Visual Produk UMKM Lokal Desa Gatak) ini digagas oleh Berlyana Eka Azzahra, mahasiswa jurusan Manajemen. Gagasan tersebut lahir dari keprihatinan sederhana: informasi tentang UMKM di desa selama ini hanya beredar dari mulut ke mulut. “Banyak orang tidak tahu usaha apa saja yang ada di sini, padahal potensinya besar,” ujarnya.
Selama masa KKN, Berlyana memulai dengan berkoordinasi bersama kepala desa, perangkat desa, dan ketua RT/RW. Setelah itu, ia menyusuri setiap sudut desa, dari jalan besar hingga gang kecil, mendatangi satu per satu pelaku usaha. Ia mencatat nama usaha, jenis produk, alamat, kontak, jam operasional, tahun berdiri, dan tentu saja memotret produk serta lokasi.
Data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan aplikasi ArcGIS. Setiap titik UMKM diberi simbol dan warna sesuai kategori produk, membuat peta terlihat rapi, jelas, dan mudah dibaca. Tak hanya dalam bentuk digital, peta ini juga dicetak berukuran besar dan resmi diserahkan kepada pemerintah desa pada 4 Agustus 2025.
Peta ini memuat berbagai jenis usaha mulai dari warung makan, toko kelontong, penjahit, pengrajin, hingga kuliner khas seperti Lumpia Duleg dan olahan belut. Pemerintah desa kini memiliki data digitalnya sehingga dapat memperbarui kapan saja jika ada UMKM baru atau perubahan lokasi.
Sekretaris Desa Gatak mengaku peta ini menjadi terobosan bermanfaat. “Bukan hanya memudahkan promosi, tapi juga membantu kami dalam menyusun program pembinaan UMKM ke depan,” ujarnya.
Manfaatnya pun tak berhenti di situ. Peta ini membuka peluang kolaborasi dengan dinas perdagangan, komunitas wirausaha, hingga investor yang tertarik mengembangkan potensi lokal. Bagi warga, peta ini menjadi panduan cepat untuk menemukan produk yang mereka butuhkan, sementara bagi tamu desa, ini adalah jendela pertama untuk melihat kekayaan ekonomi Gatak.
Kini, peta produk tersebut bukan hanya menjadi hiasan dinding, melainkan simbol komitmen Desa Gatak untuk tumbuh bersama warganya. Sebuah langkah kecil yang diyakini akan membawa dampak besar bagi masa depan ekonomi desa.
Transformasi digital UMKM Desa Gatak membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat dan kolaboratif, desa-desa di Indonesia dapat memanfaatkan teknologi untuk mengangkat ekonomi lokal. Ini bukan sekadar tentang modernisasi, tetapi tentang membuka akses yang lebih luas bagi produk-produk berkualitas untuk dikenal dan dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas.
Program ini merupakan bagian dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang bertujuan mengoptimalkan potensi ekonomi desa melalui pemanfaatan teknologi informasi dan pemberdayaan masyarakat secara partisipatif.










