JATENGKU.COM, SEMARANG – Dalam ruang hangat PPS PGOT Mardi Utomo Semarang, suara empati dan perhatian terdengar jelas selama program konseling individu yang dilaksanakan dari 30 Juli hingga 15 Agustus 2025. Program multidisiplin 1 ini menghadirkan tujuh mahasiswa Psikologi—Gentar Lantara, Zhafiranisa Delani Gisti, Kania Jasmine, Aisha Hasna M, Wistighosa Putri W, Khailila Chairunnisa, dan Najwa Nafilah—yang memberikan pendampingan intensif bagi peserta.
Selama periode pelaksanaan, 9 sesi konseling individu berhasil dilaksanakan, masing-masing berdurasi sekitar 60 menit. Meski jumlahnya terbatas, setiap sesi memberikan ruang aman bagi peserta untuk berbagi cerita, mengekspresikan emosi, dan menemukan strategi untuk mengatasi stres, tekanan akademik, konflik interpersonal, hingga kesulitan adaptasi sosial.
“Meski hanya satu jam, saya merasa didengar sepenuhnya. Ini membantu saya memahami langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah saya,” ungkap salah satu peserta, menyoroti efektivitas sesi meski waktunya relatif singkat.
Bagi mahasiswa konselor, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga dalam praktik psikologi nyata. Gentar Lantara menuturkan, “Durasi satu jam per sesi cukup untuk fokus mendengarkan, mengeksplorasi masalah, dan memberikan strategi coping yang relevan. Kami belajar menyesuaikan pendekatan sesuai kebutuhan peserta.”

Setiap sesi juga dicatat secara rinci, termasuk masalah peserta, progres yang dicapai, dan strategi coping yang diberikan. Dokumentasi ini menjadi alat evaluasi dan bahan supervisi dosen, yang membantu mahasiswa merefleksikan praktik dan meningkatkan keterampilan konseling mereka.
Meskipun hanya 9 sesi, dampak positifnya terasa nyata. Peserta mulai mengelola emosi lebih baik, memahami diri sendiri, dan menerapkan strategi coping. Mahasiswa konselor pun melaporkan peningkatan kemampuan komunikasi, empati, dan analisis psikologis.
Program konseling individu ini menegaskan pentingnya praktik langsung dalam pendidikan psikologi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dijalankan lebih luas, menjangkau lebih banyak peserta, dan menjadi model intervensi psikologis berbasis komunitas yang efektif.










