JATENGKU.COM, Klaten — Dalam upaya mendukung pengembangan energi terbarukan sekaligus pemberdayaan potensi lokal masyarakat desa, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro melaksanakan program inovatif bertema “Pengembangan Briket Biomassa dari Sekam Padi dan Bonggol Jagung untuk Mendukung Energi Berkelanjutan”. Program multidisiplin ini berfokus pada pemanfaatan limbah pertanian menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, ekonomis, dan berkelanjutan.
Salah satu kontribusi nyata dalam program tersebut dilakukan oleh Raphael Xaverius Hartanto, mahasiswa Program Studi S1 Teknik Sipil Universitas Diponegoro, yang merancang serta membangun lemari pengering briket berbasis kayu sebagai solusi teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi proses produksi briket biomassa di tingkat masyarakat.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya potensi limbah pertanian di Desa Katekan, khususnya sekam padi dan bonggol jagung, yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah tersebut umumnya dibakar secara terbuka atau dibuang begitu saja, sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan sekaligus menyia-nyiakan peluang ekonomi. Padahal, kedua bahan tersebut memiliki kandungan biomassa yang dapat diolah menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif pengganti kayu bakar.
Namun demikian, proses produksi briket menghadapi beberapa kendala teknis. Salah satu permasalahan utama adalah proses pengeringan yang masih mengandalkan penjemuran alami di bawah sinar matahari. Metode konvensional ini dinilai kurang efektif karena sangat bergantung pada kondisi cuaca, membutuhkan waktu lama, serta menghasilkan tingkat kekeringan yang tidak merata. Akibatnya, kualitas briket sering kali kurang optimal, mudah rapuh, serta memiliki nilai kalor yang rendah.
Menanggapi permasalahan tersebut, Raphael menginisiasi perancangan lemari pengering berbasis kayu dengan konsep sederhana, ekonomis, dan mudah dioperasikan oleh masyarakat. Alat ini dirancang menggunakan material yang mudah diperoleh di sekitar desa, yaitu dinding triplek, penyangga berupa balok kayu, serta plastik mika sebagai penutup. Desain tertutup dengan sistem ventilasi terkontrol memungkinkan suhu di dalam pengering lebih stabil sehingga proses penguapan kadar air pada briket dapat berlangsung secara lebih cepat dan merata.

Secara teknis, lemari pengering ini bekerja dengan memanfaatkan panas hasil lampu daya tinggi yang diletakkan di dasar lemari pengering. Panas tersebut menjaga temperatur internal sehingga kelembapan briket berkurang secara signifikan dalam waktu singkat. Melalui penggunaan alat ini, waktu pengeringan yang sebelumnya memerlukan 2–3 hari dapat dipersingkat menjadi 1 hari saja, tergantung kapasitas produksi dan suhu operasi.
Kehadiran alat pengering ini memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat. Selain mempercepat proses produksi, kualitas briket menjadi lebih kering, padat, tidak mudah hancur, serta memiliki daya bakar yang lebih lama. Hal ini membuka peluang pengembangan usaha kecil berbasis energi biomassa yang berpotensi meningkatkan pendapatan warga.
Lebih jauh, program ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Diponegoro dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada aspek energi bersih dan terjangkau, produksi dan konsumsi berkelanjutan, serta penguatan ekonomi masyarakat desa. Melalui pemanfaatan limbah pertanian, kegiatan ini berkontribusi dalam:
- Mengurangi limbah dan pencemaran lingkungan. Dengan mengolahnya menjadi produk bernilai guna, limbah tidak lagi dianggap sebagai sampah, melainkan sebagai sumber daya produktif. Pendekatan ini sekaligus mendukung konsep waste to energy dan pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.
- Menekan praktik pembakaran terbuka yang menghasilkan emisi. Dengan mengolah limbah menjadi briket, kebutuhan pembakaran terbuka dapat ditekan secara signifikan.
- Mendorong pemanfaatan energi terbarukan berbasis biomassa. Dengan adanya inovasi alat pengering, proses produksi briket menjadi lebih efisien sehingga penggunaannya dapat dilakukan secara berkelanjutan dan konsisten oleh masyarakat.
- Meningkatkan kemandirian energi rumah tangga desa. Kemandirian ini memberikan rasa aman energi (energy security) serta mengurangi beban pengeluaran rumah tangga, terutama bagi keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.
- Menciptakan peluang usaha dan nilai tambah ekonomi lokal. Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan ini dapat berkembang menjadi unit usaha desa atau koperasi energi yang berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan perekonomian lokal.
Program kerja ini mendapat sambutan positif dari perangkat desa dan masyarakat karena dinilai aplikatif serta memberikan manfaat langsung. Diharapkan, inovasi lemari pengering briket berbasis kayu ini dapat terus dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain yang memiliki potensi limbah pertanian serupa.
Melalui kegiatan KKN, mahasiswa Universitas Diponegoro tidak hanya menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh di bangku perkuliahan, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menjawab permasalahan masyarakat. Inovasi sederhana yang lahir dari kolaborasi antara mahasiswa dan warga menjadi bukti bahwa solusi lokal dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi pembangunan desa.
Dengan semangat pengabdian dan pemberdayaan, Universitas Diponegoro terus mendorong mahasiswa untuk menghadirkan karya inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat luas serta mendukung terciptanya masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.









