JATENGKU.COM, Surabaya — Media sosial kini menjadi ruang utama pembentukan standar kecantikan. Foto-foto sempurna yang dipoles filter dan editing membuat banyak orang, terutama remaja, merasa harus selalu tampil ideal. Padahal, standar tersebut sering kali tidak realistis dan menciptakan tekanan psikologis.
Paparan terus-menerus terhadap tubuh dan wajah “sempurna” memicu penurunan kepercayaan diri, rasa tidak puas terhadap tubuh, hingga kecemasan saat tampil tanpa filter. Tidak jarang, body shaming justru muncul dari diri sendiri karena merasa tidak mampu memenuhi standar digital yang homogen.
Algoritma media sosial turut memperparah situasi dengan menonjolkan konten berpenampilan ideal, sehingga pengguna makin sering melihat gambaran kecantikan yang sempit. Akibatnya, persepsi tentang diri menjadi semakin terdistorsi.
Untuk mengurangi dampaknya, pengguna perlu lebih sadar dalam mengonsumsi konten: mengikuti akun yang beragam, membatasi konten yang membuat tidak nyaman, dan mengingat bahwa foto online bukan representasi nyata kehidupan.
Media sosial seharusnya menjadi tempat untuk berekspresi, bukan sumber tekanan. Dengan sikap kritis, kita dapat membangun pemahaman bahwa kecantikan tidak harus sempurna dan setiap orang memiliki keunikannya sendiri.

Penulis: Alexa Bintang Arini, Mahasiswi Universitas Airlangga Fakultas Keperawatan









