JATENGKU.COM, Pekalongan — Pada tahun 2018 Pasar Banjarsari Kota Pekalongan terjadi kebakaran yang sangat hebat. Setelah melalui proses pembangunan hingga berdirinya gedung pasar dengan desain modern dan tertata, harapan besar muncul agar pasar ini kembali ramai serta mampu menjadi pusat ekonomi kota. Pasar Banjarsari ini menampung 3.170 pedagang yang terdiri dari 2.256 unit los, 803 kios, dan 111 toko dengan luas bangunan 34.161 meter persegi.
Namun, setelah pedagang mulai diarahkan untuk kembali menempati kios, sebagian besar pedagang lebih memilih berada di lantai bawah karena takut sepi, sedangkan lantai atas justru seolah tidak diminati. Kekhawatiran ini muncul dari asumsi para pedagang bahwa pembeli enggan naik ke lantai dua atau tiga, sehingga dagangan sulit terjual dan pedagang akan rugi.

Lantai Dasar Ramai, Tetapi Persaingan Lebih Padat
Namun, jika dilihat dari sudut pandang lain, sebenarnya lantai atas memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang. Lantai dasar memang ramai, tetapi justru kepadatan pedagang di sana memunculkan banyak saingan dengan pedagang lainnya. Ketika satu pembeli datang, ia memiliki banyak pilihan kios dalam jarak yang sangat dekat sehingga peluang pedagang untuk mendapatkan pelanggan menjadi lebih kecil. Pembeli dapat dengan mudah berpindah ke lapak lain yang menawarkan harga lebih murah atau tampilan barang yang lebih menarik. Artinya, keramaian di lantai dasar tidak selalu menjamin keuntungan, karena persaingan yang ketat dan peluang mendapatkan pelanggan tetap tidak selalu pasti.
Lantai Atas: Fasilitas yang Sepi tapi Berpeluang Besar
Berbeda dengan lantai atas yang sering dianggap sepi, padahal justru di sana persaingannya lebih sedikit. Jika pedagang di lantai atas lebih kreatif dalam memasarkan dagangan, peluang untuk memiliki pelanggan tetap jauh lebih besar dibandingkan di lantai bawah. Dengan pedagang yang tidak terlalu banyak, pembeli yang merasa cocok dengan harga, kualitas barang, dan pelayanan pedagang biasanya akan kembali lagi dan menjadi pelanggan setia. Keadaan seperti ini sebenarnya lebih baik untuk jangka panjang, karena yang paling penting dalam berdagang adalah jual beli yang terus berjalan, bukan hanya ramai sesaat lalu sepi kembali.
Peran Media Sosial sebagai Senjata Promosi Pedagang
Selain itu, pedagang lantai atas juga dapat memanfaatkan media sosial untuk menarik pelanggan sebagai sarana promosi. Di era digital ini, pembeli tidak hanya datang karena melihat lapak secara langsung, melainkan juga karena informasi yang beredar melalui internet. Foto produk, video testimoni, hingga promo menarik dapat menarik pembeli untuk bersedia naik ke lantai atas. Jika strategi ini dilakukan secara konsisten, lantai atas justru akan tumbuh menjadi pusat ekonomi baru untuk pedagang yang sudah memiliki identitas usaha yang lebih kuat, pelanggan lebih spesifik, dan persaingan yang tidak sepadat di lantai bawah. Keputusan mempertahankan dagangan di lantai dasar mungkin terasa aman karena banyak kerumunan, tetapi belum tentu menguntungkan bagi sebagian pedagang. Sementara keputusan naik ke lantai atas memang membutuhkan keberanian dan inovasi, namun apabila dikelola dengan baik, keuntungannya bisa jauh lebih besar.
Lantai Atas Bukan Risiko, Tetapi Kesempatan
Dengan demikian, permasalahan bukan semata-mata soal lokasi di lantai atas yang dianggap sepi, melainkan kesediaan pedagang untuk memanfaatkan kondisi tersebut yang menjadikannya sebagai peluang besar untuk mempunyai pelanggan tetap. Pemerintah dan pengelola pasar juga dapat membantu para pedagang lantai atas dengan membuat program event, promosi publik, hingga fasilitas banner dan digital marketing untuk membantu para pedagang memperkenalkan lokasi lantai atas. Jika kerja sama ini berjalan, lantai atas bukan lagi menjadi zona yang dihindari, tetapi justru menjadi tempat pedagang membangun identitas usahanya secara lebih kuat.
Pada akhirnya, Pasar Banjarsari tidak hanya ditentukan oleh bangunan fisiknya, tetapi oleh keberanian para pedagang dalam melihat peluang untuk memiliki pelanggan tetap. Lantai atas bukan tempat yang harus ditakuti melainkan adalah ruang kesempatan, ruang berkembang, dan ruang bagi mereka yang ingin menonjol tanpa tenggelam dalam persaingan yang sangat padat. Asal dikelola dengan strategi promosi, dan pelayanan baik maka pedagang di lantai atas justru memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan tumbuh dibandingkan mereka yang berdesakan di lantai bawah tanpa kepastian pelanggan tetap.
Peran Pengunjung dalam Menghidupkan Seluruh Area Pasar
Namun selain soal keberanian para pedagang, peran pengunjung juga sangat berpengaruh terhadap lantai atas. Banyak pelanggan yang hanya berkeliling di lantai dasar karena menganggap semua kebutuhan tersedia di sana, padahal lantai atas justru memiliki variasi produk yang tidak kalah menarik. Jika masyarakat mulai membiasakan diri mengeksplorasi seluruh area pasar, maka arus kunjungan akan lebih merata.Kebiasaan membeli di tempat yang berbeda juga dapat membuka peluang baru bagi pedagang yang selama ini kurang terlihat.
Lantai Atas Lebih Lenggang dan Nyaman Untuk Berbelanja
Dari sisi kenyamanan, lantai atas sebenarnya memiliki suasana belanja yang lebih lenggang dan tidak berdesakan, sehingga pembeli dapat berbelanja dengan lebih nyaman dan tidak tergesa-gesa. Hal ini menjadi nilai tambah yang jarang disadari para pedagang maupun pelanggan. Pelanggan bisa melihat barang dengan lebih leluasa, bertanya dengan santai, bahkan bernegosiasi tanpa rasa terganggu oleh hiruk pikuk keramaian di lantai bawah. Jika keunggulan ini dipromosikan dengan baik, lantai atas dapat memiliki daya tarik tersendiri yang mampu menyaingi lantai dasar.
Pembekalan dan Pelatihan Dagang Untuk Pengembangan Jangka Panjang
Selain promosi yang dilakukan sendiri oleh para pedagang, pelatihan atau pembekalan ilmu dagang juga perlu dilakukan. Pelatihan mengenai cara memasarkan produk, memotret barang dengan baik, mengelola media sosial usaha, hingga strategi meningkatkan pelayanan pelanggan bisa menjadi bekal penting bagi pedagang lantai atas untuk berkembang. Dengan pengetahuan dan kemampuan baru, mereka tidak hanya bergantung pada arus pembeli yang lewat, tetapi mampu menarik konsumen dari banyak arah. Pendampingan seperti ini akan membantu para pedagang lantai atas untuk terus bertahan dalam jangka panjang dan menciptakan pasar yang lebih hidup.
Kerja Sama Tiga Pihak Sebagai Kunci Kemajuan Pasar
Keberhasilan lantai atas Pasar Banjarsari di masa depan sangat bergantung pada kerja sama yang baik antara pedagang, pengelola pasar, dan masyarakat. Jika semua pihak memiliki kesadaran bahwa setiap lantai memiliki potensi dan kesempatan yang sama, maka tidak ada lagi ruang yang dianggap “sepi” atau “tidak menguntungkan”. Jika suatu saat lantai atas sudah terisi banyak pedagang, lantai atas ini menjadi lebih hidup dan mulai ramai pembeli, Pasar Banjarsari bukan lagi sekadar tempat jual beli seperti biasa. Pasar ini bisa menjadi tanda bahwa perekonomian di Kota Pekalongan ini bergerak lebih maju dan tertata. Aktivitas yang merata di lantai bawah maupun atas menunjukkan bahwa pasar dapat berkembang bersama, dan tidak hanya bertumpu pada satu titik saja. Dengan begitu, keberadaan pasar bukan hanya untuk berdagang, tetapi juga menjadi bukti bahwa ekonomi masyarakat dapat tumbuh lebih baik dari waktu ke waktu.
Penulis: Naeli Farkhah (20824076), Mahasiswa Universitas Islam Negeri K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan






