JATENGKU.COM, Klaten — Kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana perlu ditanamkan sejak dini, terutama di lingkungan sekolah yang menjadi ruang aktivitas harian anak-anak. Ribuan siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang kelas, sehingga keselamatan saat kondisi darurat, seperti gempa bumi, menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, mahasiswa Universitas Diponegoro menghadirkan langkah nyata melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan membantu sekolah memiliki titik kumpul evakuasi yang jelas dan aman.
Melalui program kerja multidisiplin bertema “Sinergi Mahasiswa dan Masyarakat dalam Mewujudkan Penanggulangan Bencana Berkelanjutan,” Raphael Xaverius Hartanto, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Diponegoro, melaksanakan kegiatan penentuan serta penempatan plang lokasi evakuasi bencana gempa di SDN 02 Katekan. Program ini secara khusus menyasar guru dan siswa sebagai kelompok utama yang membutuhkan sistem keselamatan terarah ketika terjadi gempa.
Sebagai fasilitas pendidikan dasar dengan aktivitas belajar mengajar setiap hari, SDN 02 Katekan memiliki tingkat kerentanan tersendiri terhadap risiko bencana. Ketika gempa terjadi secara tiba-tiba, kepanikan sering kali muncul dan dapat menghambat proses evakuasi. Tanpa adanya lokasi berkumpul yang ditentukan secara jelas, siswa berpotensi bergerak tidak terarah sehingga meningkatkan risiko cedera. Kondisi inilah yang mendorong dilaksanakannya program penentuan titik kumpul sebagai bagian dari upaya preventif. Kegiatan ini merupakan bentuk penerapan ilmu teknik sipil yang tidak hanya berfokus pada konstruksi bangunan, tetapi juga pada aspek keselamatan pengguna ruang. Menurutnya, perencanaan tata letak area aman dan manajemen risiko sederhana dapat memberikan dampak signifikan terhadap keselamatan banyak orang.
Tahap awal kegiatan dimulai dengan observasi lapangan di lingkungan sekolah. Ia meninjau kondisi fisik bangunan, jarak antar kelas, akses keluar-masuk, serta potensi bahaya yang mungkin muncul saat gempa, seperti runtuhan atap, pecahan kaca, dinding retak, maupun benda-benda yang dapat roboh. Analisis ini dilakukan untuk memastikan bahwa titik kumpul yang dipilih benar-benar berada pada zona yang relatif aman. Dalam proses identifikasi lokasi, beberapa kriteria teknis menjadi pertimbangan utama, antara lain:
- Berada di ruang terbuka
- Jauh dari potensi runtuhan gedung, pagar, dan fasilitas sekolah
- Tidak berada di bawah tiang listrik atau pohon besar
- Memiliki permukaan tanah yang rata dan aman untuk berkumpul
- Mampu menampung seluruh siswa, guru, dan staf sekolah secara bersamaan
- Mudah diakses dari seluruh ruang kelas dalam waktu singkat
Berdasarkan hasil survei tersebut, lapangan sekolah dinilai sebagai area paling ideal untuk dijadikan titik kumpul evakuasi. Lokasinya yang luas, terbuka, dan berada di tengah lingkungan sekolah memungkinkan seluruh warga sekolah berkumpul dengan cepat dan aman.
Setelah penetapan lokasi, langkah berikutnya adalah pemasangan plang penanda titik evakuasi. Plang dirancang dengan tampilan visual sederhana, tulisan yang jelas, serta warna kontras agar mudah terlihat dari kejauhan. Keberadaan penanda ini bertujuan memberikan arahan yang tegas sehingga siswa dapat langsung mengenali lokasi aman tanpa kebingungan saat situasi darurat.
Tak hanya berhenti pada pemasangan fasilitas fisik, kegiatan ini juga diiringi dengan sosialisasi singkat kepada guru dan siswa. Dalam sesi tersebut, dijelaskan pentingnya tetap tenang saat gempa, segera keluar kelas secara tertib, serta langsung menuju titik kumpul yang telah ditentukan. Edukasi ini diharapkan mampu membangun kebiasaan dan respons cepat apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.
Pihak sekolah menyambut baik inisiatif tersebut karena memberikan solusi konkret yang sebelumnya belum tersedia secara khusus. Keberadaan plang evakuasi dinilai membantu guru dalam mengarahkan siswa serta mempermudah koordinasi saat keadaan darurat. Selain itu, program ini juga menumbuhkan kesadaran bersama bahwa kesiapsiagaan bencana merupakan tanggung jawab seluruh warga sekolah.

Lebih dari sekadar kegiatan KKN, program ini menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat berkontribusi langsung kepada masyarakat melalui penerapan ilmu yang dipelajari di bangku perkuliahan. Pendekatan sederhana seperti penentuan lokasi aman dan pemasangan penanda ternyata mampu memberikan manfaat besar dalam aspek keselamatan.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan pihak sekolah, SDN 02 Katekan kini memiliki titik kumpul evakuasi yang jelas sebagai bagian dari sistem kesiapsiagaan bencana. Langkah kecil ini diharapkan menjadi fondasi awal dalam membangun budaya sadar bencana sejak usia dini, sehingga siswa tidak hanya memahami teori keselamatan, tetapi juga siap mempraktikkannya.
Dengan adanya program ini, Universitas Diponegoro kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan akademis, tetapi juga agen perubahan sosial yang hadir untuk memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Ke depan, inisiatif serupa diharapkan dapat diterapkan di lebih banyak sekolah guna menciptakan lingkungan belajar yang aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana.








