JATENGKU.COM, Pemalang — Banjir rob yang semakin sering terjadi di Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang tidak hanya menggenangi permukiman, tetapi juga merendam lahan pertanian dan tambak milik warga. Berdasarkan data dari pemerintah kecamatan, setidaknya 1.936 rumah terdampak, dan jumlah tersebut disebut terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi pesisir di Kecamatan Ulujami semakin memburuk. Banjir rob yang berulang menjadi persoalan utama yang dirasakan warga. Dampaknya tidak kecil, lahan pertanian, tambak, bahkan sebagian permukiman warga kini kerap terendam air laut.
Jika ditarik ke belakang, sekitar tahun 2005 hingga 2010, banjir rob sebenarnya sudah mulai terjadi, meskipun saat itu skalanya masih kecil dan belum terlalu mengganggu. Warga masih bisa bertani, masih memiliki tambak, dan aktivitas di pesisir pantai pun berjalan normal. Kini kondisinya jauh berbeda, banjir rob semakin sering terjadi dan durasinya cenderung lebih lama, sehingga banyak lahan yang sebelumnya produktif kini sulit dimanfaatkan.
Di desa-desa yang berada paling utara seperti Tasikrejo, Kaliprau, Kertosari, Blendung, Ketapang, Limbangan, hingga Mojo, dampaknya terasa paling jelas. Lahan yang dekat dengan laut menjadi yang pertama terdampak dan kini sering terendam, sehingga tidak lagi bisa dimanfaatkan secara optimal.
“Dulu saya punya tambak dan sawah, sekarang sudah tenggelam semua,” kata Casmudi (53), warga Desa Tasikrejo. Pernyataan ini sederhana, tetapi cukup mewakili kondisi yang dialami banyak warga di wilayah tersebut.
Frekuensi dan dampak banjir rob juga terus meningkat dari waktu ke waktu. Berdasarkan pemberitaan media lokal Puskapik pada 2 Desember 2022, terdapat sekitar 1.936 rumah yang tergenang di delapan desa. Data tersebut bersumber dari Camat Ulujami, dan menurut warga, kondisinya kini cenderung semakin parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Banjir rob ini tidak selalu datang setiap hari, tetapi cukup sering, terutama saat air laut pasang. Air dapat masuk ke rumah-rumah warga, kadang hanya menggenang sebentar, tetapi dalam beberapa kasus bisa bertahan hingga berjam-jam, bahkan mengganggu aktivitas harian.
Dampaknya terasa di berbagai aspek. Dari sisi kesehatan, air yang masuk membuat sumur warga menjadi keruh dan asin, sehingga air bersih semakin sulit didapat. Dari sisi pendidikan, beberapa sekolah sempat terendam sehingga kegiatan belajar mengajar terpaksa diliburkan. Sementara dari sisi mobilitas, jalan yang tergenang membuat warga harus memutar lebih jauh atau menunda aktivitas karena akses terganggu.
Pemerintah desa mengakui kondisi ini sudah berada pada tahap darurat. Warga bahkan harus meninggikan rumah mereka berkali-kali agar tetap bisa ditempati, meskipun langkah tersebut bukan solusi jangka panjang.
BPBD Kabupaten Pemalang juga melihat banjir rob ini sebagai bencana yang berulang. Penanganan yang dilakukan sejauh ini masih terbatas pada bantuan saat kejadian dan pendataan warga terdampak, sehingga belum menyentuh solusi jangka panjang yang menyeluruh.
Jika dilihat dari penyebabnya, kondisi ini dipengaruhi oleh kenaikan muka air laut serta karakter wilayah pesisir yang rentan terhadap genangan. Kombinasi faktor tersebut membuat banjir rob semakin sering terjadi dan berdampak luas bagi masyarakat.
Beberapa upaya sudah dilakukan, seperti pembuatan tanggul sederhana dari bambu dan tanah, serta peninggian jalan. Terdapat juga posko kesehatan saat banjir rob terjadi. Namun, melihat kondisi saat ini, upaya tersebut masih belum cukup untuk menahan dampak yang terus berkembang.
Jika tidak ada penanganan yang lebih serius dan menyeluruh, bukan tidak mungkin wilayah pesisir ini akan semakin terdampak dalam beberapa tahun ke depan. Bagi warga, ini bukan lagi sekadar soal banjir, tetapi tentang bagaimana mereka bisa bertahan di tempat yang selama ini menjadi rumah mereka.
Penulis: Arief Arifin, Mahasiswa Universitas Negeri Semarang











