Usia sekolah dasar dikenal sebagai masa keemasan (golden age) dalam tumbuh kembang anak, di mana kemampuan kognitif, sosial, dan emosional mulai terbentuk secara pesat. Meski demikian, tidak semua perasaan mudah dikenali, apalagi diungkapkan dengan kata-kata. Terutama bagi anak-anak rentang usia tersebut, menyampaikan emosi secara verbal sering kali menjadi tantangan yang membuat mereka terdiam, malu, atau bahkan keliru memahami dirinya sendiri.
Berangkat dari kepedulian terhadap pentingnya meningkatkan kemampuan anak dalam mengekspresikan emosi dengan baik, Zoya Syafa Az Zahra, mahasiswa KKN-T 104 dari Sastra Indonesia, Universitas Diponegoro, menginisiasi program bertajuk Zona Bahasa Emosi: Meningkatkan Kemampuan Bertutur Ekspresif Anak sebagai salah satu kegiatan pengabdian dalam rangka Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) yang ditujukan bagi siswa sekolah dasar.
Berkat adanya kerja sama mahasiswa KKN-T 104 dengan pihak sekolah dan bimbingan Dosen Pendamping Lapangan, Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum., dan Riris Tiani, S.S., M.Hum., kegiatan Zona Bahasa Emosi berhasil diselenggarakan di SD Negeri Pedurungan Kidul 05, Kelurahan Pedurungan Kidul, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, pada Kamis, 24/07/2025, dengan siswa kelas 3 SD sebagai peserta utama. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung selama kurang lebih 60 menit dan melibatkan siswa secara aktif dari awal hingga akhir.
“Banyak anak tahu mereka sedang marah atau sedih, tapi mereka bingung harus berkata apa. Padahal kemampuan mengekspresikan emosi lewat bahasa itu penting sekali untuk tumbuh kembang sosial mereka,” ujar Zoya. Kemampuan ini tidak hanya berguna dalam konteks hubungan antarteman, tetapi juga dalam membangun kepercayaan diri serta kemampuan menyelesaikan konflik secara sehat.
Program Zona Bahasa Emosi dirancang sebagai pelatihan ekspresi emosi melalui aktivitas bertutur ekspresif dan permainan bahasa. Dalam program ini, Zoya berkolaborasi dengan rekannya, Naila, mahasiswa KKN-T 104 dari program studi Informasi dan Humas yang memberikan pelatihan dasar public speaking dengan pendekatan komunikatif dan santai. Materi public speaking ini membantu anak-anak mengenali pentingnya menyampaikan pesan dengan intonasi, gestur, serta pilihan kata yang sesuai.
Selain itu, Zoya juga berkolaborasi dengan rekan lainnya, Reza, mahasiswa KKN-T 104 dari program studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, yang memberikan edukasi tentang pola makan sehat anak melalui budaya makan khas Jepang. Anak-anak dikenalkan konsep bekal seimbang dalam bentuk bento yang dibagikan langsung kepada peserta di sesi akhir. Kolaborasi ini turut mendukung tema besar KKN-T 104 “Peningkatan Kapasitas Produksi melalui Diversifikasi Produk sebagai Ketahanan Pangan di Semarang” dengan pendekatan edukatif dan aplikatif di tingkat sekolah dasar.
Rangkaian kegiatan ini diawali dengan pelatihan dasar public speaking dan pengenalan zona warna emosi, yaitu kategori emosi berdasarkan lima warna utama, yakni:
1. Merah (marah, kesal)
2. Biru (sedih, kecewa)
3. Hijau (tenang, nyaman)
4. Kuning (senang, bahagia)
5. Ungu (takut, khawatir)
Masing-masing zona diperkenalkan melalui kartu bergambar ekspresi wajah dan contoh kalimat, sehingga memudahkan anak dalam memahami dan menghubungkan emosi dengan bahasa. Anak-anak juga diminta menceritakan perasaan mereka yang berkaitan dengan salah satu zona warna tersebut, agar asosiasinya semakin kuat.
Setelah itu, siswa diajak untuk mengikuti dua permainan utama yaitu: Kalimat Emosiku dan Emosi Berantai. Dalam Kalimat Emosiku, tiap kelompok memilih satu anggota untuk menyampaikan kalimat berisi perasaan mereka. Teman-teman lainnya menebak zona emosi yang dimaksud sembari mengacungkan kartu zona emosi yang sesuai. Hal ini membuat suasana kelas menjadi hidup, penuh gelak tawa dan anak semangat berani mencoba.
“Aku hari ini senang banget karena ada kakak-kakak KKN yang datang!” seru salah satu siswa dengan ekspresi sumringah, yang langsung disambut sorak-sorai kelompoknya.
Sedangkan dalam permainan Emosi Berantai, tiap kelompok menyusun kalimat berdasarkan kartu zona emosi secara bergilir. Permainan ini bertujuan melatih keberanian anak berbicara, menumbuhkan empati, serta mempererat interaksi sosial antarteman dalam suasana yang inklusif dan suportif. Selain itu, anak-anak juga didorong untuk memberi respons positif terhadap cerita teman mereka, seperti ungkapan dukungan atau empati sederhana.
Pihak sekolah pun memberikan sambutan positif terhadap program Zona Bahasa Emosi, termasuk wali kelas 3 SDN Pedurungan Kidul 05 yang turut memberikan apresiasi terhadap materi dan kegiatan yang dilaksanakan. Ia menilai bahwa kegiatan ini dapat menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dan siswa-siswinya.
Sebagai luaran kegiatan, Zoya membagikan satu set kartu zona emosi kepada pihak sekolah agar dapat digunakan sebagai media belajar yang bermanfaat dan berkelanjutan di kelas.
Dengan metode yang sederhana namun bermakna, Zona Bahasa Emosi menjadi ruang belajar yang menyenangkan dan reflektif bagi anak-anak dalam mengenal, memahami, dan menyampaikan perasaannya. “Bahasa itu bukan cuma alat komunikasi, tapi juga jembatan untuk memahami emosi dan diri sendiri. Dengan ini harapannya, anak-anak tahu bahwa menyampaikan perasaan dengan kata-kata itu bukan tanda kelemahan, tapi bentuk keberanian,” tutup Zoya.
Melalui pendekatan yang menyenangkan dan kolaboratif, program Zona Bahasa Emosi juga menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa KKN-T 104 Universitas Diponegoro dalam upaya memperkuat karakter anak sejak usia dini.










