JATENGKU.COM, SRAGEN – Tim KKN-T IBDU 94 Universitas Diponegoro mengadakan kegiatan sosialisasi kesehatan mengenai Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Leptospirosis sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam pengabdian kepada masyarakat di Desa Pungsari, Plupuh, Sragen.

Kegiatan ini merupakan salah satu program sosial kemasyarakatan dengan kolaborasi dari mahasiswa Fakultas Kedokteran, Sains dan Matematika serta Sekolah Vokasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menghadapi dua penyakit menular yang sering muncul saat musim hujan.

Pencegahan DBD: Gerakan 3M Plus dan Inovasi Spray Serai

Dalam materi yang disampaikan oleh Pritha Dwi Hapsari dari jurusan keperawatan, DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejala awal yang umum diderita oleh penderita DBD meliputi demam tinggi mendadak, nyeri pada otot, pendarahan ringan serta munculnya bintik merah pada kulit. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah-langkah pencegahan yang tepat berupa gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mengubur atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk serta menggunakan bahan pengusir nyamuk.

Sosialisasi Sistem Aquaponik Cerdas.

Tim KKN juga memperkenalkan inovasi pembuatan spray anti nyamuk alami berbahan dasar serai yang dijelaskan oleh Siti Rokhmanah dari Jurusan Biologi. Produk ini dinilai ramah lingkungan, aman diaplikasikan pada kulit serta efektif mengusir nyamuk karena produk ini mengandung  senyawa aktif citronellol dan geraniol pada tanaman serai. 

Untuk memperkuat pemahaman peserta, Nala Putri Liliasari dari Jurusan Statistika turut membagikan leaflet berisi informasi mengenai penyakit DBD dan leptospirosis kepada kader kesehatan sehingga materi yang disampaikan dapat tersosialisasikan secara lebih luas kepada masyarakat. Rangkaian sosialisasi ditutup dengan Amanda Wahyu Azizah dari Jurusan Akuntansi Perpajakan yang memaparkan materi mengenai perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) spray antinyamuk dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pengelolaan biaya produksi dan pemanfaatan sumber daya secara optimal sehingga produk yang dihasilkan memiliki kualitas baik dengan harga yang proporsional.

Leptospirosis: Antisipasi dari Genangan Air dan Hewan Penular

Sosialisasi yang dilakukan oleh keempat mahasiswa Undip juga menjelaskan terkait penyakit Leptospirosis dimana Leptospirosis merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dengan penularan yang dapat terjadi melalui kontak langsung dengan urin atau jaringan hewan pembawa bakteri Leptospira seperti tikus maupun secara tidak langsung melalui air atau tanah yang terkontaminasi. Gejala yang muncul antara lain demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, hingga komplikasi pada ginjal dan hati. Tindakan pencegahan meliputi menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, menggunakan alat pelindung saat bekerja di area berisiko, dan memastikan ketersediaan air bersih yang layak konsumsi.

Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk : Cegah Demam Berdarah

Dalam rangka upaya preventif terhadap penyebaran DBD, Desa Pungsari melaksanakan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin. Kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan peran aktif ibu-ibu PKK bersama mahasiswa Universitas Diponegoro melalui pemeriksaan langsung ke setiap rumah warga di masing-masing RT.

Gerakan pemberantasan sarang nyamuk di desa pungsari bersama ibu-ibu PKK.

Sasaran utama kegiatan adalah memantau dan memastikan kebersihan pada berbagai tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, seperti bak mandi, tempayan, pot tanaman, maupun barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan. Melalui gerakan ini, masyarakat didorong untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan rumah serta memperkuat penerapan gerakan 3M Plus di tingkat keluarga. Dengan demikian, Desa Pungsari dapat menjadi contoh praktek gotong royong masyarakat dalam mencegah penyebaran penyakit DBD.

Pesan Kesehatan bagi Masyarakat

Kegiatan ini menekankan bahwa langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan saat penyakit telah terjadi. Masyarakat diimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih, waspada terhadap potensi genangan air, serta memanfaatkan inovasi lokal seperti spray serai untuk melindungi keluarga dari gigitan nyamuk.

Dengan adanya edukasi berkelanjutan, dan menanamkan prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati, diharapkan Desa Pungsari dapat membentuk lingkungan yang sehat dan terhindar dari ancaman DBD maupun leptospirosis.

Editor: Handayat