JATENGKU.COM, SEMARANG — Permasalahan sampah organik rumah tangga memang sering kali menjadi tantangan di lingkungan permukiman. Limbah dapur yang tidak terkelola dengan baik turut berkontribusi terhadap penumpukan sampah dan pencemaran lingkungan. Menjawab hal tersebut, Tim KKN-T 82 Universitas Diponegoro menghadirkan solusi sederhana dan berdampak, yakni melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi terkait pemanfaatan pengolahan limbah organik yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 Juli 2025 di Balai RW VII, Kelurahan Mijen, Kota Semarang.
Kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari program kerja multidisiplin dengan tema “Pengembangan Teknologi Pengolahan Limbah Pangan”, yang difokuskan pada peningkatan kesadaran warga akan pentingnya pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.
Program kerja tersebut dirancang melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk menghadirkan solusi bagi permasalahan terkait limbah organik, mulai dari aspek regulasi hukum, penerapan teknologi pengolahan limbah yang efektif dan sederhana, hingga pemberdayaan masyarakat dalam memanfaatkan kembali limbah menjadi produk bernilai guna.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga mendapat arahan dan pendampingan langsung dari Prof. Dr. Ing. Suherman, S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing Lapangan.
Sesi pertama diawali dengan pemaparan materi oleh Mu’thiara Sigar (Hukum), yang memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya melakukan pengelolaan sampah sebagai bagian dari penegakan hukum lingkungan. Dalam kesempatan itu pula, Mu’thiara menekankan bahwa tanggung jawab pengelolaan lingkungan bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah atau pihak swasta, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Dimana salah satu bentuk partisipasi nyata yang dapat dilakukan adalah dengan mengelola limbah rumah tangga secara mandiri.
Memasuki sesi kedua, sosialisasi dilanjutkan dengan perancangan dan praktik penggunaan komposter rumah tangga, yang diinisiasi oleh Pricilya Yanuar Hanada (Teknologi Pangan) dan Syifa Raihana (Hubungan Internasional). Selain penjelasan terkait prinsip kerja komposter, Pricilya dan Syifa juga mengajak warga untuk melakukan praktik langsung, mulai dari pemilahan sampah, penyusunan lapisan bahan, hingga pemantauan proses dekomposisi dan proses panen kompos.
Para peserta, yang terdiri dari perwakilan ibu-ibu PKK dan warga RW VII, tampak aktif dalam sesi praktik dan banyak mengajukan pertanyaan seputar cara perawatan komposter, jenis sampah yang bisa diolah, hingga potensi pemanfaatan kompos tersebut.
Sesi berikutnya dibawakan oleh Naila Ar-Rifdah (Teknologi Pangan), yang memandu demonstrasi langsung pembuatan pupuk cair organik (POC) berbahan dasar air cucian beras dan kulit bawang merah. Bahan-bahan tersebut dipilih karena mudah diperoleh dari limbah dapur sehari-hari namun kaya nutrisi untuk tanaman.
Air cucian beras mengandung karbohidrat dan mineral, sedangkan kulit bawang merah memiliki senyawa antibakteri alami serta zat pengatur tumbuh yang mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dalam kegiatan ini, Naila menunjukkan bagaimana proses fermentasi, penyaringan, penyimpanan, hingga cara penggunaan POC pada tanaman hias maupun sayuran.
Masih terkait dengan pemanfaatan limbah, kegiatan berlanjut dengan demonstrasi pembuatan biopestisida alami dari limbah kulit bawang oleh Shabrina Alya (Biologi). Kulit bawang yang seringkali dibuang karena dianggap tidak bernilai ternyata mengandung senyawa antimikroba yang efektif untuk mengendalikan hama pada tanaman. Dengan demikian, warga dapat memanfaatkan limbah dapur menjadi alternatif pengendali hama yang ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.

Antusiasme warga terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, mulai dari jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat kompos dan pupuk cair organik, teknik perawatan alat, hingga waktu ideal untuk menghasilkan olahan limbah yang berkualitas. Kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi interaktif mengenai manfaat jangka panjang pengolahan limbah organik, baik dari segi penghematan biaya perawatan tanaman serta mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
“Kami berterimakasih atas antusias warga RW 07 yang luar biasa untuk berpartisipasi dalam program pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk bermanfaat. Kami berharap program ini tidak berhenti disini, melainkan bisa terus berkelanjutan dan memberikan dampak baik bagi lingkungan sekitar.” tutur Syifa, salah satu inisiator program sekaligus Ketua Kelompok 2 Tim KKN-T 82 UNDIP.
Melalui pendekatan edukatif yang praktis dan mudah diterapkan, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi upaya pengurangan sampah rumah tangga di Kelurahan Mijen, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih mandiri dalam mengelola limbah organik di lingkungannya.











