JATENGKU.COM, SEMARANG – Sebagai bagian dari program multidisiplin KKN-T 141 Universitas Diponegoro, tim mahasiswa dari Domain 3 yang ditempatkan di Panti Pelayanan Sosial Pengemis Gelandangan dan Orang Terlantar Mardi Utomo Semarang menggelar Workshop Kreatif dan Budaya. Kegiatan ini menjadi bentuk kontribusi lintas ilmu dalam menjawab kebutuhan sosial dan psikologis para penghuni panti, khususnya untuk meningkatkan partisipasi warga dalam kegiatan positif yang menyenangkan dan membangun keterhubungan sosial.

Sebanyak 11 workshop dilaksanakan secara bertahap mulai dari tanggal 19 Juli hingga 1 Agustus 2025. Setiap kegiatan difasilitasi oleh satu mahasiswa sesuai dengan latar belakang keilmuan masing-masing. Workshop diselenggarakan dengan pendekatan edukatif, ekspresif dan reflektif yang disesuaikan dengan kebutuhan para penerima manfaat di PPS PGOT Mardi Utomo.

Dalam rangka menciptakan lingkungan panti yang lebih baik, suportif, dan mendorong interaksi positif antar penghuni sebagai bagian dari proses rehabilitasi sosial, tim mahasiswa dari Domain 3 melaksanakan Workshop Kreatif dan Budaya yang memadukan pendekatan seni dan kegiatan interaktif untuk membantu para Penerima Manfaat (PM) mengenali, mengelola, dan menurunkan tingkat stres, sekaligus memperkuat keterhubungan sosial di antara mereka. Secara psikologis, stres yang dibiarkan berlarut dapat menurunkan motivasi untuk berinteraksi dengan orang lain.

Melalui keterlibatan dalam kegiatan bersama yang positif, Penerima Manfaat (PM) tidak hanya memperoleh keterampilan kreativitas, tetapi juga belajar mengelola stres. Proses ini menjadi sarana efektif untuk membangun rasa kebersamaan, menumbuhkan rasa saling percaya, serta memperkuat ikatan sosial di antara para Penerima Manfaat (PM).

Workshop ini dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan yang dirancang untuk melatih kreativitas sebagai salah satu cara mengelola stres, sekaligus dapat membangun kohesi sosial para Penerima Manfaat (PM). Beberapa rangkaian kegiatan yang telah berhasil dilaksanakan yaitu Psikoedukasi: Dari Lelah Jadi Lega, Ekspresi Bebas: Cerita Hati Lewat Gambar, Manik-Manik Asik Biar Gak Panik, Ngalam: Sensory Grounding, Psikoedukasi Mindfulness: Mengelola Emosi, Relaksasi Kreatif: Mengenal Budaya Jepang Melalui Papercraft Anime.

Pada 19 Juli 2025, kegiatan dibuka dengan sesi “Psikoedukasi: Dari Lelah Jadi Lega” yang difasilitasi oleh Aurora Putri Soraya Sinuraya dari Fakultas Psikologi. Pada sesi ini, peserta dikenalkan dengan konsep stres dan kecemasan serta belajar bagaimana cara mengelolanya melalui pemahaman sederhana dan menyeluruh. Aurora juga membagikan strategi praktis yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menghadapi tekanan.

Kegiatan selanjutnya dilanjutkan oleh Jennyfer Susanto Tan dari Fakultas Psikologi berupa “Ekspresi Bebas: Cerita Hati Lewat Gambar”. Pada sesi ini, peserta dibagikan buku gambar, pensil, penghapus, rautan, dan krayon.

Peserta diajak menggambar apapun yang mereka pikirkan atau rasakan sebagai cara untuk melepas stres dan menyampaikan emosi secara visual. Setelah selesai menggambar, beberapa peserta diberikan kesempatan untuk menceritakan hasil gambarnya. Kegiatan ini disambut antusias oleh peserta karena dapat memberi ruang ekspresi yang bebas tanpa penilaian.

Jennyfer Susanto Tan meminta salah satu penerima manfaat Panti Pelayanan Sosial PGOT Mardi Utomo melakukan pemaparan mengenai gambar yang telah dibuat.

Pada hari yang sama, dilanjutkan kegiatan “Manik-Manik Asik Biar Gak Panik” oleh Sharon Septabri Titus dari Fakultas Psikologi. Pada sesi ini, peserta diajak untuk meronce manik-manik menjadi gelang yang bisa dipakai sendiri. Aktivitas ini dirancang tidak hanya untuk melatih fokus dan keterampilan motorik halus, tetapi juga sebagai bentuk kreativitas sederhana yang menyenangkan serta sebagai penyalur emosi.

Kegiatan Meronce yang dipimpin Oleh Sharon Septabri.

Menjelang sore hari, Athaya Malika dari Fakultas Psikologi menggelar sesi “Ngalam: Sensory Grounding” yang dilaksanakan di lapangan depan panti. Peserta diajak berjalan kaki tanpa alas kaki mengelilingi lapangan untuk merasakan langsung sensasi dari lingkungan sekitar sebagai cara meningkatkan kesadaran akan tubuh dan ruang. Setelah itu, peserta dibagi dalam kelompok kecil untuk sesi curhat santai bersama fasilitator mahasiswa. Peserta dapat menceritakan apa saja yang sedang dirasakan atau dipikirkan dalam suasana yang aman dan terbuka.

Athaya Malika memimpin kegiatan “Ngalam: Sensory Grounding”.

Keesokan harinya, pada 20 Juli 2025, Faradiana dari Fakultas Psikologi melaksanakan kegiatan dengan sesi “Psikoedukasi Mindfulness: Mengelola Emosi”. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk lebih sadar akan emosi yang dirasakan serta diajarkan teknik pernapasan sebagai alat bantu mengelola emosi secara sehat. Suasana kegiatan dibuat tenang dan mendalam agar warga bisa lebih nyaman mengeksplorasi perasaannya sendiri.

Faradiana memaparkan materi “Psikoedukasi Mindfulness: Mengelola Emosi”.

Pada hari yang sama, Muchammad Arif Setiyawan dari Fakultas Ilmu Budaya prodi Bahasa dan Kebudayaan Jepang mengadakan kegiatan “Relaksasi Kreatif: Mengenal Budaya Jepang Melalui Papercraft Anime”. Dalam kegiatan ini, peserta membuat papercraft maneki neko (versi anime Dandadan) yang telah disiapkan. Tujuannya untuk melatih kreatifitas dan kesabaran, sekaligus menjadi sarana mengalihkan stres melalui pendekatan pengenalan budaya.

Mahasiswa Domain 3 berfoto bersama Penerima Manfaat dan menunjukan hasil kerajinan Papercraft yang telah dirakit oleh dengan bantuan dan arahan dari Muchammad Arif Setiyawan.

Workshop selanjutnya berkaitan dengan membangun kesadaran hukum dan juga membangun kohesi diantara para PM menggunakan pendekatan edukatif melalui pelatihan kepemimpinan dan kesadaran sosial. Kegiatan ini menggabungkan hal-hal krusial seperti human trafficking, perdamaian, pengenalan nilai-nilai budaya jepang, serta penanaman nilai kepemimpinan.

Tujuan dari kegiatan ini adalah menciptakan ruang belajar yang interaktif dan juga reflektif diantara para PM. PM diajak terlibat aktif dalam dalam setiap kegiatan yang ada, tidak hanya menerima informasi tetapi juga merasakan langsung proses pembelajaran dan pengaplikasiannya.

Perpaduan materi yang diberikan dengan menyentuh aspek kesadaran dan perlindungan diri, nilai-nilai lintas budaya hingga kepemimpinan diharapkan mampu membekali para PM untuk menghadapi tantangan sosial yang ada sekaligus mendorong terciptanya lingkungan panti yang lebih aman, harmonis dan juga kolaboratif.

Pemaparan matero “Human Trafficking” oleh Faradilla Syachrani Salim.

Pada 21 Juli 2025, rangkaian kegiatan diawali oleh Faradilla Syachrani Salim dari Fakultas Hukum yang melakukan sosialisasi yang bertema “Human Trafficking”. Tujuan dari sosialisasi ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran bagi Penerima Manfaat mengenai bahaya serta dampak perdagangan manusia, sekaligus meningkatkan kewaspadaan penghuni panti terhadap bahaya perdagangan manusia, terutama di lingkungan yang rentan. Peserta diajak mengenali ciri-ciri, modus, dan cara melindungi diri, dengan bahasa yang mudah dipahami dan disesuaikan dengan konteks kehidupan mereka.

Salsabilla Putri Maharani memimpin dan memberikan materi mengenai  “Sosialisasi Peace is Me”.

Selanjutnya, Salsabila Putri Maharani dari Hubungan Internasional FISIP memfasilitasi sesi “Sosialisasi Peace is Me” yang bertujuan memperkuat pemahaman PM mengenai nilai-nilai perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam sesi ini, warga diajak untuk memahami cara menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, membangun empati, dan menciptakan relasi damai antar individu serta menanamkan betapa pentingnya menjaga keamanan diri sendiri sebagai bentuk dari keamanan manusia.

Setelah sesi tersebut, Calista Amadea dari FISIP melanjutkan kegiatan dengan aksi cap tangan bertema #PeaceisMe. Warga diajak menuju lapangan depan masjid panti untuk mencelupkan tangan ke cat akrilik warna-warni, lalu mencetaknya di kain sambil menuliskan pesan damai versi mereka sendiri. Kegiatan ini menjadi simbol kolaboratif bahwa setiap individu bisa berkontribusi dalam menciptakan ruang yang aman dan damai.

Aksi cap tangan “#Peace is Me” yang dipimpin oleh Calista Amadea.

Selanjutnya, pengenalan nilai-nilai budaya Jepang seperti shitsuke (pembiasaan disiplin) dan seiketsu (kebersihan lahir batin) menjadi bekal pembentukan karakter yang teratur dan berintegritas. Seluruh nilai ini diintegrasikan untuk mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya terampil, tetapi juga memimpin dengan hati, memberi contoh, dan menginspirasi perubahan positif di masyarakat.

Pada 25 Juli 2025, Ilham dari Fakultas Ilmu Budaya kembali hadir dengan sesi lanjutan bertema “Presentasi Budaya Jepang”. Mengangkat tema hidup bersih dan disiplin ala Jepang, dengan membawakan materi mengenai Seiketsu dan Shitsuke yaitu budaya hidup bersih dan disiplin yang dilakukan oleh orang Jepang. Kegiatan ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta tidak hanya antusias mengajukan pertanyaan seputar kebiasaan hidup bersih dan etos kerja masyarakat Jepang, tetapi juga mendalami topik lain seperti peluang kerja di Jepang, hingga tips mempelajari bahasa Jepang secara efektif. Suasana penuh rasa ingin tahu ini menjadikan kegiatan tersebut tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memotivasi peserta untuk menerapkan nilai-nilai positif ala Jepang dalam kehidupan sehari-hari.

Masyhabi Ilham Yudistira memberikan materi Presentasi Budaya Jepang : Seiketsu dan Shitsuke sebagai pedoman hidup bersih dan disiplin.

Dengan mengintegrasikan kesadaran hukum, nilai perdamaian, dan pembentukan karakter disiplin, kegiatan ini dirancang bukan hanya untuk memberi pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan sikap proaktif, rasa tanggung jawab sosial, serta kemampuan menjadi pemimpin yang menginspirasi dan memberi dampak positif.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan Multidisiplin 2, pada 1 Agustus 2025, Rafid Atta Muhammad dari Ilmu Pemerintahan FISIP mensosialisasikan diskusi yang berjudul “Jadi Pemimpin Jadi Teladan” bersama Ketua RT dan Ketua RW PPS PGOT Mardi Utomo.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menggali aspirasi dan masukan dari warga sekitar terhadap keberadaan PPS PGOT Mardi Utomo, serta mempererat hubungan antara masyarakat dan penghuni panti melalui komunikasi yang terbuka dan konstruktif.

Rafid Atta Muhammad bersama dengan salah satu penerima manfaat berdiskusi mengenai menjadi pemimpin yang dapat menjadi teladan.

Seluruh kegiatan dalam Multidisiplin 2 ini menjadi ruang yang edukatif, suportif, dan inklusif. Melalui pendekatan yang humanis dan kreatif, mahasiswa KKN-T 141 UNDIP berupaya membangun hubungan sosial yang lebih sehat, memupuk keberdayaan individu, dan memberikan pengalaman bermakna bagi penghuni panti dalam bentuk ekspresi, refleksi, dan kebersamaan.

Editor: Handayat