JATENGKU.COM, SURABAYA — Melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit pendidikan untuk pertama kalinya membuat saya merasa gugup, penasaran, dan penuh semangat secara bersamaan. Suasana lorong yang ramai, aroma antiseptik yang khas, serta aktivitas para tenaga kesehatan yang bergerak cepat membuat saya menyadari bahwa saya benar-benar telah memasuki dunia yang selama ini hanya dapat saya bawa dalam doa dari jauh.
Hari itu, saya menyadari bahwa observasi ini bukan sekadar tugas, tetapi sebuah kesempatan untuk melihat lebih dekat bagaimana pelayanan kesehatan berjalan sesungguhnya di Indonesia. Terlebih lagi, rumah sakit ini juga akan menjadi awal bagi karir saya untuk dapat membawa perubahan-perubahan baru di dunia kesehatan nantinya.
Komunikasi efektif merupakan nilai yang penting dalam dunia kesehatan karena melalui komunikasi yang jelas, akurat, dan mudah dipahami, tenaga kesehatan dapat membangun kepercayaan dengan pasien, mencegah kesalahpahaman, serta memastikan setiap tindakan medis dilakukan sesuai kebutuhan. Ketika sedang melaksanakan observasi, para petugas IGD atau Instalasi Gawat Darurat, salah satu unit paling ramai dan krusial di Rumah Sakit, menjelaskan setiap prosedur penanganan dengan runtut dan efektif.
Dengan teknik komunikasi yang runtut, meskipun sedang dalam keadaan panik dan penuh kekhawatiran, keluarga dari pasien IGD tetap dapat mengikuti arahan untuk memenuhi syarat administratif dengan baik. Selain itu, setiap petugas kesehatan juga transparan dalam mengutarakan kondisi dari pasien, namun tetap menggunakan bahasa yang sederhana sehingga dapat terjadi komunikasi dua arah antara tenaga kesehatan dan keluarga pasien yang termasuk masyarakat awam.
Belum selesai berkutat dengan area IGD, saya juga menyadari bahwa fasilitas di IGD sangat lengkap dan sesuai yang dibutuhkan. Beberapa diantaranya adalah alat dokumentasi untuk rontgen, kursi roda, tiang infus, serta botol antiseptik yang tersedia di setiap area.
Selain itu, lantai di IGD juga khusus dan dibedakan dari area rumah sakit lainnya. Terdapat garis triase yang dibutuhkan oleh tenaga medis untuk melakukan proses sortir dalam menangani pasien sesuai dengan tingkat urgensinya sehingga lebih banyak probabilitas pasien berhasil diselamatkan berdasarkan urutan prioritasnya.
Sebagai contoh, garis biru mengarah ke kamar resusitasi yang menandakan bahwa pasien membutuhkan bantuan napas sesegera mungkin, sementara garis hijau membantu mengelompokkan pasien yang hanya membutuhkan tindakan minor. IGD juga menyediakan ruang kedap suara bagi pasien yang membutuhkan penanganan psikis secara darurat, seperti pasien dengan percobaan bunuh diri.
Meskipun begitu, terdapat juga hal-hal yang masih perlu menerima perbaikan, terutama untuk area utama ruang tunggu pasien yang terpisah jauh dari IGD. Mengangkat nilai profesionalitas dan empati, area reservasi memang telah dilengkapi oleh beberapa satpam dan petugas yang sigap membantu pasien lanjut usia dalam mengisi formulir pendaftaran.
Namun, berdasarkan pengamatan saya secara pribadi, terdapat pula petugas loket yang kurang ramah ketika seorang keluarga dari pasien sedang bertanya perihal letak IGD, sebuah pertanyaan yang mungkin saja berkaitan langsung dengan urgensi penanganan pasien. Petugas loket tersebut hanya menjawab dengan singkat dan suara yang kurang jelas, akibatnya keluarga dari pasien tersebut harus bertanya berkali-kali.
Terakhir, terdapat beberapa kasur pasien yang diletakkan di tengah-tengah ruang tunggu dan didorong oleh anggota keluarga, bukan oleh tenaga medis. Meskipun saya kurang mengetahui latar belakang dari penempatan kasur tersebut, pasien terlihat cukup lemas dan kesulitan untuk bernapas karena ruang tunggu penuh sesak oleh banyak pasien lainnya. Kasur pasien juga sampai merambat di lorong rumah sakit yang akhirnya menutup jalan bagi pasien yang harus dipindahkan dari gedung utama menuju Instalasi Gawat Darurat.
Observasi ini membuat saya memahami bahwa rumah sakit adalah tempat di mana harapan dan ketakutan bertemu, sehingga setiap interaksi memiliki bobot kemanusiaan yang sangat besar. Pengalaman ini menanamkan kesadaran dalam diri saya bahwa kelak, ketika berada di posisi memberi pelayanan, saya harus hadir bukan hanya sebagai tenaga kesehatan, tetapi juga sebagai manusia yang mampu melihat, mendengar, dan merasakan.
Sebab pada akhirnya, kualitas pelayanan kesehatan yang sesungguhnya tidak hanya diukur dari berapa banyak nyawa yang terselamatkan, tetapi dari bagaimana setiap orang yang datang merasa diperlakukan dengan hormat, kepastian, dan empati yang tulus.
Penulis: Grennadine Anggie dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga











