JATENGKU.COM, SEMARANG — Desa Jurang Blimbing di Kelurahan Tembalang, Semarang, dikenal sebagai kampung tematik seni-budaya. Di sini berbagai kesenian tradisional tumbuh subur, termasuk kethoprak, kuda lumping, hingga kaligrafi. Panggung sederhana di RT 04 selama puluhan tahun menjadi jantung pagelaran seni penduduk.
Kampung ini memiliki kesenian tradisional dari zaman penjajahan yang masih bertahan hingga sekarang. Dari panggung inilah cerita-cerita rakyat dipentaskan, menjaga ingatan sejarah sambil menguatkan ikatan sosial.
Pada tiap malam pementasan, tiupan angin basah mengiringi bunyi gamelan dan gemuruh sorak penonton. Tirai panggung, yang baru-baru ini diganti dengan bahan beludru baru, memegang peran penting dalam suasana itu. Sebagaimana dijelaskan dalam dunia teater, tirai berfungsi “sebagai elemen penting dalam menetapkan suasana panggung dan transisi antar adegan”. Ketika tirai dibuka, penonton seolah memasuki alam cerita di balik panggung.
Dalam kesenian ketoprak misalnya, tirai yang lebar dan berwarna cerah menjadi gerbang visual menuju kisah Jawa kuno, legenda, dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Begitu juga dalam kuda lumping, para penari dengan kuda anyaman menunggu di balik tirai panggung, siap menampilkan keberanian dan keindahan gerak menyerupai pasukan berkuda.
Ketoprak sendiri adalah teater rakyat Jawa yang khas, dengan lakon legenda dan kepahlawanan yang dibawakan secara dramatis. Sementara kuda lumping, dikenal juga sebagai jaran kepang, merupakan tari tradisional Nusantara yang menggabungkan unsur tari, musik, dan ritual dalam pertunjukan khas masyarakat Jawa.
Kesenian kuda lumping kaya akan magis dan aksi tari dengan kuda anyaman, sementara ketoprak kaya dialog dan humor rakyat. Bagi warga Jurang Blimbing, kedua seni ini adalah warisan leluhur yang membanggakan dan menjadi identitas komunitas desa. Dengan tirai panggung baru, nilai-nilai inilah yang ingin mereka jaga dan tampilkan dengan lebih baik.
Proses pergantian tirai digagas atas inisiatif bersama warga dan seniman setempat. Para pemuda Karang Taruna, paguyuban seni, serta ibu-ibu PKK bahu-membahu mengumpulkan dana dan tenaga. Pemerintah kelurahan pun terlibat; program dana aspirasi atau dana desa sering dialokasikan untuk infrastruktur kebudayaan. Bahkan dalam kasus sejenis di desa lain, suntikan dana aspirasi memungkinkan grup kuda lumping membeli kostum dan gamelan baru, sehingga “geliat kesenian pun bertambah maju”.
Di Jurang Blimbing, pendanaan serupa dipadukan dengan gotong-royong warga: tiang panggung diperbaiki, karpet ditata ulang, dan tirai beludru baru digantung. Lurah Tembalang, Asih Sri Windarti, dengan bangga menyampaikan terima kasih kepada Paguyuban Ketoprak Sri Mulyo dan mahasiswa KKN yang “telah bekerja keras menyelenggarakan dan menampilkan kembali ketoprak ini”. Ia berharap pertunjukan tradisi itu “dapat terus dikenal dan dilestarikan” oleh seluruh lapisan masyarakat.
Hadirnya tirai baru membawa angin segar dalam semangat warga. Ketika malam pementasan tiba, para penonton menyambut riuh sahutan gendang dan nyanyian. Kirana Santi, seorang penonton muda, mengungkapkan kegembiraannya karena bisa melihat pertunjukan ketoprak untuk pertama kalinya di kampungnya: “Saya belum pernah menonton ketoprak sebelumnya, dan sangat tertarik untuk bisa nonton, apalagi ternyata kesenian ini ada dekat dengan kita, yaitu di Kampung Seni Budaya Jurang Blimbing,” ujarnya. Kirana bahkan berharap acara seni seperti ini terus rutin digelar: “Semoga pementasan Ketoprak Sri Mulyo ini bisa selalu ada, tidak hanya untuk menghibur tapi juga sebagai media belajar bagi generasi muda terkait kebudayaan Jawa”. Suara semangat serupa datang pula dari para orang tua dan sesepuh desa, yang bangga menyaksikan anak-cucu mereka bangkit berkesenian.
Terlaksananya penggantian tirai menunjukkan bahwa seni tradisi tak hanya hidup di hati, tetapi juga mendapat perhatian nyata. Seperti dicatat media lokal, pementasan ketoprak yang menghibur sekaligus mendidik ini “menjadi bukti nyata bahwa seni tradisional seperti ketoprak masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat dan juga sebagai ajang pelestarian budaya sekaligus penguat identitas masyarakat Jawa”. Panggung RT 04 kini tak hanya menjadi tempat pertunjukan; ia menjadi simbol kebersamaan warga dalam melestarikan warisan nenek moyang. Pergantian tirai sederhana itu pun membuka babak baru: sebuah panggung yang lebih elok, siap menceritakan kembali kisah-kisah Jawa di bawah cahaya sorot, menginspirasi semangat gotong-royong dan kecintaan budaya generasi mendatang.
Penulis: Riswulan Dewi











