Semarang, 30 Juli 2025 – Gilbert Marulitua Pakpahan, mahasiswa jurusan Mesin, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), menggelar demonstrasi pembuatan alat komposter drum di Dusun Sironjang dan Dukuh, Desa Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Kegiatan yang berlangsung di halaman rumah Ketua RT 2 RW 1 ini dihadiri warga dari RT 1 hingga RT 4. Demonstrasi menjadi bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Undip yang berlangsung sejak 14 Juli hingga 18 Agustus 2025.
Dalam kegiatan tersebut, Gilbert memperkenalkan cara pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi kompos menggunakan alat sederhana berbahan dasar tong plastik bekas. Peralatan lain yang digunakan antara lain pipa aerasi, kran pembuangan (air kompos), dan rangka penyangga dari kayu.
“Bahan-bahannya murah dan mudah ditemukan. Dengan sedikit usaha, warga bisa kelola sampah sendiri dan hasilkan pupuk gratis untuk tanaman mereka,” ujar Gilbert.
Survei awal menunjukkan sebagian besar warga belum memiliki sistem pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan. Sisa dapur seperti sayuran, buah, dan daun kering umumnya langsung dibuang, padahal berpotensi menjadi kompos.
Warga tampak antusias mengikuti proses pembuatan komposter drum. Beberapa di antaranya aktif bertanya soal teknis penggunaan, masa panen kompos, dan cara mengurangi bau saat proses fermentasi berlangsung.
“Saya pikir bikin kompos itu ribet dan bau. Ternyata dengan drum seperti ini bisa lebih rapi dan tidak berbau. Cocok untuk kebun cabai saya di rumah,” ujar Pak Roi, salah satu peserta kegiatan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat lebih sadar akan pentingnya pengelolaan sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan. Selain mendukung kebersihan lingkungan, metode ini juga dinilai mampu berkontribusi pada ketahanan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.










