JATENGKU.COM, SEMARANG – Di tengah meningkatnya kasus hipertensi di Indonesia, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran jurusan Farmasi bernama Sheila Destiani Ferian menghadirkan inovasi pencegahan yang menarik perhatian. Melalui program “Penanaman TOGA Hipertensi Upaya Pencegahan Penyakit Hipertensi”, Sheila mengajak masyarakat Kelurahan Sambiroto untuk kembali memanfaatkan kearifan lokal dalam menjaga kesehatan.
Program yang merupakan bagian dari tema multidisiplin “Pemanfaatan TOGA Menjadi Produk Jahe Bubuk untuk Pencegahan Sindrom Metabolik melalui Edukasi dan Digitalisasi Kesehatan” ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya angka penderita hipertensi di masyarakat.

Melalui penanaman TOGA, kami ingin memberikan solusi pencegahan yang dapat dilakukan setiap keluarga di rumah mereka sendiri,” ungkap Sheila saat menjelaskan latar belakang programnya.

Program ini tidak hanya fokus pada penanaman, tetapi juga memberikan edukasi komprehensif tentang budidaya TOGA dan manfaatnya bagi kesehatan keluarga. Program ini sekaligus merupakan dukungan terhadap keperluan menghias taman untuk lomba 10 Program Pokok PKK. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja multidisiplin Tim KKN-T 118 Kelompok 5 yang bertemakan “Pemanfaatan TOGA Menjadi Produk Jahe Bubuk untuk Pencegahan Sindrom Metabolik melalui Edukasi dan Digitalisasi Kesehatan.”
Pemilihan tanaman dalam program ini bukanlah sembarangan. Sheila dan tim telah melakukan riset mendalam untuk menentukan lima jenis tanaman yang terbukti secara ilmiah efektif dalam menurunkan tekanan darah. Tanaman seledri menjadi primadona karena mengandung 3-n-butylphthalide yang dapat mengendurkan otot-otot pembuluh darah.
Daun salam dengan kandungan flavonoidnya mampu meningkatkan elastisitas pembuluh darah, kayu manis yang mengandung cinnamaldehyde terbukti dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik secara signifikan. Tak ketinggalan, kemangi dengan kandungan eugenolnya memberikan efek relaksasi pada sistem kardiovaskular. “Semua tanaman ini mudah ditanam dan dirawat, sehingga sangat cocok untuk dikembangkan di pekarangan rumah,” jelas Sheila.
Proses implementasi program dimulai dengan sosialisasi kepada ibu-ibu PKK dan warga setempat. Antusiasme masyarakat terlihat dari partisipasi aktif dalam setiap sesi edukasi.
Dengan komitmen terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan, program ini diharapkan dapat menjadi model yang dapat diadaptasi di berbagai wilayah lain di Indonesia, mengingat hipertensi masih menjadi tantangan kesehatan publik yang memerlukan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan.









