Semarang, Agustus 2025 – RW 10 Kelurahan Tanjung Mas, salah satu kawasan pesisir padat penduduk di Kota Semarang, telah membuktikan diri sebagai komunitas yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang. Meski memiliki keterbatasan lahan untuk bertani, warga telah mengembangkan berbagai upaya mandiri untuk menjaga ketersediaan pangan dan mengelola lingkungan. Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Tim 145 Kelompok 2 Universitas Diponegoro melalui program kerja Multidisiplin bertema “Penguatan Ketahanan Pangan dan Dukungan ProKlim Berbasis Komunitas” difokuskan untuk mengoptimalkan dan memperluas inisiatif yang sudah ada, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas dan berkelanjutan.

Kegiatan ini memadukan edukasi, inovasi teknologi hijau, dan kolaborasi antarwarga demi menciptakan lingkungan pesisir yang sehat sekaligus mandiri pangan. Pada bidang edukasi lingkungan, 35 anak diajak untuk memahami isu iklim dan konsep produk ramah lingkungan melalui dua seri buku cerita bilingual serta workshop kreatif mengubah limbah plastik menjadi gantungan kunci resin bernilai jual. Antusiasme mereka terlihat dari semangat memamerkan hasil karya yang telah diselesaikan.

Inovasi Mahasiswa Universitas Diponegoro: Kolaborasi Multidisiplin untuk Lingkungan dan Pangan

Di bidang ketahanan pangan, Tim KKN menghadirkan dua unit budidaya ikan dalam ember (budidamber) berbasis aquaponik dan inovasi mengembangkan demplot budidaya sawi pakcoy dengan sistem wicked hidroponik yang cocok untuk lahan sempit dengan media batu kerikil. Sistem ini dinilai warga cocok untuk lahan terbatas yang melihat peluang menanam sayur dan memelihara ikan di halaman rumah mereka. “Wah keren, besok saya mau coba juga di rumah, Mbak,” ujar Ibu Rita, salah satu warga yang mengikuti edukasi tersebut, sambil tersenyum antusias.

Inovasi Mahasiswa Universitas Diponegoro: Kolaborasi Multidisiplin untuk Lingkungan dan Pangan

Hasil panen dan komoditas lokal kemudian diolah melalui pelatihan pengolahan pangan. Warga dilatih mengubah biji sorgum menjadi tepung dan produk SorKies (cookies bebas gluten) sebagai alternatif usaha rumahan. Pelatihan ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan limbah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga dan produksi pangan. Untuk itu, Tim KKN juga menghadirkan standing banner informatif mengenai waktu penguraian berbagai jenis sampah guna mendorong kesadaran warga dalam meminimalkan dampak lingkungan.

Inovasi Mahasiswa Universitas Diponegoro: Kolaborasi Multidisiplin untuk Lingkungan dan Pangan

Sebagai langkah strategis memperkuat operasional KWT, diadakan pula Workshop Peningkatan Kualitas Operasional KWT RW 10 yang menitikberatkan pada integrasi sistem kerja dan penguatan nilai ekonomi kelompok. Melalui workshop ini, anggota KWT Agro Tanjung mempelajari standar operasional pada bidang pertanian, peternakan, pengolahan maggot, pembuatan kompos, serta manajemen kelompok. Seluruh materi pelatihan dan hasil diskusi dibukukan dalam Buku Panduan Operasional KWT Agro Tanjung RW 10 yang diharapkan menjadi acuan berkelanjutan setelah program berakhir. Sebagai pelengkap, SOP tersebut juga disajikan dalam bentuk banner infografis dengan desain yang telah dioptimalkan, sehingga informasi dapat tersampaikan secara ringkas, menarik, dan mudah dipahami oleh seluruh anggota.

Melalui kombinasi edukasi, praktik langsung, dan sinergi lintas bidang, program-program multidisiplin ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesadaran lingkungan, serta menjadikan RW 10 sebagai contoh komunitas pesisir yang tangguh menghadapi perubahan iklim.

 

Ditulis oleh: Mahasiswa Kelompok 2 Tim 145 KKNT Universitas Diponegoro 2025

Editor: Handayat