JATENGKU.COM, BATANG — Dalam upaya memberdayakan masyarakat peternak di Dusun Bringin, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang pada hari Selasa (15/7/2025), mahasiswa dari program studi Akuntansi yang tergabung dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tim 50 menghadirkan program inovatif bertajuk “Packaging, Penentuan Harga Jual, dan Analisis Break Even Point (BEP) Jamu Cekok Ternak”
Program ini dilatarbelakangi oleh potensi besar dari produk jamu cekok herbal yang biasa digunakan peternak untuk menjaga stamina dan nafsu makan ternak, khususnya kambing dan domba.
Namun, selama ini produk tersebut belum memiliki kemasan yang menarik, belum memiliki harga jual yang terukur, dan belum dianalisis secara ekonomi untuk mengetahui titik impas atau keuntungan dari penjualannya.
Dengan adanya edukasi mengenai pengemasan produk, penetapan harga jual yang rasional, serta analisis titik impas (BEP), para peternak dibekali kemampuan dasar manajerial yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan ekonomi lokal.
Selain meningkatkan nilai tambah produk, program ini juga mendorong pola pikir wirausaha di kalangan peternak agar tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pelaku usaha mandiri yang mampu membaca peluang dan mengelola usaha secara berkelanjutan.
Menurut mahasiswa KKN-T Tim 50 Kelompok Dusun Bringin, Khairunnisa Zhafira, menyebutkan bahwa sasaran utama program ini adalah para peternak disana. Program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan produksi peternak, tetapi juga memperkenalkan konsep kewirausahaan berbasis data akuntansi sederhana.
“Kami ingin agar para peternak tidak hanya bisa memproduksi jamu cekok ternak secara mandiri, tetapi juga bisa menjualnya dengan harga yang menguntungkan dan memahami titik impas agar usahanya berkelanjutan,” Ujar Khairunnisa.
Kegiatan edukasi ini dilaksanakan dalam bentuk diskusi kelompok, dengan melibatkan peternak yang aktif maupun pemula. Selain itu, mahasiswa juga menyertakan analisis sederhana tentang potensi keuntungan jika jamu cekok tersebut dikembangkan menjadi produk rumahan yang dipasarkan secara luas, baik di pasar tradisional maupun melalui media sosial. Kami juga mengenalkan strategi pemasaran sederhana seperti promosi dari mulut ke mulut, penggunaan media WhatsApp, hingga pendekatan branding berbasis lokal.

Sementara itu, salah satu peternak, Pak Miftakhudin, yang mengikuti kegiatan sosialisasi ini mengaku senang dan terbantu dengan program edukasi bisnis ini.
“Dulu saya bikin dan jual jamu seadanya. Nggak tahu modalnya berapa, untungnya berapa. Sekarang jadi ngerti gimana ngitungnya, dikasih contoh langsung. Malah dikasih desain label juga. Jadi lebih percaya diri jual ke tetangga atau ke pasar,” ujar Pak Miftakhudin sambil tersenyum.
Dari kegiatan ini diharapkan para peternak di Dusun Bringin dapat lebih mandiri dan percaya diri dalam mengelola usaha jamu cekok secara ekonomi, sehingga produk mereka tidak hanya bermanfaat untuk ternak sendiri, tetapi juga memiliki nilai jual yang menguntungkan dan berkelanjutan.










