JATENGKU.COM, DEMAK — Desa Betahwalang, yang terletak di wilayah pesisir Kabupaten Demak, terus berupaya menghadapi tantangan abrasi yang menggerus garis pantai dari tahun ke tahun. Dalam menghadapi permasalahan ini, masyarakat setempat, khususnya para petani tambak dari Kelompok Sido Makmur, menunjukkan inisiatif luar biasa dengan mengambil peran aktif dalam upaya rehabilitasi pesisir.
Salah satu langkah konkret yang mereka lakukan adalah penanaman mangrove di sekitar area tambak dan garis pantai. Mangrove dikenal memiliki kemampuan alami dalam menahan arus laut dan memerangkap sedimen, sehingga mampu memperlambat laju abrasi sekaligus membentuk benteng alami yang melindungi daratan. Lebih dari itu, keberadaan mangrove juga memberikan manfaat ekologis lainnya seperti menjadi habitat biota laut, memperbaiki kualitas air, dan menyerap karbon.
Inisiatif ini tidak dilakukan sendiri. Para petani tambak dari kelompok Sido Makmur menjalin kerja sama strategis dengan Wetlands International, sebuah organisasi global yang fokus pada konservasi dan restorasi ekosistem lahan basah. Melalui kerja sama ini, para petani mendapatkan pendampingan teknis, pelatihan, serta bantuan bibit mangrove yang sesuai dengan kondisi pesisir Betahwalang.
Kerja kolektif antara masyarakat lokal dan mitra internasional ini menjadi bukti bahwa solusi berbasis masyarakat (community-based solution) memiliki potensi besar dalam mengatasi persoalan lingkungan. Di sisi lain, hal ini juga memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem sebagai bagian dari keberlangsungan hidup mereka, baik dari aspek ekonomi tambak maupun perlindungan lingkungan.
Melalui peran aktif petani tambak dalam penanaman mangrove, Desa Betahwalang tidak hanya membentengi dirinya dari abrasi, tetapi juga menunjukkan contoh nyata kolaborasi lokal-global dalam menjaga kelestarian wilayah pesisir.
Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa KKN Tim 95 Universitas Diponegoro turut mengambil peran dalam mendukung program ini, para mahasiswa juga menjalankan program sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya hutan mangrove sebagai ekosistem penyangga wilayah pesisir. Dalam kegiatan ini, masyarakat diberikan pemahaman mengenai fungsi ekologis mangrove, manfaatnya terhadap tambak, serta cara-cara bijak dalam memanfaatkan pohon mangrove secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.
Melalui pendekatan edukatif ini, diharapkan masyarakat semakin menyadari bahwa kelestarian mangrove bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga pesisir. Kolaborasi antara petani, mahasiswa, dan mitra seperti Wetlands International menjadi bukti nyata bahwa konservasi mangrove adalah upaya bersama yang bisa dimulai dari desa.
Dengan keterlibatan aktif mahasiswa dan kesadaran masyarakat yang terus meningkat, Desa Betahwalang menunjukkan potensi besar menjadi contoh desa pesisir tangguh yang menjaga ekosistemnya demi keberlanjutan generasi mendatang.

Selain itu, Mahasiswa KKN Tim 95 juga membuat peta visualisasi terkait abrasi yang ada diperairan Betahwalang. Peta ini menyajikan analisis perubahan garis pantai di wilayah Betahwalang, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, dalam kurun waktu 2019 hingga 2025. Analisis ini dilakukan oleh KKN-T Tim 95 Universitas Diponegoro 2025, bekerja sama dengan TIM 95 KKN UNDIP.
Peta utama menunjukkan wilayah pesisir dengan garis-garis berwarna yang mengindikasikan laju perubahan garis pantai. Skala warna ini dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan nilai EPR (End Point Rate), yang mengukur pergeseran garis pantai dalam meter per tahun. Analisis ini menggunakan data dari ESRI Basemap, Sentinel Hub, dan Peta RBI, serta diukur menggunakan metode EPR (End Point Rate) yang mengindikasikan laju perubahan garis pantai dalam meter per tahun. Secara visual, peta menunjukkan percampuran antara abrasi dan akresi di wilayah pesisir.
Area dengan garis-garis merah tua hingga oranye menunjukkan tingkat abrasi yang berbeda, mulai dari abrasi parah (lebih dari 3 meter per tahun) hingga abrasi ringan (kurang dari 1 meter per tahun), di mana daratan terkikis oleh air laut. Sebaliknya, garis-garis biru menunjukkan adanya akresi atau penambahan daratan akibat endapan sedimen, dengan laju yang bervariasi dari 1 meter hingga hampir 40 meter per tahun di beberapa titik.
Akresi ini merupakan salah satu hasil dari penerapan sedimen trap sebagai metode yang dilakukan oleh merupakan salah satu hasil dari penerapan sedimen trap yang dilakukan oleh kelompok nelayan Sido makmur.
Kelompok nelayan ini menerapkan metode ini untuk menjaga terjadinya abrasi pada garis pantai sekaligus memperluas area daratan garis pantai. Sedimen trap ini dilakukan dengan pemasangan bambu dengan desain tertentu yang diaggap mampu menangkap/menjebak material-material dari laut yang terbawa ombak ke garis pantai.
Material ini nantinya akan terjebak di sedimen trap yang lama kelamaan akan berubah menjadi sedimen yang menjadi daratan secara perlahan. Sementara itu, garis berwarna hijau muda mengindikasikan area yang relatif stabil dengan perubahan garis pantai yang sangat minim. Dinamika ini tampak kompleks, di mana abrasi dominan di beberapa bagian utara dan selatan, sedangkan akresi terjadi di bagian tengah, kemungkinan besar dipengaruhi oleh penanaman mangrove secara massal di area tersebut.
Mangrove ini selain menahan abrasi pantai juga dapat menjadi sedimen trap alami bagi garis pantai. Dengan skala 1 sentimeter setara 240 meter, peta ini tidak hanya memberikan gambaran visual, tetapi juga data kuantitatif yang krusial. Hasil analisis ini penting sebagai landasan bagi pihak berwenang untuk merumuskan strategi mitigasi abrasi dan pengelolaan wilayah pesisir Betahwalang yang lebih efektif dan berkelanjutan di masa depan.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Diponegoro, yang didasarkan pada Surat Tugas Rektor Nomor 274-096/UN7.D2/PM/IV/2025 berjudul “Peningkatan Valuasi Ekonomi Masyarakat Desa berdasarkan Pengelolaan Daerah Rehabilitasi Mangrove dan Kawasan Konservasi Rajungan Berkelanjutan di Betahwalang, Demak”.
Program ini dilaksanakan di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan Dr. E. Drs. Hersugondo, M.M. dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Prof. Dr. Hermin Pancasakti Kusumaningrum, S.Si., M.Si. dari Fakultas Sains dan Matematika, serta Prof. Dr. Ir. Muhammad Zainuri, DEA dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.











