JATENGKU.COM, SEMARANG — Siapa sangka garam dapur yang tampak sepele ternyata memiliki dampak yang besar bagi kesehatan, terlebih untuk ibu hamil dan juga balita. Fakta inilah yang coba disuarakan oleh mahasiswa Universitas Diponegoro bersama dosen pembimbing lapangan Bapak Dr. Ir. Suyatno, M.Kes., Ibu Alfi Fairuz Asna, S.Gz., MPH., dan Ibu Lilis Wijayanti, S.Gz., M.Gz., melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim 124 di Kelurahan Meteseh, Semarang.
Tidak hanya mengandalkan pendekatan konvensional, Tim 124 juga memanfaatkan media sosial sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan edukasi mengenai pentingnya konsumsi garam beryodium. Pemanfaatan media digital ini dipilih karena dianggap selaras dengan kebiasaan masyarakat kini yang banyak mengakses informasi melalui perangkat gawai.

Salah satu upaya edukasi publik diwujudkan melalui unggahan Instagram @cegahgaki.id untuk membahas isu penting seputar peredaran garam beryodium palsu. Dalam postingan tersebut, mahasiswa KKN Tim 124 menyajikan perbandingan visual antara garam beryodium asli dan palsu, lengkap dengan penjelasan mengenai ciri-ciri fisik yang bisa dikenali masyarakat awam. Mulai dari perbedaan tekstur, serpihan, hingga kemasan turut kami tampilkan secara detail agar informasi yang diberikan mudah dipahami.
Kampanye digital yang diluncurkan melalui akun Instagram @cegahgaki.id tidak hanya menyajikan konten edukatif yang bersifat pasif, tetapi juga mendokumentasikan serangkaian kegiatan lapangan yang merupakan bagian penting dari upaya advokasi mengenai konsumsi garam beryodium.
Dalam salah satu postingan, terlihat semangat warga yang berpartisipasi dalam senam pagi bersama pada acara Car Free Day Meteseh. Mahasiswa KKN-T Tim 124 memanfaatkan momen ini untuk memberikan edukasi ringan tentang GAKI dan pentingnya pemilihan garam yang tepat, sambil membagikan flyer dan melakukan edukasi langsung kepada peserta CFD dari berbagai usia.
Tidak hanya berfokus pada kegiatan luar ruangan, tim juga mengadakan sesi pelatihan di dalam ruangan untuk ibu-ibu PKK, kader kesehatan, dan tokoh masyarakat setempat. Materi yang disampaikan mencakup dampak kekurangan yodium, cara mengenali garam beryodium, serta langkah-langkah advokasi sederhana yang dapat dilakukan di lingkungan rumah.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut diunggah secara berkala untuk menjaga keberlanjutan kampanye digital dan memperluas jangkauan pesan. Melalui kombinasi antara aksi nyata dan dokumentasi di media sosial, KKN-T TIM 124 berharap agar kesadaran masyarakat tentang pentingnya garam beryodium tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat menjadi pengetahuan praktis yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bagian dari program kampanye kesehatan masyarakat, mahasiswa KKN-T TIM 124 Universitas Diponegoro juga menginisiasi penyebaran informasi melalui media sosial dengan membuat akun TikTok bernama @cegahgaki.id. Akun ini digunakan sebagai sarana edukatif kepada masyarakat luas, dengan konten video yang dikemas secara kreatif dan menyesuaikan tren masa kini agar pesan yang disampaikan lebih mudah diterima dan dipahami.
Kontennya mengangkat topik penting seperti ajakan untuk mengkonsumsi garam beryodium dan menghindari penggunaan garam krosok atau garam tanpa label ‘beryodium’. Selain sebagai media kampanye, akun ini juga menjadi wadah dokumentasi berbagai kegiatan KKN-T TIM 124 seperti Car Free Day (CFD), Pelatihan, Deklarasi, dan aktivitas lapangan lainnya yang berfokus pada upaya pencegahan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). Pemanfaatan platform digital ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pesan kesehatan secara efektif dan menarik, khususnya bagi kalangan muda yang akrab dengan media sosial.
Dengan menggabungkan edukasi lapangan dan pendekatan digital, mahasiswa KKN UNDIP membuktikan bahwa isu kesehatan masyarakat bisa dibangun dari hal sederhana seperti garam beryodium, selama disuarakan dengan cara yang tepat.









