JATENGKU.COM, Batang – Siapa sangka sampah rumah tangga yang selama ini dibakar begitu saja ternyata bisa menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat? Itulah yang coba dibuktikan oleh Kalya Iffah Aqilah, mahasiswi S1 Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan di Desa Manggis, Kabupaten Batang.
Tergabung dalam Tim 1 KKN Undip Kelompok 69, Kalya menjalankan dua program multidisiplin yang saling berkesinambungan pada 1 Februari 2026 di Balai Desa Manggis. Program pertama berfokus pada “Optimalisasi Pengelolaan Sampah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat”, sementara program kedua mengangkat tema “Penguatan Kapasitas Organisasi Desa sebagai Upaya Mewujudkan Desa Mandiri”.
Program pertama berfokus pada optimalisasi pengelolaan sampah rumah tangga berbasis pemberdayaan masyarakat. Dalam kegiatan ini, Kalya melakukan pengumpulan data volume dan jenis sampah rumah tangga, yang kemudian diolah secara mendalam untuk menghasilkan analisis potensi nilai ekonomi dari sampah yang dihasilkan warga.
Dalam penyuluhan yang dihadiri warga dan perangkat desa, Kalya memaparkan hasil analisis potensi ekonomi sampah rumah tangga yang telah dilakukan. “Hasil analisis menunjukkan bahwa sampah rumah tangga tidak hanya sebagai limbah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat,” ungkap Kalya.
Peserta diberikan pemahaman komprehensif tentang data riil volume sampah, jenis sampah, hingga estimasi potensi pendapatan yang bisa dihasilkan. Materi dipahami dengan baik oleh peserta karena didukung oleh data riil terkait kondisi sampah di desa mereka sendiri.
“Masyarakat sangat antusias mengetahui bahwa sampah rumah tangga mereka sebenarnya bisa menghasilkan ekonomi. Ini membuka perspektif baru bagi mereka,” ujarnya.
Namun, potensi ekonomi dari sampah tidak akan maksimal tanpa adanya wadah organisasi yang mengelolanya. Karena itu, program kedua yang dijalankan fokus pada penguatan kapasitas organisasi desa dalam pengelolaan dan pengembangan UMKM berbasis potensi lokal, khususnya UMKM yang bersumber dari hasil olahan sampah.
“Kegiatan ini sangat penting karena organisasi desa memiliki peran strategis dalam mengembangkan potensi ekonomi masyarakat. Pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi ini perlu dikelola secara terstruktur melalui lembaga seperti BUMDes atau unit pengelola sampah desa,” jelas Kalya.
Kegiatan penyuluhan berhasil berjalan dengan baik dan peserta menunjukkan pemahaman yang sangat baik mengenai dasar pengelolaan UMKM, manajemen usaha, serta pentingnya peran organisasi desa sebagai penggerak ekonomi lokal.

Kedua program ini terbukti sangat menunjang pembangunan desa ke depannya, memberikan fondasi kuat bagi Desa Manggis untuk berkembang menjadi desa mandiri melalui transformasi sampah menjadi produk UMKM bernilai ekonomi.
Meski kedua program berhasil dilaksanakan dengan baik, masih ada tantangan seperti kebiasaan membakar sampah dan belum aktifnya BUMDes sebagai pengelola UMKM. Namun, antusiasme masyarakat dan pemahaman yang baik menunjukkan potensi besar untuk keberlanjutan program.
“Kami sangat optimis dengan pendampingan yang tepat, Desa Manggis bisa menjadi desa mandiri yang sejahtera. Kedua program ini telah memberikan landasan kuat untuk transformasi ekonomi desa. Sampah yang selama ini jadi masalah, kini bisa diolah menjadi produk UMKM dan menjadi solusi ekonomi bagi masyarakat,” pungkas Kalya.
Program ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi berbasis data dan kolaborasi antara akademisi dengan masyarakat dapat membuka peluang besar menuju desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan.








