
KLATEN – Akurasi data berbasis keruangan (spasial) menjadi instrumen krusial dalam menentukan arah kebijakan pembangunan dan perlindungan masyarakat desa. Menyadari hal tersebut, Anggita Kusumastuti Handayani, mahasiswa program studi Perencanaan Tata Ruang dan Pertanahan dari KKN Reguler Tim 1 Universitas Diponegoro (Undip), menginisiasi program digitalisasi infrastruktur desa melalui penyusunan Peta Titik Persampahan di Desa Ngandong, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten.
Program ini dirancang untuk mengubah data lapangan yang kompleks menjadi informasi visual yang intuitif, guna mendukung efektivitas monitoring kebersihan lingkungan serta kesiapsiagaan bencana bagi perangkat desa dan masyarakat setempat.
1. Peta Komik Persampahan: Memotret Realita Kebersihan Desa
Masalah penumpukan sampah liar seringkali sulit diatasi karena lokasinya yang tersembunyi. Melalui pendekatan “Peta Komik”, Anggita memadukan peta administratif dengan dokumentasi foto riil di lapangan.
- Identifikasi Titik Kritis: Peta ini memvisualisasikan sebaran titik pembuangan sampah liar secara spesifik, terutama yang berada di sepanjang bantaran sungai Desa Ngandong.
- Transparansi Visual: Dengan adanya lampiran foto kondisi riil pada setiap titik koordinat, pemerintah desa dapat langsung mengidentifikasi tingkat keparahan tumpukan sampah untuk menentukan prioritas pembersihan.
- Optimalisasi TPS 3R: Selain titik sampah liar, peta ini juga memplot lokasi strategis TPS 3R sebagai pusat pengelolaan sampah desa yang terintegrasi.
2. Peta Kebencanaan: Instrumen Mitigasi dan Perlindungan
Berdasarkan analisis geografis, Desa Ngandong memiliki karakteristik kerentanan alam yang beragam. Peta Daerah Rawan Bencana yang disusun mencakup tiga aspek mitigasi utama:
- Zonasi Rawan Kekeringan: Mengidentifikasi wilayah luas (ditandai dengan arsir biru) yang memiliki risiko tinggi kekurangan air bersih saat musim kemarau panjang.
- Peringatan Dini Tanah Longsor: Memetakan area lereng dan perbatasan (ditandai dengan warna merah dan kuning) yang memiliki potensi pergerakan tanah, sebagai acuan kewaspadaan bagi warga di pemukiman sekitarnya.
- Jalur Evakuasi: Peta ini menyediakan landasan bagi perangkat desa dalam menentukan arah evakuasi yang paling aman dan efisien menuju titik kumpul jika terjadi keadaan darurat.
Langkah Strategis dan Penyerahan
Penyusunan peta ini dilaksanakan secara sistematis melalui fase observasi lapangan pada Januari 2026, yang dilanjutkan dengan proses digitalisasi data menggunakan perangkat lunak pemetaan presisi. Seluruh hasil rancangan telah diserahkan secara resmi kepada pihak Balai Desa Ngandong pada awal Februari 2026.
Dukungan Perangkat Desa
Sekretaris Desa Ngandong memberikan apresiasi tinggi terhadap hasil karya mahasiswa KKN Undip ini. “Adanya visualisasi foto riil pada peta sampah sangat membantu kami untuk melakukan pemantauan berkala tanpa harus menyisir seluruh sungai secara manual. Begitu pula dengan peta bencana yang menjadi rujukan baru kami dalam perencanaan pembangunan infrastruktur yang lebih aman,” ungkapnya.
Dengan adanya dua peta strategis ini, Desa Ngandong kini memiliki landasan data yang kuat untuk mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan tangguh terhadap tantangan bencana alam di masa depan.











